Menanam Ilmu, Menumbuhkan Harapan: Catatan Pengabdian dari Kalurahan Nglindur tentang Benih Kemandirian yang Tumbuh dari Tanah, Tangan, dan Ketulusan Masyarakat
“Ilmu pengetahuan yang tidak dibagikan hanyalah seperti benih yang disimpan tanpa pernah ditanam — tidak akan pernah tumbuh menjadi manfaat.”
Kalimat itu terus terngiang dalam benak saya setiap kali berbicara tentang makna pengabdian. Bagi saya, pengabdian bukan sekadar aktivitas formal atau kewajiban akademik, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab moral seorang insan terdidik untuk menyalurkan ilmu pengetahuannya agar memberi dampak bagi masyarakat luas.
Perjalanan saya keKalurahan Nglindur, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul,menjadi salah satu pengalaman paling bermakna dalam perjalanan akademik saya. Sebagai bagian dari kegiatan Awardee Merakyat LPDP Universitas Gadjah Mada, saya berperan sebagai narasumber utama dalam penyampaian materi Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai langkah preventif dan promotif dalam menjaga kesehatan, sekaligus sebagai peluang ekonomi berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini dilaksanakan di balai dusun yang sederhana namun penuh semangat. Pagi itu, sekitar 25 anggota masyarakat terutama ibu-ibu PKK dan pemuda desa hadir dengan antusias. Saya memulai sesi dengan menjelaskan konsep dasar TOGA, mencakup identifikasi jenis tanaman obat yang umum di lingkungan sekitar, teknik budidaya, hingga cara pemanfaatan yang sederhana namun higienis.
Saya menjelaskan bahwa pemanfaatan tanaman seperti jahe merah, jahe putih, kunyit, dan kencur memiliki potensi ganda: sebagai sumber pengobatan tradisional sekaligus produk bernilai ekonomi. Dengan pendekatan ilmiah yang disederhanakan, saya berupaya agar materi mudah dipahami dan dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
Respon warga sangat positif. Mereka aktif bertanya, berbagi pengalaman, dan mencatat dengan penuh perhatian. Salah seorang peserta dengan penuh rasa ingin tahu mengangkat tangan dan bertanya, “Mas Mukhlis, kalau sedang sariawan, apakah bisa diobati dengan tanaman obat keluarga?”

Pertanyaan itu membuat suasana semakin hidup. Saya tersenyum dan menjawab, “Tentu bisa, Bu. Salah satu tanaman yang ampuh untuk mengatasi sariawan adalah kunyit, karena mengandung senyawa antibakteri dan antiradang alami yang mampu membantu penyembuhan luka di mulut”. Saya kemudian menjelaskan cara penggunaannya secara sederhana. Untuk kunyit, bisa digunakan dengan cara memarut rimpang yang masih segar, kemudian air perasannya dioleskan tipis-tipis pada bagian yang terkena sariawan.
%20-%20Mukhlis%20Ibrahim.jpeg)
Warga tampak antusias mencatat penjelasan tersebut. Beberapa bahkan saling berbagi pengalaman, ada yang sudah pernah menggunakan ramuan daun sirih untuk sakit gigi atau gusi bengkak. Suasana menjadi hangat dan akrab.
Diskusi itu mencerminkan adanya pertukaran pengetahuan dua arah masyarakat berbagi pengalaman empiris mereka, sementara saya menambahkan penjelasan ilmiah tentang kandungan dan cara kerja senyawa aktif dalam tanaman obat. Dari percakapan sederhana itu, saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan akan selalu hidup ketika bersentuhan langsung dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Usai penyampaian teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung penanaman TOGA di pekarangan balai dusun. Saya memimpin sesi ini dengan menunjukkan langkah-langkah teknis: mulai dari pemilihan bibit unggul, pembuatan media tanam, hingga pengaturan jarak tanam agar tanaman dapat tumbuh optimal dan pada saat penjelasan langsung dilakukan di dalam polybag.

Momen tersebut menjadi simbol kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Masyarakat tidak hanya menanam tanaman obat, tetapi juga menanam harapan — harapan akan kehidupan yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya.
Harapan besar kini mulai tumbuh bersama tanah Kalurahan Nglindur. Kegiatan pengabdian yang baru saja dilaksanakan meninggalkan jejak yang tidak hanya terlihat pada tanah yang gembur, tetapi juga pada semangat masyarakat yang mulai bersemi. Saat saya berdiri di halaman balai dusun usai kegiatan, pandangan saya tertuju pada deretan polybag berisi bibit jahe, kunyit, dan serai yang baru saja ditanam. Walau masih kecil dan rapuh, di sanalah tertanam harapan besar akan kemandirian, kesehatan, dan masa depan yang lebih hijau bagi penduduk kalurahan.
Pemandangan itu terasa sederhana, namun sarat makna. Tanah yang semula kering kini mulai dihuni oleh bibit kehidupan. Warga tampak tersenyum melihat hasil kerja mereka sendiri. Beberapa ibu PKK bahkan berencana untuk melanjutkan penanaman di pekarangan rumah masing-masing. “Biar halaman rumah jadi apotek hidup, Mas,” ujar salah satu ibu dengan antusias. Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan tumbuhnya kesadaran baru bahwa kesehatan dan kemandirian bisa dimulai dari tanah di depan rumah sendiri.
Sebagai narasumber utama dalam kegiatan ini, saya merasa terpanggil bukan hanya untuk menyampaikan teori, tetapi juga untuk menanam keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil. Melihat warga bersama-sama menanam bibit TOGA, saya menyadari bahwa kegiatan ini bukan sekadar program, melainkan titik awal dari perjalanan panjang menuju kemandirian masyarakat berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa transfer pengetahuan tidak berhenti pada ruang kelas atau sesi pelatihan. Ia justru mulai hidup ketika diterapkan di tanah, di tangan-tangan masyarakat, dan di hati mereka yang ingin berubah. Ilmu pengetahuan yang dibagikan dengan ketulusan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh dan memberi manfaat.
Saya merasa bangga sekaligus terharu menjadi bagian dari langkah awal perubahan ini. Nglindur bukan sekadar tempat kami mengabdi, tetapi menjadi ruang pembelajaran bersama — tempat di mana ilmu bertemu kehidupan, dan pengabdian menjelma menjadi inspirasi.
Ketika matahari mulai tenggelam, saya menatap deretan bibit yang baru ditanam itu. Dalam hati saya berkata,
“Mungkin hari ini baru sekadar menanam, tetapi kelak, dari tanah ini akan tumbuh kemandirian dan harapan yang tak ternilai.”
Dan di situlah saya memahami esensi sejati dari pengabdian: bukan tentang seberapa besar hasil yang sudah terlihat, tetapi tentang seberapa kuat keyakinan untuk terus menumbuhkannya.
Tulisan oleh:
%20-%20Mukhlis%20Ibrahim.jpeg)
Mukhlis Ibrahim
Doktor Ilmu Pertanian
Persiapan Keberangkatan (PK) 225
Angkatan Awardee: 2023 Genap
Reviewer:
Awalia Nur Sakinah
Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada



