Ini hanya salah satu bagian dari episode kehidupanku. Setiap orang juga memiliki episode kehidupannya masing-masing yang jauh lebih luar biasa. Tapi sesungguhnya, bukankah yang membuat sebuah momen itu luar biasa tidak sekedar dilihat dari besarnya momen itu? Akan tetapi dilihat dari bagaimana kita memaknainya, seberapa besar pelajaran yang bisa dipetik dari momen itu. Suatu momen besar akan menjadi kecil ketika tak mampu memberikan pelajaran-pelajaran bagi seseorang. 

Ya, ini adalah sedikit ceritaku saat pertama kali menginjakkan kaki di belahan bumi Asia Barat Daya, di salah satu negara Arab yang terletak di pesisir tenggara Jazirah Arab, Kesultanan Oman. Ketika itu, Almarhum Sultan Qaboos masih menjabat sebagai Raja sebelum meninggal dan digantikan oleh Haitham bin Tariq Al Said sejak  11 Januari 2020. Aku sempat bercerita dengan supir taxi tentang Sultan Qaboos yang sedang berobat keluar negeri waktu itu. Aku disana sekitar lima hari di awal bulan Desember 2019, sebelum virus Corona di Wuhan pertama kali diidentifikasi

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang negara Timur Tengah yang berbatasan dengan Uni Emirat Arab ini. Sedikit mengutip dari Wikipedia, Oman adalah sebuah negara monarki mutlak yang mana Sultan menjalankan kewenangan paripurna meskipun parlemen tetap memiliki beberapa kekuasaan legisltaif dan pengawasan. Di tahun 2010, UNDP menyatakan bahwa Oman merupakan negara yang paling mengalami perbaikan dalam 40 tahun terakhir diantara 135 negara di dunia. Memang, kesan pertama yang terlintas dalam benakku dan akan selalu terkenang tentang negara ini adalah tenang, damai, bersih, klasik, eksotik dengan gaya khas Timur Tengah yang memadukan modernitas dan gaya lama, serta menghargai keberagaman. Nilai mata uangnya (Real Oman) cukup tinggi jika ditukar dengan mata uang Indonesia, bahkan dollar Amerika.

Menurut indeks-indeks internasional, Oman adalah salah satu negara yang paling maju dan stabil di Dunia Arab. Mungkin ini pula yang mendasari WHO menunjuk Oman sebagai lokasi penyelanggaraan WHO Global Meeting to Accelerate Progress on SDG target 3.4 on Noncommunicable Diseases (NCD) and Mental Health pada 9 sampai 12 Desember 2019 di Muscat, ibu kota Oman. Selain itu, mereka memang memiliki track record yang baik dalam upaya memerangi NCD, sesuai dengan tema pertemuan.

Apa itu WHO Global Meeting? Pertemuan ini bertujuan untuk mempercepat implementasi respon nasional dalam rangka mengatasi NCD dan kondisi kesehatan mental, dengan maksud mengurangi kematian dini dan meningkatkan intervensi untuk mencapai target Sustainable Development Goal (SDG) 3.4 pada tahun 2030. Pertemuan tersebut berfokus pada saling berbagi cerita sukses dan tantangan dari berbagai negara-negara dalam menjalankan program NCD dan kesehatan mental.

Aku tak pernah betul-betul menyangka akan mampu terlibat dalam forum internasional yang melibatkan berbagai negara dari seluruh dunia. Apalagi acara ini diselenggarakan oleh salah satu badan PBB, yaitu WHO. Orang-orangnya sangat beragam, mulai dari akademisi hingga praktisi. Ada dari pihak pemerintah misalnya kementrian dan kepala organisasi atau badan tertentu, ada yang berasal dari organisasi PBB lainnya seperti UNICEF, lalu ada aktor-aktor non-pemerintah, misalnya dari NGO tertentu serta dosen dan peneliti. Sesinya pun beragam, mulai dari sesi-sesi paralel, pleno, hingga workshop. Selain sesi indoor ada juga sesi outdoor, yaitu senam dan jalan kaki mengelilingi area stadion Oman; pembukaan dan dinner oleh Pemerintah Kerajaan Oman; serta kunjungan situs pusat kesehatan dan rehabilitasi. Sayangnya aku tidak bisa ikut ke pusat rehabilitasi karena tak mendapatkan undangan. Hanya beberapa orang saja yang dianggap prioritas yang diberikan undangan. Sebagai gantinya, aku mengunjungi sebuah kota tua Oman, dimana pelabuhan dan Mutrah Souq, sebuah pasar tradisional tertua di Oman, terletak. Keindahan sebagian negara Oman terlihat dalam perjalanan menuju ke pasar tersebut.

Apa peranku di sana? Karena pertemuan ini melibatkan berbagai elemen stakeholder penyelenggara melibatkan generasi muda sebagai salah satu elemennya. Mereka mengundang pemuda-pemudi dari berbagai wilayah di dunia dengan berbagai pekerjaan seperti ketua NGO, praktisi kesehatan, peneliti di bidang kesehatan dan termasuk mahasiswa. Kami bisa mengikuti semua sesi yang ingin kami ikuti, kecuali kunjungan ke pusat rehabilitasi tadi karena memang dibatasi. Bahkan ada sesi Yoga tiap pagi di tepi kolam yang berada di pinggiran pantai dekat hotel, dipandu oleh seorang instruktur dari India. Harapannya kami bisa belajar dari para expert dan membangun jaringan; yang akan mendukung aktivitas kami di negara masing-masing, yang akan ikut mempercepat pencapaian SDG poin 3.4. Beberapa di antara kami juga diberikan peran seperti menjadi pembicara pada sesi paralel dan sesi pleno untuk membagikan pengalaman di bidangnya masing-masing. Ada juga yang menjadi Youth Rapporteur (atau bisa disebut notulen) pada sesi tertentu, dan aku menjadi salah satu notulen pada sesi paralel yang diberi nama WHO Global mental health initiative. Kelihatannya kami memang dipilih sesuai dengan fokus kegiatan dan minat kami.

Bagaimana aku bisa menjadi salah satu dari delegasi pemuda itu? Selain menjadi bagian dari takdir, mungkin saja mereka melihat fokus kegiatan para delegasi ini yang dianggap dapat mendukung pencapaian SDG poin 3.4 tersebut. Dalam sebuah sesi bersama delegasi pemuda lainnya, kami diberi tahu bahwa kami, yang berjumlah sekitar 30 orang, dipilih dari sekitar 550 aplikasi yang masuk dengan melihat aktivitas kami di negara masing-masing serta pertimbangan keterwakilan wilayah geografis. Ada dua orang degelasi dari Indonesia, termasuk aku. Satunya lagi adalah founder dari bully.id yang bekerja di Kuala Lumpur. Dia juga adalah Youth Internet Governance Forum Ambassador for Indonesia. Keren sekali! Tentunya, saya sempat merasa minder pada awalnya karena berada diantara delegasi pemuda yang umumnya adalah profesional muda (seperti dokter, peneliti, ketua NGO). Ada pun yang merupakan mahasiswa ternyata sudah merupakan mahasiswa Ph.D. Dengan status mahasiswa S2 dan Bahasa Inggris pas-pasan, tentu saja ada rasa minder. Belum lagi aku diperhadapkan dengan berbagai macam bahasa, kalaupun berbahas Inggris, dialeknya bervariasi. Perasaan ini membuat aku menantang efikasi diriku.

Meskipun begitu, keterlibatanku dalam forum ini adalah bagian dari salah satu mimpi yang terbesit dalam benakku ketika aku belajar psikologi perdamaian. Aku berharap kelak akan berada di suatu forum internasional yang diadakan oleh badan PBB untuk membahas isu global. Berselang tiga bulan kemudian, aku betul-betul berada di forum WHO yang membahas mengenai kesehatan. Padahal, boleh dikata aku tidak mengharapkan banyak dari aplikasi yang aku masukkan. Aku hanya mengandalkan keaktifanku pada sebuah komunitas kesehatan mental di Indonesia untuk menjawab pertanyaan dalam form aplikasi. Ini adalah sebuah kesempatan yang tidak aku lewatkan. Selain fully-funded, tentu saja pengalamannya sangat kaya. Ini adalah pertama kali aku melangkahkan kaki ke luar negeri, dan bahkan ke jazirah Arab yang dalam bayanganku hanya akan kuinjak saat aku mungkin menunaikan ibadah Haji ataupun Umrah.

Ada beberapa insight yang bisa aku bagikan dari proses keterlibatanku di sana. Aku sedikit meyakini bahwa aktivitas-aktivitas yang aku ikuti menjadi suatu pertimbangan tersendiribagi penyeleksi. Mereka melihat CV dan ijazah serta link sosial media. Aku tak berniat untuk aktif dalam suatu kegiatan atau organisasi tertentu untuk memperkaya CV. Motif itu bahkan muncul pada daftar kesekian. Ketika aku menyukai, passionate dan merasa bisa berkontribusi di suatu kegiatan (sesuai kemampuan dan keahlian), aku akan terlibat dan meniatkan untuk memberi atau berbagi serta belajar. Ketika kamu betul-betul melakukan sesuatu dengan niat yang tulus dan menghargai proses, maka hasil yang tak pernah kamu duga akan datang di depanmu. Kadang kita jenuh untuk berbuat kebaikan-kebaikan karena kita merasa apa yang kita perbuat tak berdampak banyak. Kita perlu menjauhkan pikiran bahwa apa yang kita lakukan adalah sia-sia. Kebaikan kita menjadi energi positif yang menyatu dengan semesta, setidaknya membuat dunia ini menjadi tempat yang baik bagi orang tertentu. Aku juga kembali menyadari bahwa sebagai bagian dari masyarakat global, kita tidak bisa memecahkan seluruh masalah yang ada di dunia ini. Yang bisa kita lakukan adalah memulai dengan upaya yang sistematis dan berkelanjutan yang simpel dan dekat dengan kita sesuai dengan minat dan keahlian kita masing-masing. Olehnya itu, dunia ini adalah tempat untuk kolaborasi berbagai pihak dalam membuatnya menjadi tempat yang lebih baik. Dengan konsistensi untuk berusaha dan niat baik, aku bisa berada di bawah langit Oman. Setiap orang pun bisa berada di bawah langit apapun yang mereka inginkan di belahan bumi ini dengan terus mengobarkan semangat berkarya untuk kebaikan.

Penulis : Syurawasti M.