Sudah hampir tiga bulan, khususnya Indonesia, merasakan ketidakpastian dari pandemi global yang sungguh mematikan setiap lini kehidupan, baik fisik maupun sosial bermasyarakat. Keadaan ini menyebabkan ‘kemacetan’ kehidupan terjadi dalam skala yang cukup besar. Sebagai masyarakat sipil, kita dituntut untuk tetap di rumah tanpa kepastian kapan situasi ini akan kembali menjadi normal. Konon, virus ini tidak pandang bulu, baik dari kelas atas maupun strata sosial bawah. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa virus ini dapat mengakibatkan distribusi resiko yang berbeda tergantung anda berada pada kelas sosial yang seperti apa ?

            Bagi masyarakat dengan pekerjaan yang mapan dan kondisi ekonomi yang stabil bahkan jika tetap di rumah, mereka memaknai kondisi ini sebagai gerakan kembali ke keluarga. Kesibukan keseharian yang biasanya membuat mereka lupa untuk berinteraksi dengan keluarga sudah berganti menjadi ‘bekerja dari rumah’. Berkat pandemi ini, interaksi dengan keluarga menjadi lebih eksklusif. Suasana ini berhasil menciptakan ruang-ruang afeksi yang terenggut oleh masifnya aktivitas keseharian yang dilakukan diluar ranah keluarga. Tentu ini merupakan hal yang sangat menggembirakan, pasalnya, masyarakat yang ada di kelas ini mengakumulasi kebutuhan pokok dalam jumlah banyak agar tidak terlalu sering keluar rumah. Dalam keadaan bosan karena di rumah saja, mereka melakukan aktivitas seperti belajar memasak dan bercocok tanam. Menurut Veblen, masyarakat Leisure Class merupakan aktivitas yang dilakukan dalam memenuhi kepuasan individu setelah rehat dalam mengumpulkan keuntungan dan modal. Tidak lain tujuannya juga untuk melanggengkan hierarki sosial serta sebagai pembeda terhadap kelas lainnya.

            Dimensi kehidupan sosial yang lain malah sangat berbanding terbalik dengan kelas sosial ini. Masyarakat kelas bawah tergagap-gagap. Mereka menghadapi situasi covid-19 dengan distribusi resiko yang jauh lebih besar. Hidup dalam kondisi subsistensi dan bertahan dari hari ke hari mematikan penghidupan masyarakat bawah. Banyak yang tidak memiliki pilihan untuk tetap di rumah sehingga bertahan tetap berselancar di atas risiko terkena penularan virus covid-19. Matinya perekonomian dalam skala besar menyebabkan banyaknya karyawan di PHK, pedagang kehilangan pelanggan, dan distribusi ekonomi menjadi timpang. Orangtua tetap harus memikirkan pendidikan anaknya di rumah sembari memikirkan kebutuhan pokok yang semakin langka, harga melambung naik, kebutuhan pokok menjadi bertambah dengan harus menyetok masker dirumah. Baru-baru ini juga bantuan social pemerintah untuk masyarakat miskin tidak merata. Banyak yang tidak tepat sasaran, munculnya ‘orang titipan’, dan segala polemik birokrasi menjadi batu besar yang harus dihadang oleh masyarakat yang ada pada kelas ini. Disaat banyak masyarakat kelas atas yang menyibukkan waktu untuk menghilangkan jenuh, disisi lain ada banyak masyarakat yang sulit untuk sekedar memikirkan apa yang akan dimakan keesokan harinya. Ironi ini menyadarkan kita bahwa walaupun covid-19 bisa menyerang siapa saja, namun distribusi resikonya tetap tidak merata.

Era Masyarakat Risiko

            Menurut Ulrich Beck, kita sekarang sedang memasuki era modernitas akhir yang lebih banyak berisi ketidakpastian yang sulit untuk diprediksi. Kehidupan modernisasi yang pada awalnya menjanjikan kemudahan dalam merencanakan masa depan, malah ternyata hanyalah mitos yang justru mendiskreditkan masyarakat yang tidak memiliki modal untuk berselancar dalam kehidupannya. Munculnya gejala alam seperti wabah ini menjadi salah satu konsekuensi besar yang harus dihadapi pada masa modernitas akhir atau zaman posmodernisme bahwa masyarakat kelas bawah cenderung mendapat resiko yang lebih besar dalam mempertahankan kehidupannya. Inovasi teknologi dan pengetahuan yang dikabarkan semakin mapan malah menjadi bumerang bagi masyarakat rentan. Kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat kelas bawah dalam menghadapi resiko gejala alam juga berdampak kepada resiko sosial lainnya yang mungkin tidak dirasakan oleh masyarakat kelas atas.

            Berbagai cerita keresahan masyarakat dalam menghadapi covid-19 muncul dalam berbagai polemik. Distribusi resiko yang tidak merata disebabkan karena masyarakat tidak memiliki modal yang cukup untuk menghadapi ketidakpastian yang ada di depan mata. Kelas bawah tidak dapat menjalani kehidupan leisure class dengan belajar memasak dan bercocok tanam sebagai penghiburan semata. Sebaliknya, mereka berupaya banting tulang bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Apalagi kelas bawah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat yang bekerja pada sektor informal, sektor yang sangat rentan terhadap guncangan ekonomi. Sayangnya, masyarakat kelas ini sering diperalat untuk menjadi alat politik, akumulasi keuntungan pada jenis kelas baru seperti konten kreator YouTube untuk mendapatkan adsense dengan memuat tayangan prank dan obyektivasi masyarakat kelas bawah dalam hal lain.

            Era posmodernisme yang kita alami pada hari ini merupakan suatu realitas risiko yang harus mampu dihadapi. Meskipun begitu, mengharapkan pemerintah tidaklah menjadi sebuah pilihan yang tepat. Butuh adanya solidaritas sosial dalam menjamin pemerataan upaya melawan risiko tersebut dengan meningkatkan kesadaran dari berbagai pihak. Adanya covid-19 diharapkan mampu menjadi sebuah pelajaran besar bagi bangsa dan negara untuk lebih serius dalam memprioritaskan masyarakat rentan, tidak hanya sekedar alat stabilitas politik semata.

Penulis :
Indah Sari Rahmaini
Mahasiswa Magister Sosiologi UGM