Nusantara sangatlah kaya. Dengan bentangan alamnya, ribuan pulau terhampar indah diliputi kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Sebuah negara kepulauan yang mempesona nan menawan hati. Nusantara itu tidak lain dan tidak bukan adalah Indonesia. Indonesia dianugerahi oleh Tuhan dengan aneka rupa jenis tumbuhan. Dari bermacam tumbuhan itu, manusia bisa memenuhi kebutuhannya terkait pangan, sandang, maupun papan. Sungguh, tumbuhan adalah sumber kehidupan yang tak tergantikan. Manusia pun selalu membutuhkan kehadirannya.

            Dari sekian banyak tumbuhan yang ada di nusantara, jenitri adalah salah satu yang sering mencuri perhatian terkait dengan identitasnya yang unik. Jenitri, dalam tinjauan botani, adalah anggota dari marga Elaeocarpus dengan nama jenis adalah Elaeocarpus ganitrus. Meskipun Ealeocarpus ganitrus merupakan nama yang sah, ternyata jenitri juga memiliki nama sinonim yaitu: Elaeocarpus sphaericus dan Elaeocarpus serratus. Jenitri sendiri termasuk dalam suku Elaeocarpaceae, salah satu suku tumbuhan khas kawasan Malesia. Jenitri (Elaeocarpus ganitrus) merupakan tumbuhan asli Indonesia. Indonesia adalah salah satu wilayah sebaran alaminya, selain India, Bangladesh, Nepal, dan Myanmar.

            Berbicara terkait keberadaan jenitri di Indonesia, masyarakat seyogianya pernah menjumpai dan mengenalnya. Jenitri sangat mudah dikenali dari perawakannya yang berupa pohon, bukan herba, ataupun perdu. Jenitri memiliki batang utama yang jelas, cabang, dan juga ranting. Pohon dewasa mampu mencapai tinggi 25-30 m. Batangnya berwarna cokelat dengan permukaan yang kasar. Percabangannya mendatar sampai agak menurun. Daunnya bertipe tunggal, tepinya bergerigi, ujungnya meruncing, dan pangkalnya runcing. Bunganya bertipe majemuk yang tersusun dalam malai. Bunganya sangat unik karena memiliki ujung mahkota yang meyerupai rumbai. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 0,5-2 cm dan berwarna biru cerah. Warna biru cerah ini menjadi ciri khas yang sangat unik. Bijinya keras, berbentuk bulat, dan memiliki pola permukaan yang kasar, berlekuk-lekuk menjorok ke dalam dengan lima garis bujur yang jelas. Bijinya sering disebut rudraksha.

            Jenitri secara alami dijumpai tumbuh bersama jenis-jenis tumbuhan lainnya dalam suatu vegetasi. Jenitri menyukai tempat yang cukup teduh akibat dari naungan pohon-pohon lainnya dan juga lembab. Jenitri bukanlah jenis tumbuhan pioneer yang memulai terjadinya suatu vegetasi. Jenitri tumbuh pada tempat dengan ketinggian 100-1.500 m dpl, pada tanah yang subur sampai moderat.

            Selain keunikan ciri-ciri fisik, pohon jenitri juga memiliki banyak sekali manfaat. Sejak sepuluh tahun yang lalu, berbagai hal terkait jenitri mulai dilirik oleh para peneliti di seluruh belahan bumi. Sampai sekarang pun, banyak hal masih terus diteliti lebih lanjut. Utamanya, penelitian-penelitian untuk mengungkap berbagai manfaat yang terkandung, baik pada kulit batang, daun, buah, maupun bijinya. Berbagai fakta hasil penelitian berhasil dihimpun dari berbagai sumber ilmiah dan disajikan secara ringkas sebagai berikut:

  1. Lumatan buah dengan dosis 100 mg/Kg dapat digunakan sebagai obat analgesik (Almeida dkk, 2001). Nain dkk (2012) meneliti lebih lanjut dengan pendekatan metode yang berbeda menemukan konsentrasi efektif (sebagai analgesik) ekstrak daun dengan metanol sebesar 200 mg/Kg.
  2. Ekstrak dari buah jenitri dapat meringankan depresi (Dadhich, 2011).
  3. Ekstrak dari daun jenitri menunjukkan aktivitas antioksidan yang baik (mengandung clotrimazole, etamiphylline, 2′-O-Methylcytidine, aspidocarpine dan leupeptin) (Kumar dkk, 2008; Das dkk, 2017). Aktivitas anti penuaan (antiaging) dilaporkan oleh Tilak dkk (2017).
  4. Ekstrak biji Jenitri dapat digunakan untuk obat anti malaria dan anti kanker (Gholse dkk, 2017).
  5. Rangkaian biji-biji jenitri dalam bentuk kalung atau gelang yang dikenakan ternyata memancarkan gelombang elektromagnetik, paramagnetik, dan bahan-bahan induktif yang dapat berfungsi sebagai anti hipoglikemik, anti ulsirogenik, dan anti mikroba (Gupta dkk, 2016). Aktivitas anti mikroba diungkap lebih mendalam oleh Kumar dkk (2011). Pandey dkk (2016) menemukan fakta dari hasil penelitian bahwa ekstrak daun jenitri signifikan dan efektif membunuh beberapa mikroba dari golongan bakteri dan jamur.
  6. Ekstrak jenitri dapat digunakan sebagai penurun tekanan darah (Hardainiyan dkk, 2015). Aktivitas anti hipertensi ini mulai dikenali oleh Sakat dkk (2009) dalam penelitiannya.
  7. Ekstrak biji dengan air menghasilkan manfaat sebagai obat antidiabetes (Hule dkk, 2011). Tripathi (2014) melanjutkan pengembangan anti diabetes atau anti hiperglikemia ini dengan hasil ditemukan 16 senyawa aktif. Secara uji faramsi, ekstrak biji jenitri ini setara obat anti diabetes glybenclamide.
  8. Ekstrak biji dengan etanol dapat menyembuhkan aterosklerosis pada hewan coba (tikus) yang menderita kolesterol tinggi (Jain dkk, 2017).
  9. Jenitri dilaporkan memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai obat untuk gejala asma dan gangguan pernafasan (Singh dkk, 2000; Joshi dkk, 2014).
  10. Ekstrak batang dengan kloroform menunjukkan hasil yang signifikan sebagai agen anti peradangan pada konsentrasi 500 ug/ml (Lakshmi dkk, 2016).
  11. Ekstrak daun, kulit batang, dan buah jenitri dipercaya dapat menjadi obat liver. Selain itu, menurut ilmu pengobatan tradisional masyarakat India, berbagai pola garis pada cangkang biji memiliki fungsi pengobatan dan terapi yang berbeda-beda (Pankaj dkk, 2017; Tilak dkk, 2017).
  12. Penelitian melaporkan bahwa jenitri ini juga dapat menjadi obat migrain. Selain itu, telah diketemukan senyawa utamanya berupa elaeocarpidine, elaeocarpine, epielaeocarpiline, isoelaeocarpine, alloelaeocarpiline, rudrakine, gallic acid, ellagic acid, dan linoleic acid (Pant dkk, 2013).
  13. Berdasarkan penelitian Peiris (2007), ekstrak jenitri juga dapat mengobati diare dan disentri.
  14. Secara mitologi dan spiritual, jenitri dipercaya mempunyai daya menyeimbangkan sistem tubuh, melancarkan peredaran darah, dan bahkan mampu meningkatkan konsentrasi dan daya kerja otak melalui gelombang elektromagnetik yang dihasilkan (Rashmi dkk, 2014; Tripathy dkk, 2016).
  15. Pada pertanaman agroforestri hutan rakyat, kayu jenitri ternyata juga dimanfaatkan masyarakat untuk kayu gergajian untuk bahan bangunan (Siarudin dan Widiyatno, 2013).

Dengan uraian tersebut, jenitri diharapkan semakin banyak diperhatikan oleh khalayak ramai negeri ini. Apalagi, jenitri merupakan kekayaan khas Indonesia yang sudah diberikan oleh Tuhan. Sudah saatnya di zaman modern ini, kita tidak hanya berbicara hal yang terlalu berfokus pada pengungkapan ragam makhluk hidup dan usaha mengenalinya. Namun, hal yang lebih penting adalah bagaimana usaha-usaha yang serius untuk terus menggali manfaat yang ada (AN).

Penulis :

Andi Nugroho, S2 Ilmu Kehutanan UGM, Pemerhati Tumbuhan

Koordinator Fakultas Kehutanan, Kelurahan LPDP UGM 2020