Kamen Rider ZiO merupakan serial kamen rider pertama yang saya tonton hingga habis ketika awal pandemi COVID-19 melanda Indonesia dan menemani saya kala itu. Serial ini mengisahkan perjalanan Tokiwa Sougo, seorang murid kelas 3 SMA Hikari Mori yang ingin menjadi raja.

Idealisme dan Semangat Anak Muda

“Aku ingin menjadi raja”. Begitu ungkapan khas dari Tokiwa Sougo sang kamen rider ZiO. Sougo merupakan siswa SMA biasa yang memiliki cita-cita menjadi raja. Cita-cita tersebut dia miliki sejak masa kanak-kanak. Tentu saja gambaran raja yang dimaksudkan adalah raja yang baik hati dan melindungi rakyatnya.

Keyakinan itu mulai goyah saat Sougo bertemu dengan orang-orang dari masa depan, Geiz dan Tsukoyomi, yang mengatakan bahwa di masa depan, Sougo akan menjadi raja iblis yang kejam dan membunuh banyak orang. Di satu sisi, dia ditawari oleh Woz untuk menerima kekuatan ZiO yang kelak bisa menjadikannya raja iblis yang jahat dan kejam, namun di sisi lain ada monster Another Rider yang muncul dan menyerang orang-orang dan hanya bisa dikalahkan dengan kekuatan ZiO. Berawal dari situ, petualangan Tokiwa Sougo sebagai kamen rider ZiO dimulai. Sougo memutuskan untuk menjadi raja iblis yang baik hati.

Awal-awal episode serial ini menunjukkan idealisme Sougo banyak diragukan oleh teman dan pakdenya. Bahkan, Geiz sering berusaha menghalangi Sougo untuk mencapai hari penobatan raja iblis itu.

Menurut KBBI, idealisme merupakan usaha untuk hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Sougo menganggap kekuatan yang dia miliki membuatnya menjadi raja iblis terbaik yang baik hati berbeda dengan anggapan Geiz yang sudah merasakan perjuangan melawan Ohma ZiO di tahun 2068. Saya menyadari terkadang antara realita dan idealisme yang kita pegang sangatlah berbeda jauh. Karakter Tokiwa Sougo yang terkesan santai dan agak culun membuat orang-orang di sekelilingnya meragukannya. Sougo mewakili kaum muda yang berusaha meyakinkan lingkungannya bahwa kekhawatiran mereka tidak akan terjadi. Setiap anak muda adalah pemilik masa depan yang akan meraihnya dengan cara mereka sendiri. Namun, terlalu keras kepala juga bukan pilihan terbaik mempertahankan idealisme. Memang, menggapai cita-cita perlu usaha yang tekun, namun ketekunan dan keras kepala merupakan dua hal yang berbeda. Ketekunan masih memiliki kerendahan hati untuk mau belajar dari banyak sumber, dari pengalaman, nasihat, atau saran dari orang lain misalnya. Sifat keras kepala justru membuat Seseorang berjuang sendirian. Seseorang mungkin percaya jalannya menuju cita-cita, namun tidak ada salahnya mendengarkan saran orang lain sebagai pertimbangan. Alih-alih keras kepala dan menyerang balik Geiz, Sougo memilih untuk menjadikan Geiz dan Tsukoyomi sebagai teman berpetualangnya.

Belajar dari Senior

Mayoritas plot dari serial Kamen Rider era Heisei yang terakhir ini menceritakan perjalanan Sougo bertemu rider sebelum Sougo, untuk mengambil kekuatan mereka. Kekuatan rider tersebut digunakan untuk menghadapi Another Rider yang harus dikalahkan Sougo. Secara sederhana, mengalahkan rider lain dengan rider aslinya. Konsep cerita seperti ini bukan untuk pertama kalinya dibuat oleh TOEI. Jauh di tahun 2009, ada Kamen Rider Decade yang bisa mengunjungi dunia rider lain.

Ada perbedaan menarik terkait dua rider yang bisa bertemu dengan rider lain ini. Pada serial Kamen Rider Decade, para senior sempat merasa terganggu karena Kadoya Tsukasa (Kamen Rider Decade) diramalkan akan menghancurkan dunia mereka. Apalagi dengan pembawaan Tsukasa yang sedikit angkuh membuat rider lain menolak kehadirannya. Berbeda dengan Tsukasa, pembawaan Sougo yang ceria dan sopan, membuat rider lain lebih sukarela memberikan kekuatannya, meskipun mereka mengetahui bahwa Sougo kelak menjadi raja iblis yang jahat dan kejam.

Seperti pada bagian sebelumnya dikatakan bahwa sifat keras kepala tidak dianjurkan untuk menggapai impian, Sougo mengajarkan kita untuk mau rendah hati untuk belajar pada siapapun. Sadar bahwa senior hadir membawa pengalamannya masing-masing, tidak ada salahnya untuk mengambil setiap ilmu yang mereka miliki dan kita kembangkan sesuai perkembangan jaman kita. Bahkan, pengalaman buruk, kesalahan, dan penyesalan yang dimiliki senior bisa menjadi bahan belajar. Belajar untuk tidak menghadapi kesalahan yang serupa. Seperti saat Sougo bertemu Shinji Kido sang Kamen Rider Ryuki, Sougo mendapati dirinya dan Kido memiliki sisi negatif dalam dirinya. Sisi negatif tersebut merupakan bagian dari diri yang tidak bisa dipisahkan melainkan mampu diterima dan diperbaiki. Bisa jadi kita adalah orang yang gigih, tidak mudah menyerah, namun sering kali memperlakukan orang lain agak kasar dan keras. Sekali lagi, orang melihat Anda dari apa yang Anda lakukan terhadapnya dan Anda tidak bisa menyembuhkan luka perasaannya.

Masih Ada Banyak Jalan

Singkat cerita, kesembilan belas kekuatan rider lain ada di tangan Sougo. Namun, kekuatan Sougo tidak dapat mengimbangi Ohma ZiO karena salah satu riderwatch yang dimilikinya merupakan hasil curian Geiz pada Ohma ZiO. Saat Sougo hendak diserang Ohma ZiO, Woz membawa Sougo kembali pulang ke tahun 2019 lagi.

Saat kembali ke tahun 2019, Sougo menyadari bahwa realitas yang dihadapinya berbeda. Ada raja iblis baru yang memiliki kekuatan seluruh Another Rider yang membuatnya harus mengalahkan raja ‘saingannya’ tersebut. Di realitas ini, Geiz kembali menjadi sosok yang membenci Sougo.

Memang terasa menyenangkan jika setapak demi setapak langkah menuju impian itu terlewati dengan baik. Namun perlu diingat, tidak ada hal instan yang dapat diandalkan di dunia nyata. Perhatikan setiap detil rencana yang akan kita laksanakan. Jika perlu, pikirkan dua kali sebelum menerima “kebaikan” orang lain. Bukan berarti segala sesuatu harus benar-benar kita kerjakan sendiri, namun jika bantuan teman tersebut datang dari hal yang tidak halal, maka bukan hal yang tidak mungkin, tindakan tersebut kelak membuat kita celaka. Seperti investor yang hendak melakukan investasi, wajib memeriksa legalitas dan keamanan jenis investasi yang akan dilakukan, jangan sampai terlibat dalam investasi ilegal.

Bagikan Kebahagiaan Anda

Di akhir cerita, Sougo dan kawan-kawan berupaya mengalahkan seluruh monster yang pernah dihadapi Kamen Rider sebelumnya. Geiz dan Tsukoyomi harus gugur di tangan Swartz, pimpinan Time Jacker sebagai musuh ZiO, sementara ZiO yang berubah menjadi Grand ZiO berhasil mengalahkan beberapa final boss terkuat dan Swartz itu sendiri.

Adegan ini memiliki makna terdalam tentang apa yang akan dilakukan ketika semua impian sudah dicapai. Jika kita berhasil meraih gelar dan ilmu yang kita inginkan, apa yang langkah selanjutnya? Dalam kejuaraan olahraga apapun, tidak ada atlet yang merayakan kemenangannya sendirian. Atlet bulutangkis tunggal putra atau putri saja mendatangi pelatihnya untuk sekadar berpelukan atas gelar yang diraih. Ketika impian kita sudah diraih, cobalah untuk membagi kebahagiaan tersebut. Jika berupa ilmu, terapkan ilmu tersebut di lingkungan hidup Anda. Sougo memang telah mencapai kekuatan terkuatnya. Namun, dia memilih untuk melepas kekuatan tersebut untuk kembali menjadi pelajar biasa dan berteman dengan Geiz dan Tsukuyomi. Seandainya kekuatan itu tidak digunakan untuk menulis ulang sejarah, mungkin takdir raja iblis yang jahat itu akan terjadi dan kekuatan tersebut tidaklah berguna. Jadi, siapkah Anda menggunakan ilmu Anda untuk menebar kebaikan?

Sumber:

https://kamenrider.fandom.com/wiki/Kamen_Rider_Zi-O

https://kamenrider.fandom.com/wiki/Sougo_Tokiwa

https://kbbi.web.id/idealisme

Penulis: Stanislaus J. Pinasthika, asli Jember. Magister Ilmu Komputer 2020