Kamen Rider ZiO: Idealisme Anak Muda dan Kekuatan Optimisme

Kamen Rider ZiO: Idealisme Anak Muda dan Kekuatan Optimisme

Kamen Rider ZiO merupakan serial kamen rider pertama yang saya tonton hingga habis ketika awal pandemi COVID-19 melanda Indonesia dan menemani saya kala itu. Serial ini mengisahkan perjalanan Tokiwa Sougo, seorang murid kelas 3 SMA Hikari Mori yang ingin menjadi raja.

Idealisme dan Semangat Anak Muda

“Aku ingin menjadi raja”. Begitu ungkapan khas dari Tokiwa Sougo sang kamen rider ZiO. Sougo merupakan siswa SMA biasa yang memiliki cita-cita menjadi raja. Cita-cita tersebut dia miliki sejak masa kanak-kanak. Tentu saja gambaran raja yang dimaksudkan adalah raja yang baik hati dan melindungi rakyatnya.

Keyakinan itu mulai goyah saat Sougo bertemu dengan orang-orang dari masa depan, Geiz dan Tsukoyomi, yang mengatakan bahwa di masa depan, Sougo akan menjadi raja iblis yang kejam dan membunuh banyak orang. Di satu sisi, dia ditawari oleh Woz untuk menerima kekuatan ZiO yang kelak bisa menjadikannya raja iblis yang jahat dan kejam, namun di sisi lain ada monster Another Rider yang muncul dan menyerang orang-orang dan hanya bisa dikalahkan dengan kekuatan ZiO. Berawal dari situ, petualangan Tokiwa Sougo sebagai kamen rider ZiO dimulai. Sougo memutuskan untuk menjadi raja iblis yang baik hati.

Awal-awal episode serial ini menunjukkan idealisme Sougo banyak diragukan oleh teman dan pakdenya. Bahkan, Geiz sering berusaha menghalangi Sougo untuk mencapai hari penobatan raja iblis itu.

Menurut KBBI, idealisme merupakan usaha untuk hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Sougo menganggap kekuatan yang dia miliki membuatnya menjadi raja iblis terbaik yang baik hati berbeda dengan anggapan Geiz yang sudah merasakan perjuangan melawan Ohma ZiO di tahun 2068. Saya menyadari terkadang antara realita dan idealisme yang kita pegang sangatlah berbeda jauh. Karakter Tokiwa Sougo yang terkesan santai dan agak culun membuat orang-orang di sekelilingnya meragukannya. Sougo mewakili kaum muda yang berusaha meyakinkan lingkungannya bahwa kekhawatiran mereka tidak akan terjadi. Setiap anak muda adalah pemilik masa depan yang akan meraihnya dengan cara mereka sendiri. Namun, terlalu keras kepala juga bukan pilihan terbaik mempertahankan idealisme. Memang, menggapai cita-cita perlu usaha yang tekun, namun ketekunan dan keras kepala merupakan dua hal yang berbeda. Ketekunan masih memiliki kerendahan hati untuk mau belajar dari banyak sumber, dari pengalaman, nasihat, atau saran dari orang lain misalnya. Sifat keras kepala justru membuat Seseorang berjuang sendirian. Seseorang mungkin percaya jalannya menuju cita-cita, namun tidak ada salahnya mendengarkan saran orang lain sebagai pertimbangan. Alih-alih keras kepala dan menyerang balik Geiz, Sougo memilih untuk menjadikan Geiz dan Tsukoyomi sebagai teman berpetualangnya.

Belajar dari Senior

Mayoritas plot dari serial Kamen Rider era Heisei yang terakhir ini menceritakan perjalanan Sougo bertemu rider sebelum Sougo, untuk mengambil kekuatan mereka. Kekuatan rider tersebut digunakan untuk menghadapi Another Rider yang harus dikalahkan Sougo. Secara sederhana, mengalahkan rider lain dengan rider aslinya. Konsep cerita seperti ini bukan untuk pertama kalinya dibuat oleh TOEI. Jauh di tahun 2009, ada Kamen Rider Decade yang bisa mengunjungi dunia rider lain.

Ada perbedaan menarik terkait dua rider yang bisa bertemu dengan rider lain ini. Pada serial Kamen Rider Decade, para senior sempat merasa terganggu karena Kadoya Tsukasa (Kamen Rider Decade) diramalkan akan menghancurkan dunia mereka. Apalagi dengan pembawaan Tsukasa yang sedikit angkuh membuat rider lain menolak kehadirannya. Berbeda dengan Tsukasa, pembawaan Sougo yang ceria dan sopan, membuat rider lain lebih sukarela memberikan kekuatannya, meskipun mereka mengetahui bahwa Sougo kelak menjadi raja iblis yang jahat dan kejam.

Seperti pada bagian sebelumnya dikatakan bahwa sifat keras kepala tidak dianjurkan untuk menggapai impian, Sougo mengajarkan kita untuk mau rendah hati untuk belajar pada siapapun. Sadar bahwa senior hadir membawa pengalamannya masing-masing, tidak ada salahnya untuk mengambil setiap ilmu yang mereka miliki dan kita kembangkan sesuai perkembangan jaman kita. Bahkan, pengalaman buruk, kesalahan, dan penyesalan yang dimiliki senior bisa menjadi bahan belajar. Belajar untuk tidak menghadapi kesalahan yang serupa. Seperti saat Sougo bertemu Shinji Kido sang Kamen Rider Ryuki, Sougo mendapati dirinya dan Kido memiliki sisi negatif dalam dirinya. Sisi negatif tersebut merupakan bagian dari diri yang tidak bisa dipisahkan melainkan mampu diterima dan diperbaiki. Bisa jadi kita adalah orang yang gigih, tidak mudah menyerah, namun sering kali memperlakukan orang lain agak kasar dan keras. Sekali lagi, orang melihat Anda dari apa yang Anda lakukan terhadapnya dan Anda tidak bisa menyembuhkan luka perasaannya.

Masih Ada Banyak Jalan

Singkat cerita, kesembilan belas kekuatan rider lain ada di tangan Sougo. Namun, kekuatan Sougo tidak dapat mengimbangi Ohma ZiO karena salah satu riderwatch yang dimilikinya merupakan hasil curian Geiz pada Ohma ZiO. Saat Sougo hendak diserang Ohma ZiO, Woz membawa Sougo kembali pulang ke tahun 2019 lagi.

Saat kembali ke tahun 2019, Sougo menyadari bahwa realitas yang dihadapinya berbeda. Ada raja iblis baru yang memiliki kekuatan seluruh Another Rider yang membuatnya harus mengalahkan raja ‘saingannya’ tersebut. Di realitas ini, Geiz kembali menjadi sosok yang membenci Sougo.

Memang terasa menyenangkan jika setapak demi setapak langkah menuju impian itu terlewati dengan baik. Namun perlu diingat, tidak ada hal instan yang dapat diandalkan di dunia nyata. Perhatikan setiap detil rencana yang akan kita laksanakan. Jika perlu, pikirkan dua kali sebelum menerima “kebaikan” orang lain. Bukan berarti segala sesuatu harus benar-benar kita kerjakan sendiri, namun jika bantuan teman tersebut datang dari hal yang tidak halal, maka bukan hal yang tidak mungkin, tindakan tersebut kelak membuat kita celaka. Seperti investor yang hendak melakukan investasi, wajib memeriksa legalitas dan keamanan jenis investasi yang akan dilakukan, jangan sampai terlibat dalam investasi ilegal.

Bagikan Kebahagiaan Anda

Di akhir cerita, Sougo dan kawan-kawan berupaya mengalahkan seluruh monster yang pernah dihadapi Kamen Rider sebelumnya. Geiz dan Tsukoyomi harus gugur di tangan Swartz, pimpinan Time Jacker sebagai musuh ZiO, sementara ZiO yang berubah menjadi Grand ZiO berhasil mengalahkan beberapa final boss terkuat dan Swartz itu sendiri.

Adegan ini memiliki makna terdalam tentang apa yang akan dilakukan ketika semua impian sudah dicapai. Jika kita berhasil meraih gelar dan ilmu yang kita inginkan, apa yang langkah selanjutnya? Dalam kejuaraan olahraga apapun, tidak ada atlet yang merayakan kemenangannya sendirian. Atlet bulutangkis tunggal putra atau putri saja mendatangi pelatihnya untuk sekadar berpelukan atas gelar yang diraih. Ketika impian kita sudah diraih, cobalah untuk membagi kebahagiaan tersebut. Jika berupa ilmu, terapkan ilmu tersebut di lingkungan hidup Anda. Sougo memang telah mencapai kekuatan terkuatnya. Namun, dia memilih untuk melepas kekuatan tersebut untuk kembali menjadi pelajar biasa dan berteman dengan Geiz dan Tsukuyomi. Seandainya kekuatan itu tidak digunakan untuk menulis ulang sejarah, mungkin takdir raja iblis yang jahat itu akan terjadi dan kekuatan tersebut tidaklah berguna. Jadi, siapkah Anda menggunakan ilmu Anda untuk menebar kebaikan?

Sumber:

https://kamenrider.fandom.com/wiki/Kamen_Rider_Zi-O

https://kamenrider.fandom.com/wiki/Sougo_Tokiwa

https://kbbi.web.id/idealisme

Penulis: Stanislaus J. Pinasthika, asli Jember. Magister Ilmu Komputer 2020

Negosiasi dalam Diplomasi Indonesia: Capaian dan Tantangan

Negosiasi dalam Diplomasi Indonesia: Capaian dan Tantangan

Christer Jönsson dan Martin Hall dalam bukunya bertajuk “Essence of Diplomacy” mengatakan bahwa negosiasi merupakan instrumen kunci bagi diplomasi (Jönsson & Hall, 2005, p. 3). Senada dengan Jönsson dan Hall, Stearns menyampaikan bahwa negosiasi juga umumnya dipandang sebagai inti dan bentuk akhir dari diplomasi (Stearns, 1996, p. 132). Berangkat dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa diplomasi yang selama ini dijalankan oleh Pemerintah Indonesia pun tidak terlepas dari elemen negosiasi. Bahkan dalam pelbagai kesempatan, negosiasi memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan diplomasi Indonesia. Oleh karenanya, sesuai dengan judul di atas, pada tulisan kali ini penulis akan mencoba mengelaborasikan pentingnya negosiasi dalam jantung diplomasi Indonesia. Sebagai bukti pendukung, tulisan ini selanjutnya akan fokus menyingkap bagaimana efektivitas negosiasi menentukan berhasil atau tidaknya diplomasi prioritas 4+1 yang digaungkan oleh Menteri Luar Negeri Retno L. P. Marsudi dewasa ini. Adapun guna mempertajam bahasan, tulisan ini akan membatasi cakupan diplomasi prioritas 4+1 tersebut ke dalam tiga lingkup, yaitu diplomasi ekonomi, diplomasi perlindungan, dan diplomasi kedaulatan dan perbatasan.

Diplomasi Ekonomi

Diplomasi ekonomi merupakan salah satu prioritas yang terus digenjot oleh Pemerintah Indonesia saat ini. Dalam Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI 2020, Bapak Presiden memberikan arahan agar 70 hingga 80 persen sumber daya dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri perlu digunakan untuk mendorong diplomasi ekonomi (Kemenlu, 2020). Presiden menekankan peran para Duta Besar dan diplomat Indonesia di luar negeri menjadi sales untuk menjual produk Indonesia dan menemukan cara-cara kreatif untuk mengaksesi pasar-pasar unggulan (tradisional) dan potensial (non-tradisional). Kementerian Luar Negeri dalam hal ini mendapatkan mandat khusus dari Presiden untuk fokus memperkuat diplomasi ekonomi (Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri, 2020). Dalam praktiknya, negosiasi dalam diplomasi ekonomi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini karena diplomasi ekonomi pada implementasinya syarat dengan negosiasi-negosiasi bisnis baik antara business to business (B to B), business to government (B to G), maupun government to government (G to G). Sebagai contoh, pengiriman 400 gerbong kereta api dari PT INKA ke Bangladesh; pengiriman gerbong kereta api PT INKA dan unit pesawat NC 212i PT DI ke Thailand; pengiriman 4 Diesel Multiple Unit (DMU) dan gerbong kereta api ke Filipina; pengiriman pesawat CN 235 ke Senegal; pengiriman isotop PT Inuki dan pesawat N-219, N-212 dan N-235 ke Meksiko; proyek pembangunan infrastruktur di Niger dan Filipina; investasi PT Telkom di Hongaria; serta pemangunan pabrik mie instan di Serbia (Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri, 2019). Disamping itu, negosiasi juga memerankan peran penting dalam menyukseskan penyelenggaraan Indonesia Africa Infrastructure Dialogue (IAID) yang menghasilkan 11 business deals bagi BUMN/Swasta Indonesia dengan 6 (enam) negara dan 1 (satu) Lembaga senilai USD822 juta (Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia, 2020).

Output Diplomasi Ekonomi (Sumber: Dok Bappenas, 2020)
Kegiatan IAID 2019 (Sumber: https://asiatoday.id/……strategis)

Keberhasilan negosiasi dalam diplomasi ekonomi di atas setidaknya didukung oleh dua faktor. Pertama, persiapan matang sejak perencanaan. Salah satu contoh akurat untuk membuktikan faktor ini adalah kegiatan IAID yang telah direncanakan sedari awal sebagai Proyek Prioritas Nasional (ProPN). Kedua, infrastruktur diplomasi dan potensi dalam negeri (bargaining power). Indonesia memiliki modalitas yang kuat untuk menunjang pelaksanaan negosiasi dalam diplomasi ekonomi. Di luar negeri, Indonesia memiliki 132 perwakilan di luar negeri, 44 atase teknis (terdiri dari 22 atase perdagangan, 4 atase pertanian, 5 atase keuangan, dan 13 atase ketenagakerjaan), 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), 8 Indonesian Investment Promotion Center (IIPC), dan 23 Visit Indonesia Tourism Office (VITO). Dalam hal ini, kehadiran perwakilan RI di luar negeri bermanfaat untuk menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan kepentingan di negara-negara mitra terutama dalam situasi pandemi saat ini (Saiman, 2020). Sementara di dalam negeri, potensi ekonomi Indonesia juga cukup besar seperti memiliki beragam sektor industri berkembang, memiliki banyak destinasi pariwisata yang dapat dipromosikan ke wisatawan mancanegara, dan jumlah pelaku usaha yang dapat diberdayakan untuk mendukung ekspor dan investasi juga sangat banyak.

Infrastuktur Diplomasi Indonesia di Luar Negeri (Sumber 1Dok Bappenas, 2020)
Diplomasi pelindungan WNI/BHI, Penangangan Kasus WNI/BHI di Luar Negeri (Sumber: Lampid, 2020)

Diplomasi perlindungan WNI dan BHI merupakan salah satu prioritas pemerintah sesuai direktif Presiden pada Nawacita Kedua yaitu “Perlindungan bagi Segenap Bangsa dan Memberikan Rasa Aman pada Seluruh Warga” (Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia, 2020). Sepanjang 2019, Kementerian Luar Negeri telah memperkuat kinerja pelindungan dengan menangani 27.033 kasus WNI di luar negeri, menyelamatkan Rp197,71 miliar hak finansial WNI/pekerja migran Indonesia, dan merepatriasi 17.607 orang WNI bermasalah (Laporan Kinerja Kementerian Luar Negeri, 2019, p. 4). Selain itu, Pemerintah Indonesia juga berhasil memulangkan dua WNI/ABK korban penyanderaan kelompok bersenjata di Filipina Selatan setelah disandera selama 90 hari.

Pemulangan ABK Korban Penyanderaan di Filipina (Sumber: 2LKj Kemenlu, 2019)

Keberhasilan diplomasi perlindungan WNI dan BHI tersebut di atas dicapai melalui negosiasi yang intens dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara mitra setempat. Salah satunya melalui mekanisme bilateral terkait perlindungan PWNI dan kerja sama kekonsuleran. Pada tahun 2019, konsultasi Konsuler telah dilakukan dengan beberapa negara mitra, seperti Australia, India, Iran, Uni Eropa, Jepang, dan Korea (Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri, 2020). Walaupun demikian, sebagaimana dirangkum dari pelbagai sumber, upaya negosiasi dalam diplomasi perlindungan WNI/BHI masih terkendala oleh beberapa hal yakni, belum terintegrasinya data WNI/BHI secara menyeluruh (Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia, 2019), meningkatnya jumlah WNI yang melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa melakukan prosedur yang tepat (Laporan Kinerja Kementerian Luar Negeri, 2019), dan kompleksitas permasalahan WNI/BHI (Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia, 2020).

Diplomasi Kedaulatan dan Perbatasan

Batas Darat dan Laut Indonesia1 (Sumber: Cerdika.com)

Secara geografis, Indonesia memiliki batas laut dengan 10 negara tetangga yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, India, Timor Leste, Australia, Republik Palau, dan Papua Nugini. Sementara untuk batas darat, Indonesia mempunyai perbatasan dengan tiga negara yakni Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini. Mengingat strategisnya isu perbatasan, Pemerintah Indonesia tengah gencar meningkatkan intensitas perundingan perbatasan baik untuk batas laut maupun darat dalam rangka menjaga integritas kedaulatan NKRI. Dalam kurun lima tahun terakhir, Pemerintah Indonesia sendiri telah melaksanakan sedikitnya 129 perundingan perbatasan. 

Intensnya diplomasi perbatasan telah membuahkan beberapa capaian yang progresif, seperti menuntaskan perundingan dan mendepositkan perjanjian batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia-Filipina ke PBB, intensifikasi penyelesaian dua Joint Technical Proposals (JTP) Garis Batas Laut segmen Laut Sulawesi dan Selat Malaka bagian Selatan oleh Tim Teknis Penetapan Batas Maritim (PBM) Indonesia-Malaysia, pengerucutan perbedaan proposal batas maritim dan menyepakati penyelesaian proposal teknis bersama oleh Tim Teknis PBM Indonesia-Vietnam, dan penyelesaian tahapan first reading negosiasi ASEAN-China Code of Conduct in the South China Sea (COC) dan pembentukan possible milestone di tahap awal negosiasi second reading (Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia, 2020).

Meskipun capaiannya cukup signifikan, perundingan perbatasan sebenarnya merupakan upaya yang cukup sulit dilakukan mengingat adanya hambatan dan kendala di luar kontrol Pemerintah Indonesia seperti perubahan prioritas, geopolitik, dan pergantian pemerintahan di negara mitra. Bahkan, di tengah pandemi saat ini banyak perundingan perbatasan yang tertunda karena negara-negara cenderung tidak mau untuk bertemu secara virtual dengan alasan teknis dan kerahasiaan. Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Konsul Jenderal Indonesia di New York Bapak Dr. Arifi Saiman yang mengatakan bahwa walaupun para diplomat di tengah pandemi Covid-19 saat ini berupaya untuk mulai membiasakan diri dengan budaya komunikasi secara virtual dalam konteks diplomasi dan negosiasi, pola komunikasi virtual tersebut belum sepenuhnya dapat menggantikan pola komunikasi konvensional melalui tatap muka (Saiman, 2020). Menurutnya, setiap negara masih mempertimbangkan aspek keamanan informasi dan belum dapat menjamin pelaksanaan komunikasi virtual bebas dari penyadapan. 

Penulis: Fahrizal Lazuardi, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional, Awardee LPDP UGM Angkatan 2020

Editor: Muhammad Yuliantito Budiono

[1] Infografis diakses melalui https://cerdika.com/batas-wilayah-negara-indonesia/…..India

Referensi

Jönsson, C., & Hall, M. (2005). Essence of Diplomacy. New York: PALGRAVE MACMILLAN.

K. /. (2020). Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Kemenlu. (2020, Januari Kamis). Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Kepala Perwakilan Republik Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri, 9 Januari 2020, di Istana Negara, DKI Jakarta. Retrieved from Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia: https://kemlu.go.id/portal/id/read/1619/pidato/peresmian-pembukaan-rapat-kerja-kepala-perwakilan-republik-indonesia-dengan-kementerian-luar-negeri-9-januari-2020-di-istana-negara-dki-jakarta

Marsudi, R. L. (2019). Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri. Jakarta: Kementerian Luar Negeri.

Marsudi, R. L. (2020). Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri. Jakarta: Kementerian Luar Negeri.

Nasional, K. P. (2019). Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Negeri, K. L. (2019). Laporan Kinerja Kementerian Luar Negeri. Jakarta: Kementerian Luar Negeri.

Saiman, A. (2020, Oktober Jumat). Kuliah Umum: Tinjauan Kritis Hubungan Internasional di Tengah Pandemi. Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Stearns, M. (1996). Talking to Strangers: Improving American Diplomacy at Home and Abroad. Princeton: NJ: Princeton University Press.

Pesantren Sebagai Basis Pemberdayaan Ekonomi  Masyarakat di Era New Normal

Pesantren Sebagai Basis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Era New Normal

Akhir Agustus lalu, Menteri Keungan RI Sri Mulyani mengatakan bahwa ancaman resesi semakin nyata.  Ia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 akan berada di rentang minus 2% hingga 0% dan sepanjang tahun 2020 ini, berada di kisaran minus 1,1% hingga positif 0,2%. Ancaman resesi ini diakibatkan melemahnya perekonomian Indonesia dan global seturut dengan merebaknya wabah COVID-19 (Detik.com, 2020). Melihat kondisi ini pemerintah telah melakukan berbagai macam cara untuk memulihkan kondisi ekonomi seperti pemberian stimulus kepada para pelaku UMKM, insentif bagi tenaga kerja, dan anjuran untuk membeli dan memproduksi produk lokal. Sebelumnya, untuk tetap menjaga produktivitas masyarakat, pemerintah telah menerapkan sebuah tatanan baru yang disebut new normal. Tatanan itu adalah kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. New normal sendiri merupakan skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi  (Tirto.id, 2020).

Berbicara pemulihan ekonomi di era new normal, keberadaan pesantren layak untuk diperhitungkan. Pesantren sebagai sebuah institusi, memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai basis pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebagai institusi budaya yang lahir dari prakarsa dan iniastif masyarakat, pesantren memiliki corak yang khas. Kekhasan itu terletak pada peran sentral kyai dan kedekatannya dengan masyarakat (Suwito, 2008). Kyai menjadi orientasi model para santi dan masyarakat. Interkasi kyai dengan para santri membentuk identitas prilaku koloktif intrenal psesantren yag kemudian menjadi role model bagi masyarakat. Oleh sebab itu pesantren bisa dikatakan sebagai agen perubahan sosial.

Sementara itu, di satu sisi pesantren sering dianggap sebagai kalangan terpinggirkan yang lekat dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Kebanyakan pesantren masih memposisikan dirinya hanya sebagai institusi pendidikan keagamaan (Lugina, 2018). Tidak sedikit pesantren yang masih apatis terhadap kemajuan ekonomi karena menganggapnya hanya suatu yang bersifat duniawi. Ironisnya banyak dari pesantren –terutama di pedesaan- yang menggantungkan ekonominya hanya kepada iuran santri, sedekah masyarakat, dan sumbangan dari pihak-pihak tertentu. Tidak jarang sumbangan tersebut berasal dari pejabat atau partai politik tertentu. Kondisi ini menyebabkan pesantren rawan dimobilisasi atau dipolitisasi untuk kepentingan politik elektoral.

Cara pandang beberapa kalangan pesantren bahwa bekerja atau mencari harta adalah urusan duniawi menyebabkan para santri hanya dibekali ilmu agama saja. Mereka tidak dibekali keterampilan yang memadai untuk menghadapi kehidupan pasca-pesantren. Banyak santri yang telah lulus dari pesantren dan kembali ke masyarakat mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang mapan. Mereka akhirnya bekerja serabutan atau menjadi guru agama yang secara tidak langsung bergantung pada sedekah masyarakat.

Selain itu, bertumpunya ekonomi pesantren pada keberadaan santri membuat Pandemi COVID-19 benar-benar berdampak pada prekonomian pesantren dan lingkungan sekitarnya (Kahfi, 2020). Banyak keluarga kyai yang memanfaatkan keberadaan santri untuk meraih keuntungan ekonomi dengan cara berjualan. Ketika wabah merebak dan santri diliburkan, tidak ada lagi yang membeli dagangan mereka. Akibat melemahnya kondisi ekonomi orang tua santri juga berdampak terhadap pemasukan pesantren melalui iuran bulanan.

Melihat kondisi seperti di atas, pengoptimalan pesantren sebagai basis pembedryaan ekonomi masyarakat sangat penting. Setidaknya ada dua alasan mengapa pesantren bisa dijadikan basis pemberdayaan ekonomi masyarakat di era new normal. Pertama, secara sosiologis, pesantren memiliki keunggulan dan kedekatan strategis untuk memberdayakan masyarakat. Ikatan keagamaan serta kharisma kyai dalam sebuah masyarakat merupakan faktor signifikan yang bisa menempatkan pesantren sebagai motor penggerak pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi.

Kedua, pesantren memiliki sumber daya yang melimpah baik aset maupun sumber daya manusia. Dalam hal ketersediaan aset, pesantren biasanya memiliki lahan yang luas dan aset-aset lainnya baik berupa milik kyai atau berupa harta wakaf. Pesantren sendiri memiliki sumberdaya mansuia yang cukup banyak yaitu santri, tinggal bagaimana pesantren mengelolanya.

Ketiga, Agama memiliki faktor yang kuat untuk menggerakan dalam kehidupan ekonomi. Hal ini sudah dibuktikan oleh para ahli seperti Kenneth Boulding dan Max Weber (Nadzir, 2015). Menurut Boulding, pengaruh agama protestan mempunyai dampak terhadap kehidupan ekonomi dan sejarah. Agama turut mempengaruhi pengambilan keputusan mengenai jenis komoditi yang diproduksi, terbentuknya kelembagaan ekonomi dan tentu juga praktek-praktek atau perilaku ekonomi. Hal ini diperkuat oleh temuan Weber, bahwa hahwa agama, dalam hal ini etik protestanisme, turut memberi saham terhadap perkembangan kapitalisme dan revolusi industri. Islam sendiri memasukan aktivitas ekonomi ke dalam muammalah (urusan duniawi/ hubungan antar manusia). Islam sebenarnya menekankan pada keseimbangan orientasi ukhrawi (urusan akhirat) dan urusan duniawi. Harta adalah bekal beribadah menuju kehidupan yang kekal di akhirat (Nadzir, 2015). Syiar agama-pun membutuhkan harta. Itulah sebabnya ada ungkapan yang berbunyi “beramallah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok, bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya”. Bahkan ada hadist yang berbunyi “Kada al faqru an yakuuna kufron”, kefakiran atau kemiskinan mendekatkan pada kekufuran (Suwito, 2008). Islam sendiri sudah mengatur segala seuatu yang berkaitan dengan ekonomi dalam fiqh muammalah. Dari sinilah kemudian muncul istilah ekonomi syariah. Yaitu sistem ekonomi yang berdasar pada hukum Islam. Sebagai lembaga keagamaan, pesantren sudah sepantasnya terdepan dalam pengembangan ekonomi syariah.

Untuk mengoptimalkan potensi pesantren sebagai basis pemberdayaan ekonomi umat, setidaknya ada dua sektor yang bisa dikembangkan. Pertama, usaha di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Sebagaimana disinggung di atas, kebanyakan pesentren memiliki aset lahan yang luas yang bisa berupa harta wakaf atau aset milik kyai itu sendiri. Lahan-lahan itu bisa dikembangkan menjadi pertanian, peternakan, atau perikanan. Untuk menjalankan usaha ini pesantren bisa memberdayakan santri dan masyarakat sekitar. Dengan adanya usaha-usaha tersebut, kebutuhan konsumsi pangan di lingkungan pesantren dan sekitarnya akan tercukupi. Selain itu, usaha-usaha ini bisa membantu ekonomi santri dan masyarakat. Sebab santri yang bekerja pasti akan mendapat bayaran, dan masyarakat bisa menjadi mitra sebagai agen penjualan hasil produksinya sehingga ada penghasilan tambahan bagi masyarakat. Program seperti sudah berjalan di Jawa Barat yang dukung oleh pemerintah provinsi dengan nama OPOP (one pesantren one product).Sehingga pesantren-pesantren memiliki produk-produk unggulan sesuai dengan karakteristik dan kekhasan daerah setempat.

Kedua, sebagai lembaga keagamaan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat, pesantren sangat ideal untuk mengembangkan ekonomi syariah. Salah satu yang bisa dikembangkan di pesantren  adalah koperasi syariah atau Baitul Mal wa Tamwil (BMT). Fungsi BMT sebagi tamwil yang berperan sebagai penghimpun dan pengelola dana bisa menghimpun dana dari santri, ustaz, kyai, dan masyarakat serta bisa memberikan produk pembiayaan berupa pinjaman kepada mereka dengan skema sesuai prinsip syariah. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat yang sulit mengakses perbankan terhadap rentenir atau bank keliling yang biasanya alaih-laih menolong malah memberatkan masyarakat dengan memasang suku bunga yang sanat tinggi. Selain itu fungsi BMT sebagi baitul mal bisa menghimpun dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang bisa dikelola dan disalurkan ke pihak-pihak yang berhak. Dengan demikian perputaran uang di lingkungan pesantren dan sekitarnya akan semakin baik dan prekonomian akan semakin meningkat.

Dengan optimalisasi pemberdayaan ekonomi measyarakat berbasis pesantren di tengah pandemi COVID 19 dan new normal, ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya akan tetap kuat. Hal ini akan semakin menguatkan peran pesantren sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia dalam proses pembangunan bangsa. Lebih dari itu, hal ini sesuai tujuan Sustanable Development Goals (SDGs) 2030 yang diantaranya “mengakhiri kemiskinan dalam bentuk apapun dan dimanapun” serta “mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian yang berkelanjutan”. Pemberdayaan ekonomi pesantren memang merupakan upaya pembangunan yang berkelanjutan, sebab pesantren akan selamanya ada dan hadir di tengah masyarakat. Pesantren sebagai institusi budaya memiliki legitimasi yang kuatdalam mendorong perubahan sosial, yaitu legitimasi keagamaan. Dengan legitimasi tersebut pesantren sangat potensial untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di segala bidang, yang salah satunya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Anggraeni, Rina. (2020). Ancaman Resesi Makin Nyata, Sri Mulyani: Pemulihan Ekonomi Kita Sangat Rapuh. Sindonews.com. 15 September 2020.

Kahfi, Shofiyullahul & Ria Kasanova. (2020). Manajemen Pondok Pesantren di Masa Pandemi COVID-19 (Studi Pondok Pesantren Mambaul Ulum Kedungadem Bojonegoro). Jurnal “Pendekar” Vol 3 No. 1 April 2020.

Lugina, Ugin. (2018). Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren di Jawa Barat. Jurnal Risalah Vol. 4, No. 1, March 2018.

Nadzir, Mohammad. (2015). Membangun Pemberdayaan Ekonomi di Pesantren. Jurnal “Economica” Vol. VI Edisi 1 Mei 2015.

Putsanra, Dipna Videlia. (2020). Arti New Normal Indonesia: Tatanan Baru Beradaptasi dengan COVID-19. Tirto.id. 15 September 2020.

Suwito, NS. (2017). Model Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Vol. 6 No. 3 Juli-September 2008.

Syakur, A. (2009). Optimalisasi Peran Pesantren Dalam Pengembangan Ekonomi Syari’ah. IQTISHODUNA, 4(3).

(Juara Harapan 1 Lomba Esai Nasional Jurnal Paradigma UGM 2020)

Penulis:

Gun Gun Gunawan, Mahasiswa Magister Center for Religious & Cross-cultural Studies Sekolah Pascasarjana UGM

Fisikawan Modern, Ilmuwan Yang Mengkaji Alam Gaib

Fisikawan Modern, Ilmuwan Yang Mengkaji Alam Gaib

Kalau boleh kita berpikir spekulatif, maka bisa dikatakan ilmuwan Fisika telah mengkaji alam gaib melalui alam kuantum. Walaupun ini belum sepenuhnya benar tetapi setidaknya sifat – sifatnya mendekati. Dimulai dari fisika klasik yang tidak bisa menjelaskan fenomena – fenomena fisika baru yang muncul di ranah mikroskopis. Lahirlah teori fisika kuantum.

Kelahiran teori fisika kuantum berawal dari kuliah Umum Max Plank berjudul ‘Zur Theorie Des Gesetzes Der Energieverteilung Im Normalspektrum’ (Teori Hukum Distribusi Energi Dalam Spektrum Normal) dihadapan ilmuwan – ilmuwan jerman. Tepatnya, tanggal 14 desember 1900. Kuliah ini membuka cakrawala awal ilmuwan fisika tentang alam kuantum. Ditambah lagi penemuan efek fotolistrik pada 1905 oleh Einstein. Selanjutnya dikembangkan oleh De Broglie, Heisenberg, Schrodinger, Dirac, Born, dan lain – lain.

Secara Umum, ditemukan tiga fenomena menarik yg tidak ada di alam nyata, eksis di alam kuantum. Pertama, partikel bisa menerobos tembok tanpa merusak temboknya. Kedua, partikel yang sama bisa berada di dua tempat dalam waktu yang sama. Ketiga, tidak ada nilai yang pasti, yang ada hanyalah nilai harap atau harapan.

Di alam gaib atau selain alam dunia. Jin dan malaikat bisa menerobos  tembok/dinding tanpa merusak temboknya. Seperti pada kisah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama di gua hira melalui malaikat jibril. Padahal gua hira’ itu kecil, sekitar 1×2 meter, tetapi malaikat jibril bisa menerobos ke dalam tanpa merusak dinding gua. Dan tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW di gua hira dalam wujud manusia. Itu artinya malaikat pada saat itu berada di alam yang sifatnya mirip dengan alam kuantum.

Kedua, pada saat Rasululloh SAW isra’ dan mi’raj sampai menuju Sidratul muntaha di langit ketujuh. Rasulullah SAW diperlihatkan surga dan neraka. Khususnya di neraka, beliau diperlihatkan manusia – manusia yang disiksa. Padahal, dunia belum kiamat, manusia – manusianya masih dibumi, entah itu masih hidup atau sudah didalam kubur. Hal ini mengindikasikan alam akherat/gaib itu dapat membuat manusia berada dalam dua tempat pada satu waktu. Sifat ini kembali mirip dengan sifat alam kuantum yang ditemukan oleh para fisikawan.

Ketiga tentang nilai harap, ketika kita memanjatkan do’a itu artinya kita sedang berharap kepada yang gaib. Tidak ada kepastian dikabulkan atau tidak, yang ada hanyalah harapan atau nilai harap. Para ulama membuat kiat – kiat bagaimana nilai harap ini semakin besar sehingga berpeluang besar untuk dikabulkan. Dalam hal ini juga, para ilmuwan Fisika melakukan eksperimen dan perhitungan untuk menemukan nilai harap yang paling besar peluangnya di alam kuantum. Di alam gaib maupun alam kuantum tidak ada yang pasti, yang ada hanyalah nilai harap atau harapan. Nilai ini sepeti kita bermain dadu, tidak ada kepastian mengenai angka berapa yang akan keluar pada setiap pelemparan dadu. Kita baru mengetahuinya setelah dadu tersebut dilempar dan menunjukkan angka.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 85 difirmankan,Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”’

Para ilmuwan Fisika modern juga masih sangat sedikit memahami fenomena kuantum. Yang ada hanyalah coba – coba. Ketika seorang fisikawan masyhur, Richard Feymann (1918-1988), ditanya ‘darimana schrodinger mendapatkan solusi dari persamaan Schrodinger?’. Feymann menjawab dengan setengah bercanda, “hanya schodinger yg mengetahui darimana solusi itu berasal,”. Komentar ini terucap karena memang tidak ada cara sistematis untuk mencari solusi persamaan schrodinger kecuali dengan jalan coba – coba sambil berharap akan berhasil. Dan ternyata berhasil . Harapan schrodinger terkabul. Feymann juga mengatakan,” I think I can safely say that nobody understands quantum mechanics (Aku pikir aku bisa sepenuhnya mengatakan tidak ada yang mengerti benar – benar mekanika kuantum).

Ilmuwan – ilmuwan terkemuka abad ke-20 seperti Albert Einstein dan Neils Bohr sampai berdebat hebat tentang alam kuantum.

Einstein meledek Bohr dengan mengatakan, “God does not play a dice with the Universe (tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta).”

Bohr menjawab, “Stop telling God what to do (berhenti memberi tahu Tuhan apa yang harus dilakukan.”

Uniknya, kedua ilmuwan tersebut tidak percaya Tuhan. Tetapi ketika sedang dilanda kebingungan tanpa kepastian, mereka akhirnya membawa – bawa nama Tuhan.

Memang, ditemukannya partikel Higg Boson merupakan kemajuan besar fisika kuantum. Tetapi pengetahuan ini masih sangat sedikit dibandikan misteri yang masih tersimpan. Partikel ini sampai dinamakan partikel sial (God Damn) oleh ilmuwan barat karena penemuannya membutuhkan biaya yang sangat besar. Penamaan partikel ini di plesetkan oleh media di Indonesia dengan menyebutnya sebagai partikel tuhan. Konversi dari Partikel God Damn ke Bahasa Indonesia. Kata Damn dihilangkan, yang tersisa hanya God. Jadilah bernama partikel tuhan, sangat jauh dari konteks aslinya. Mungkin agar lebih menarik minat pembaca. Partikel Higg Boson adalah jawaban dari pertanyaan para saintist abad ke-20 tentang dari mana massa seluruh benda dan makhluk hidup berasal.

Untuk memudahkan para fisikawan memahami alam kuantum, mereka menciptakan ruang Hilbert. Ruang Hilbert ini adalah ruang abstrak (tidak nyata) yang mewakili setiap ruang di alam kuantum. Ruang Hilbert adalah pengembangan dari ruang Euclidan peninggalan Yunani kuno. Sebenarnya Ilmuwan muslim telah lebih dulu mengembangkan teori ruang ini. Al-Khawarismi, ilmuwan muslim abad ke-9 dari Uzbekistan, lebih dulu mengembangkan teori ruang dengan mempelajari buku The Elements karya Euclid. Ibnu Haitham, yang dikenal di Barat dengan nama Al-Hazen, memperkenalkan konsep gerakan dan transformasi ruang yang melahirkan teori ruang non-Eucliden. Namun, sejak pembakaran perpustakaan terbesar di Bagdad oleh Bangsa Mongol pada masa dinasti Abbasiyah tahun 1258 M, banyak naskah – naskah asli hasil karya ilmuwan muslim yang hilang dan terbakar.

Referensi :

Al-Azizi, Abdul Syakur. 2018. Untold Islamic History. Yogyakarta : Laksana.

Rosyid,M.F. 2019. Mekanika Kuantum. Yogyakarta :Universitas Gajah Mada Press.

Van der Warden, B.L. 1967. Sources of Quantum Mechanics. New York : Dover Publications Inc.

Penulis :

Lalu Dalilul Falihin (Mahasiswa Magister Fisika UGM)

Bagaimana Sebaiknya Kita Memandang Hutan?

Bagaimana Sebaiknya Kita Memandang Hutan?

Pada tanggal 12 November 2020, publik cukup dikagetkan dengan hasil investigasi kolaborasi inovatif antara Greenpeace International degan Forensic Architecture. Mereka melaporkan bahwa Korindo, sebuah perusahaan Indonesia-Korea, telah merusak sekitar 57.000 hektar hutan di Papua yang hampir setara dengan luas kota Seoul di Korea Selatan. Menggunakan citra satelit NASA, mereka juga menemukan fakta bahwa Korindo secara sengaja terbukti melakukan deforestasi menggunakan api, atau dengan kata lain membakarnya. Menariknya, ekspansi kebun sawit di bawah naungan Korindo tersebut merenggut hutan adat dari 10 marga di Boven Digoel, Papua (greenpeace.org).

Agama, Adat, dan Hutan

Lalu, apa hubungannya perusakan hutan dengan agama dan adat? Peristiwa di atas menunjukan bahwa ada pelepasan hubungan antara manusia dengan yang non-manusia—human-non-human relation, tentu saja dalam konteks ini adalah hubungan manusia dengan hutan. Seakan, kerusakan apapun yang terjadi dengan hutan tidak akan berimplikasi terhadap eksistensi manusia.

Hutan telah dipersepsikan sebagai entitas yang terpisah dengan manusia. Padahal menurut Michel Picard, masyarakat tradisional Indonesia sejatinya tidak mengenal pemisahan antara human dan non-human (2011, h. 6). Bahkan ia memaparkan bahwa istilah agama secara semiotika salah satu maknanya adalah adat (tradition) (2011, h. 3). Politik agama di Indonesialah yang kemudian memisahkan istilah adat dari agama sampai hari ini. Proses tersebut tidak bisa dilepaskan dari paradigma agama-agama dunia yang mempengaruhi konstruksi agama secara politik di Indonesia.

Secara umum, paradigma agama-agama dunia yang terpengaruh oleh teologi Kristiani dan modernisasi Barat memang tidak bersahabat dengan adat atau agama-agama lokal yang sering dipandang terbelakang, animis, atau pagan. Selain itu, pemahaman Islam tentang apa itu agama juga mempengaruhi proses pembentukan definisi agama di Indonesia, yang pada akhirnya meminggirkan kelompok masyarakat adat.

Melihat Kembali Paradigma Agama-Agama Dunia

Seirama dengan tesis Picard, Samsul Maarif dalam Ammatoan Indigenous Religion and Forest Conservation (2015) menyebut bahwa hutan, tanah, tumbuhan, hewan, dan lainnya adalah bagian dari kosmik yang tidak saja  hidup bersama dengan manusia tapi juga berbagi kehidupan di dalamnya. Ia memandang bahwa hubungan manusia dan non-manusia yang setara sebagai hubungan intersubjektif (intersubjective relationships).

Berangkat dari sana, maka dapat dirangkum bahwa hubungan manusia dan hutan pun adalah setara. Ini berbeda dengan kosmologi dalam paradigma agama-agama dunia yang memandang bahwa hutan, tanah, batu, hewan, sungai, dan lainnya sebagai hubungan subjek-objek—yang artinya manusia sebagai subjek secara dominan dapat memelihara atau mengeksploitasinya.

Oleh karena itu, deforestasi yang terjadi di Papua adalah bagian dari pengaruh paradigma agama-agama dunia yang memandang bahwa manusia berkuasa penuh atas non-human beings (objek). Ini berbeda dengan paradigma agama-agama leluhur yang diamini juga oleh masyarakat adat yang mana memandang bahwa hubungan manusia dengan non-human beings adalah hubungan objek-objek—tidak hirarkis sebagaimana dalam paradigma agama-agama dunia.

Lebih dari itu Maarif menyatakan bahwa dalam pandangan masyarakat adat konservasi hutan adalah aktifitas relijius (2015, h 145). Oleh karena itu, perusakan hutan di Papua dapat disebut sebagai “penistaan agama” karena bagi masyarakat adat hutan tidak sekedar benda mati yang dapat dieksploitasi sakarepmu dewe tapi juga mempunyai hubungan ethical, reciprocal, dan responsible dengan manusia.

Dalam video yang dirilis oleh BBC News Indonesia misalnya, seorang marga pemilik ulayat mengatakan, “saya menangis, saya bertanya di mana roh leluhur saya tinggal kalau hutan kami sudah dibongkar habis?” Ini menegaskan bahwa hutan adalah bagian integral dari relijiusitas sehingga aktifitas-aktifitas seperti menjaga hutan tergolong aktifitas relijius.

(Tulisan ini terbit juga di www.timesindonesia.co.id)

Penulis:

Asep Sandi Ruswanda

Mahasiswa Pascasarjana – The Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM, Yogyakarta

Facebook dan Transaksi Informasi Bernilai Tukar

Facebook dan Transaksi Informasi Bernilai Tukar

Siapakah belahan belahan jiwamu? Seberapa cerdaskah kamu? Siapa selebriti yang sesuai dengan karaktermu? Akan jadi apa kamu beberapa tahun mendatang? Apa status Facebook kamu 10 tahun lagi? Bagi pengguna setia Facebook, tentu pertanyaan-pertanyaan ini tidak lagi asing karena sering muncul di linimasa ketika “berselancar”. Harus diakui beberapa situs pihak ketiga seperti Vonvon.me, Testony.com, NameTests.com, Pengintip.us, Test-IQ.com, dan CheckMyPersonality.com membuat kuis yang dirancang agar memberikan interaksi, lucu serta menarik perhatian. Para pengguna yang sedang bosan, menunggu seseorang atau terjebak macet di jalan tentu secara spontan akan mengklik tautan kuis tersebut. Lalu, tanpa pikir panjang akan langsung menyetujui dan mengklik apapun yang diminta penyedia kuis dan hasil kuisnya pun akan dengan senang hati para pengguna pamerkan di beranda pribadi Facebook. Menyenangkan memang, apalagi dapat diakses secara gratis. Namun, mengutip pemikiran Andrew Lewis, seorang pengembang software, yang mengatakan “Jika kamu mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma, kamu bukanlah konsumen, melainkan produk yang sedang dijual.” Artinya, dibalik klik “iya” dan “setuju” ada perputaran uang disana. Uang atas apa? Atas informasi dan data pengguna (Tirto.id, 2016). Dalam kaca mata ekonomi politik, bagi Fusch (2012) akumulasi modal di Facebook didasarkan pada komodifikasi dan data pengguna. Pengguna dalam konteks ekonomi politik merupakan komoditas prosumer yang dieksploitasi oleh situs jejaring sosial ini.

Berdasarkan laporan Detik.com (2018), pada Januari 2018, jumlah pengguna aktif bulanan di Facebook mencapai 2 miliar per bulan. Total sekitar 300 juta foto di-upload di Facebook setiap harinya. Sementara setiap menit, 510 ribu komentar diposting dan 293 ribu status di-update. Bisa dibilang, jika Facebook adalah negara maka penduduknya terbesar di dunia. Berangkat dari kesuksesan Facebook, Fusch (2012) menilai, perlu adanya pemikiran kritis terhadap praktik ekonomi politik khususnya yang berhubungan dengan privasi pengguna dan bagaimana pengguna dieksploitasi untuk dijual ke pengiklan.

Sebelum membahas lebih jauh bagaimana praktik eksploitasi yang dilakukan Facebook terhadap penggunanya, dibutuhkan pemahan terlebih dahulu terkait privasi informasi secara umum. Menurut Fusch (2012: 140-141), privasi informasi berkaitan erat dengan pertanyaan moral seperti bagaimana informasi tentang manusia harus diproses? Siapa yang harus memiliki akses ke data? Bagaimana akses ini akan diatur? Bagaimana bentuk perlindungannya? Privasi informasi menurut Fusch memiliki dilema tersendiri, disatu sisi dapat melindungi masyarakat namun disisi lain tradisi anonimitas membuat kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin kelihatan sebagai akibat dari perlindungan informasi. Asumsi ini didasarkan pada penelitian Fusch terhadap negara-negara seperti Swiss, Liechtenstein, Monako, atau Austria yang memiliki tradisi anonimitas relatif tinggi terutama yang berkaitan dengan rekening bank dan transaksi keuangan. Anonimitas yang didukung oleh UU Perbankan Federal justru mendukung penggelapan pajak, pencucian uang serta menyembunyikan kesenjangan kekayaan. Anonimitas membuat kesenjangan penghasilan dan kekayaan antara yang kaya dan miskin menjadi tidak terlihat dan peraturan UU membantu melegitimasi serta menjunjung tinggi kesenjangan ini. Bagi Fusch, privasi finansial merupakan mekanisme ideologis yang membantu mereproduksi dan memperdalam ketidaksetaraan.

Lantas bagaimana konsep privasi di Facebook? Apakah menimbulkan kegamangan seperti yang diungkapkan Fusch? Fusch dalam melihat praktik ekonomi politik Facebook, tidak terlepas dari gagasan prosumer yang diperkenalkan Alvin Toffler (1980). Prosumer yang membuat batasan produsen dan konsumen menjadi kabur dimanfaatkan Facebook untuk mengurangi biaya investasi dan biaya tenaga kerja dengan memanfaatkan penggunanya sebagai tenaga kerja gratis bahkan mengekspolitasi pengguna untuk menghasilkan keuntungan dengan bantuan data yang diberikan pengguna secara cuma-cuma.

 Dalam kasus kuis Facebook, pengguna tidak menyadari dibalik lucu dan menariknya berbagai aplikasi yang ditawarkan, mereka membayar itu semua dengan data profil dan jejak digital lain yang ditinggalkan di internet. Eksploitasi ini dapat dilihat dari salah satu penyedia layanan kuis yakni Vonvon.me. Berdasarkan laman privacy policy yang diamati penulis, terdapat poin yang menyatakan “Kami tidak mengungkapkan data apa pun yang terkait dengan pengguna kepada pihak ketiga mana pun.” Namun pada poin-poin selanjutnya dikatakan Vonvon.me dapat menggunakan data pengguna yang berkenaan dengan pihak ketiga dengan sejumlah ketentuan, salah satunya demi kepentingan bisnis situs ini yang menyatakan “Jika kami menjual atau bernegosiasi untuk menjual bisnis kami kepada pembeli atau calon pembeli, kami mungkin membagikan data pribadi Anda. Dalam situasi seperti itu kami akan secara khusus memastikan kerahasiaan data pribadi Anda dan memberi Anda pemberitahuan sebelum mengungkapkan data pribadi Anda, jika itu mungkin dan diperlukan.” “Pemberitahuan” kepada pengguna ini pun akan dilakukan jika ada ketentuan hukum yang berlaku. Jika negara pengguna yang tidak memberlakukan ketentuan hukum ini maka pihak Vonvon.me akan dengan bebas menjual data pengguna tanpa sepengetahuan pengguna serta tidak adanya konsekuensi materil yang didapat pengguna.

Eksploitasi yang dilakukan Facebook dan pihak ketiga seperti Vonvon.me oleh Fusch (2012: 143-144) dalam konteks ekonomi politik, dilihat sebagai akibat dari modal yang telah dikeluarkan oleh industri media siber dengan menyediakan medium dalam pelibatan khalayak. Fusch menjelaskan secara rinci siklus perusahaan media sosial ini yakni, Facebook berinvestasi uang untuk membeli modal berupa teknologi dan tenaga kerja. Modal teknologi diantaranya ruang server, komputer, dan infrastruktur organisasi. Sementara modal tenaga kerja adalah karyawan Facebook. Hasil dari proses produksi bukanlah komoditas yang dijual langsung, melainkan layanan media sosial (platform Facebook) yang tersedia secara gratis bagi pengguna. Selain platform, produk utama dari media sosial ini adala data pengguna yang meliputi data pribadi hingga data terkait transaksi perilaku browsing dan komunikasi di Facebook. Pengguna semakin didominasi Facebook tatkala situs buatan Mark Zuckerberg ini menjual komoditas data pengguna ke pengiklan dengan harga yang jauh lebih besar dibandingkan modal yang telah dikeluarkan atau bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan politik kelompok dominan tertentu.

Lanjut Fusch, peran pengguna sebagai prosumers dimodifikasi ganda oleh Facebook. Pertama, pengguna merupakan “produk” yang dijual Facebook kepada pengiklan atau pihak ketiga yang bekerjasama dengan situs ini. Kedua, ketika pengguna sedang melakukan kegiatan daringnya, disaat bersamaan mereka terpapar oleh iklan yang ditampilkan dilaman Facebook sehingga sebagian besar waktu online pengguna “dipaksa” untuk mengkonsumsi iklan. Komodifikasi ini tidak terlepas dari kaburnya ranah privat dan publik di era digital yang kemudian dimanfaatkan pemodal dalam industri media siber. Di Facebook, perusahaan mengumpulkan semua data pribadi dan perilaku pengguna serta mengkomodifikasi keduanya, sambil menyembunyikan proses ini dari pengguna. Jadi, bentuk utama privasi yang dijaga Facebook adalah memburamkan penggunaan data pengguna demi kepentingan perusahaan.

Usaha mengimbangi dominannya pengaruh Facebook menurut Manyozo (dalam Nurhaqiqi, 2017: 358-359)[1] dibutuhkan tiga pendekatan khusus yakni kekuasaan (power), partisipasi (participation), dan regulasi (policy). Jika kekuasaan dan partisipasi tidak dapat menandingi Facebook maka pendekatan regulasi memiliki peran sentral dalam mengimbangi gerak cepat media siber ini. Namun, dalam konteks Indonesia, Undang-Undang yang ada belum sepenuhnya melindungi kepentingan publik.

Undang-Undang  Informasi dan Transaksi Elektronik No.11 tahun 2008 misalnya, belum memberikan batasan yang jelas dalam melakukan akses informasi pada media sosial. Alih-alih menjamin keamanan data pengguna di jejaring media sosial, UU ITE lebih berfokus pada kejahatan siber yang pada akhirnya menjadi sarana untuk mengkriminalisasikan  kebebasan  beropini  di dunia maya, baik itu media sosial, blog, dan laman online lainnya. Hingga kini di Indonesia belum ada satupun UU yang mampu menandingi dominasi Facebook. Hal ini oleh Nurhaqiqi (2017: 359) dikarenakan pemerintah masih melihat Facebook hanya sebagai media sosial tempat bertukar informasi biasa bukan pada tedensi ekonomi politik yang mampu merekam data penggunanya diseluruh Indonesia dan mendatangkan keuntungan finansial melimpah.

Melihat lemahnya upaya tandingan oleh pemerintah saat ini, menurut Nurhaqiqi (2017: 360) solusi yang paling strategis dan masuk akal adalah penyadaran publik melalui literasi media secara masif kepada pengguna Facebook. Jika tidak bisa menandingi kuasa informasi yang dilakukan oleh Facebook dan tidak bisa lepas dari penggunaan Facebook, Maka hal  yang paling realistis ialah pemanfaatan Facebook semaksimal mungkin untuk memperlancar   kehidupan   sehari-hari. Pendeknya, kalaupun anda bisa menyerah untuk tak mengklik kuis-kuis sepele seperti yang disodorkan Vonvon.me, bisakah Anda hidup tanpa Facebook? Jika Anda menjawab bisa, maka jawablah juga yang satu ini: bisakah Anda hidup tanpa Google yang maha-mengetahui lagi merekam segala jejak pengguna digitalnya?

Daftar Pustaka

Abdullah, dkk. 2017. Mediamorfosa : Transformasi Media Komunikasi di Indonesia. Yogyakarta: Buku Litera Yogyakarta.

Fusch, Christian (2012). The Political Economy of Privacy on Facebook. Television & New Media. 13 (2). 139-159.

https://tirto.id/kuis-facebook-dan-mimpi-buruk-ruang-pribadi-bsRN diakses tanggal 21 Oktober 2018.

https://inet.detik.com/fotoinet/d-4232248/deretan-statistik-menarik-facebook-whatsapp-dan-instagram/4/#photos diakses tanggal 21 Oktober 2018.

https://id.vonvon.me/terms/privacy-policy diakses tanggal 21 Oktober 2018.


[1] Hanna Nurhaqiqi dalam artikel jurnalnya yang berjudul “Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Ekonomi Politik Facebook sebagai Inovasi Teknologi dan Kuasa Politik” yang menjadi salah satu tulisan dalam buku “Mediamorfosa: Transformasi Media Komunikasi di Indonesia”.

penulis :

Merlina Maria Barbara Apul

(Magister Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM)