Pesantren Sebagai Basis Pemberdayaan Ekonomi  Masyarakat di Era New Normal

Pesantren Sebagai Basis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Era New Normal

Akhir Agustus lalu, Menteri Keungan RI Sri Mulyani mengatakan bahwa ancaman resesi semakin nyata.  Ia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 akan berada di rentang minus 2% hingga 0% dan sepanjang tahun 2020 ini, berada di kisaran minus 1,1% hingga positif 0,2%. Ancaman resesi ini diakibatkan melemahnya perekonomian Indonesia dan global seturut dengan merebaknya wabah COVID-19 (Detik.com, 2020). Melihat kondisi ini pemerintah telah melakukan berbagai macam cara untuk memulihkan kondisi ekonomi seperti pemberian stimulus kepada para pelaku UMKM, insentif bagi tenaga kerja, dan anjuran untuk membeli dan memproduksi produk lokal. Sebelumnya, untuk tetap menjaga produktivitas masyarakat, pemerintah telah menerapkan sebuah tatanan baru yang disebut new normal. Tatanan itu adalah kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. New normal sendiri merupakan skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi  (Tirto.id, 2020).

Berbicara pemulihan ekonomi di era new normal, keberadaan pesantren layak untuk diperhitungkan. Pesantren sebagai sebuah institusi, memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai basis pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebagai institusi budaya yang lahir dari prakarsa dan iniastif masyarakat, pesantren memiliki corak yang khas. Kekhasan itu terletak pada peran sentral kyai dan kedekatannya dengan masyarakat (Suwito, 2008). Kyai menjadi orientasi model para santi dan masyarakat. Interkasi kyai dengan para santri membentuk identitas prilaku koloktif intrenal psesantren yag kemudian menjadi role model bagi masyarakat. Oleh sebab itu pesantren bisa dikatakan sebagai agen perubahan sosial.

Sementara itu, di satu sisi pesantren sering dianggap sebagai kalangan terpinggirkan yang lekat dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Kebanyakan pesantren masih memposisikan dirinya hanya sebagai institusi pendidikan keagamaan (Lugina, 2018). Tidak sedikit pesantren yang masih apatis terhadap kemajuan ekonomi karena menganggapnya hanya suatu yang bersifat duniawi. Ironisnya banyak dari pesantren –terutama di pedesaan- yang menggantungkan ekonominya hanya kepada iuran santri, sedekah masyarakat, dan sumbangan dari pihak-pihak tertentu. Tidak jarang sumbangan tersebut berasal dari pejabat atau partai politik tertentu. Kondisi ini menyebabkan pesantren rawan dimobilisasi atau dipolitisasi untuk kepentingan politik elektoral.

Cara pandang beberapa kalangan pesantren bahwa bekerja atau mencari harta adalah urusan duniawi menyebabkan para santri hanya dibekali ilmu agama saja. Mereka tidak dibekali keterampilan yang memadai untuk menghadapi kehidupan pasca-pesantren. Banyak santri yang telah lulus dari pesantren dan kembali ke masyarakat mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang mapan. Mereka akhirnya bekerja serabutan atau menjadi guru agama yang secara tidak langsung bergantung pada sedekah masyarakat.

Selain itu, bertumpunya ekonomi pesantren pada keberadaan santri membuat Pandemi COVID-19 benar-benar berdampak pada prekonomian pesantren dan lingkungan sekitarnya (Kahfi, 2020). Banyak keluarga kyai yang memanfaatkan keberadaan santri untuk meraih keuntungan ekonomi dengan cara berjualan. Ketika wabah merebak dan santri diliburkan, tidak ada lagi yang membeli dagangan mereka. Akibat melemahnya kondisi ekonomi orang tua santri juga berdampak terhadap pemasukan pesantren melalui iuran bulanan.

Melihat kondisi seperti di atas, pengoptimalan pesantren sebagai basis pembedryaan ekonomi masyarakat sangat penting. Setidaknya ada dua alasan mengapa pesantren bisa dijadikan basis pemberdayaan ekonomi masyarakat di era new normal. Pertama, secara sosiologis, pesantren memiliki keunggulan dan kedekatan strategis untuk memberdayakan masyarakat. Ikatan keagamaan serta kharisma kyai dalam sebuah masyarakat merupakan faktor signifikan yang bisa menempatkan pesantren sebagai motor penggerak pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi.

Kedua, pesantren memiliki sumber daya yang melimpah baik aset maupun sumber daya manusia. Dalam hal ketersediaan aset, pesantren biasanya memiliki lahan yang luas dan aset-aset lainnya baik berupa milik kyai atau berupa harta wakaf. Pesantren sendiri memiliki sumberdaya mansuia yang cukup banyak yaitu santri, tinggal bagaimana pesantren mengelolanya.

Ketiga, Agama memiliki faktor yang kuat untuk menggerakan dalam kehidupan ekonomi. Hal ini sudah dibuktikan oleh para ahli seperti Kenneth Boulding dan Max Weber (Nadzir, 2015). Menurut Boulding, pengaruh agama protestan mempunyai dampak terhadap kehidupan ekonomi dan sejarah. Agama turut mempengaruhi pengambilan keputusan mengenai jenis komoditi yang diproduksi, terbentuknya kelembagaan ekonomi dan tentu juga praktek-praktek atau perilaku ekonomi. Hal ini diperkuat oleh temuan Weber, bahwa hahwa agama, dalam hal ini etik protestanisme, turut memberi saham terhadap perkembangan kapitalisme dan revolusi industri. Islam sendiri memasukan aktivitas ekonomi ke dalam muammalah (urusan duniawi/ hubungan antar manusia). Islam sebenarnya menekankan pada keseimbangan orientasi ukhrawi (urusan akhirat) dan urusan duniawi. Harta adalah bekal beribadah menuju kehidupan yang kekal di akhirat (Nadzir, 2015). Syiar agama-pun membutuhkan harta. Itulah sebabnya ada ungkapan yang berbunyi “beramallah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok, bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya”. Bahkan ada hadist yang berbunyi “Kada al faqru an yakuuna kufron”, kefakiran atau kemiskinan mendekatkan pada kekufuran (Suwito, 2008). Islam sendiri sudah mengatur segala seuatu yang berkaitan dengan ekonomi dalam fiqh muammalah. Dari sinilah kemudian muncul istilah ekonomi syariah. Yaitu sistem ekonomi yang berdasar pada hukum Islam. Sebagai lembaga keagamaan, pesantren sudah sepantasnya terdepan dalam pengembangan ekonomi syariah.

Untuk mengoptimalkan potensi pesantren sebagai basis pemberdayaan ekonomi umat, setidaknya ada dua sektor yang bisa dikembangkan. Pertama, usaha di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Sebagaimana disinggung di atas, kebanyakan pesentren memiliki aset lahan yang luas yang bisa berupa harta wakaf atau aset milik kyai itu sendiri. Lahan-lahan itu bisa dikembangkan menjadi pertanian, peternakan, atau perikanan. Untuk menjalankan usaha ini pesantren bisa memberdayakan santri dan masyarakat sekitar. Dengan adanya usaha-usaha tersebut, kebutuhan konsumsi pangan di lingkungan pesantren dan sekitarnya akan tercukupi. Selain itu, usaha-usaha ini bisa membantu ekonomi santri dan masyarakat. Sebab santri yang bekerja pasti akan mendapat bayaran, dan masyarakat bisa menjadi mitra sebagai agen penjualan hasil produksinya sehingga ada penghasilan tambahan bagi masyarakat. Program seperti sudah berjalan di Jawa Barat yang dukung oleh pemerintah provinsi dengan nama OPOP (one pesantren one product).Sehingga pesantren-pesantren memiliki produk-produk unggulan sesuai dengan karakteristik dan kekhasan daerah setempat.

Kedua, sebagai lembaga keagamaan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat, pesantren sangat ideal untuk mengembangkan ekonomi syariah. Salah satu yang bisa dikembangkan di pesantren  adalah koperasi syariah atau Baitul Mal wa Tamwil (BMT). Fungsi BMT sebagi tamwil yang berperan sebagai penghimpun dan pengelola dana bisa menghimpun dana dari santri, ustaz, kyai, dan masyarakat serta bisa memberikan produk pembiayaan berupa pinjaman kepada mereka dengan skema sesuai prinsip syariah. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat yang sulit mengakses perbankan terhadap rentenir atau bank keliling yang biasanya alaih-laih menolong malah memberatkan masyarakat dengan memasang suku bunga yang sanat tinggi. Selain itu fungsi BMT sebagi baitul mal bisa menghimpun dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang bisa dikelola dan disalurkan ke pihak-pihak yang berhak. Dengan demikian perputaran uang di lingkungan pesantren dan sekitarnya akan semakin baik dan prekonomian akan semakin meningkat.

Dengan optimalisasi pemberdayaan ekonomi measyarakat berbasis pesantren di tengah pandemi COVID 19 dan new normal, ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya akan tetap kuat. Hal ini akan semakin menguatkan peran pesantren sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia dalam proses pembangunan bangsa. Lebih dari itu, hal ini sesuai tujuan Sustanable Development Goals (SDGs) 2030 yang diantaranya “mengakhiri kemiskinan dalam bentuk apapun dan dimanapun” serta “mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian yang berkelanjutan”. Pemberdayaan ekonomi pesantren memang merupakan upaya pembangunan yang berkelanjutan, sebab pesantren akan selamanya ada dan hadir di tengah masyarakat. Pesantren sebagai institusi budaya memiliki legitimasi yang kuatdalam mendorong perubahan sosial, yaitu legitimasi keagamaan. Dengan legitimasi tersebut pesantren sangat potensial untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di segala bidang, yang salah satunya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Anggraeni, Rina. (2020). Ancaman Resesi Makin Nyata, Sri Mulyani: Pemulihan Ekonomi Kita Sangat Rapuh. Sindonews.com. 15 September 2020.

Kahfi, Shofiyullahul & Ria Kasanova. (2020). Manajemen Pondok Pesantren di Masa Pandemi COVID-19 (Studi Pondok Pesantren Mambaul Ulum Kedungadem Bojonegoro). Jurnal “Pendekar” Vol 3 No. 1 April 2020.

Lugina, Ugin. (2018). Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren di Jawa Barat. Jurnal Risalah Vol. 4, No. 1, March 2018.

Nadzir, Mohammad. (2015). Membangun Pemberdayaan Ekonomi di Pesantren. Jurnal “Economica” Vol. VI Edisi 1 Mei 2015.

Putsanra, Dipna Videlia. (2020). Arti New Normal Indonesia: Tatanan Baru Beradaptasi dengan COVID-19. Tirto.id. 15 September 2020.

Suwito, NS. (2017). Model Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Vol. 6 No. 3 Juli-September 2008.

Syakur, A. (2009). Optimalisasi Peran Pesantren Dalam Pengembangan Ekonomi Syari’ah. IQTISHODUNA, 4(3).

(Juara Harapan 1 Lomba Esai Nasional Jurnal Paradigma UGM 2020)

Penulis:

Gun Gun Gunawan, Mahasiswa Magister Center for Religious & Cross-cultural Studies Sekolah Pascasarjana UGM

Herd Immunity dan Konsekuensi COVID-19

Herd Immunity dan Konsekuensi COVID-19

Ditulis oleh: Rendi Saputra

Maju mundur saya mau nuliskan ini. Sudah sejak dua hari lalu. Takut disalah artikan. Karena teori dan pilihan skenario ini berat. Nampaknya gak ada pilihan lain.

Kemarin saya gak memproduksi tulisan apa-apa. Diam. Banyak diskusi dengan seorang Mahasiswa Doktoral di Univ Pisa Italia. Diskusi juga dengan sahabat yang lagi nemenin istrinya S3 di Belanda. Bincang juga dengan Dokter yang lagi ambil Sub Spesialis di Kobe Jepang. Simpulannya sama : Herd Immunity.

Sebelum saya menuliskan skenario ini. Saya ijin menyampaikan disclaimer dulu. Saya orang awam. Bukan ahli apa-apa.

Latar belakang pendidikan sempet kuliah engineering. Sempat doank. Jadi tulisan saya boleh dikritik, karena saya bukan virolog, bukan juga dokter klinis, atau expert di bidang corona. Jadi dalam membaca tulisan saya, jangan begitu percaya. Tulisan orang awam. Biasa aja.

Saya menulis ini karena dorongan banyak temen-temen. Saya menyadari punya kemampuan menulis. Maka niatnya membantu orang lain mudah faham. Maka saya menulis, agar kemudian kita memahami jalan keluar dari kabut gelap kedepan.

Bombardir pertanyaannya selalu sama.

Menurut ente kapan Rend ini berakhir?
Vaksin bakalan bener ada atau nggak?
Ini jalan keluarnya kira-kira bagaimana ya?

Dan seterusnya.

Pertanyaan itu yang membuat saya tenggelam dalam berbagai literatur ilmiah. Dalam dan luar negeri. Hingga website resmi corona virus yang berbahasa Italia itu saya coba terjemahkan satu-satu istilahnya di grafik. Capek memang.

Pertanyaan itu pula yang menggiring kepala saya pada satu skenario paling mungkin di Indonesia : Herd Immunity.

*****

Agar kita bisa memahami tentang pilihan sulit ini, ijinkan saya membahas tentang apa yang dilakukan Wuhan, Korsel dan Italia. Versus dengan apa yang dilakukan Iran.

Di Wuhan, Korsel dan Italia, skenario Lockdown terbukti berhasil. Karena memang warganya dan pemerintahnya punya kapasitas.

Warganya punya tabungan untuk hidup kedepan. Warganya teredukasi. Hampir semua connected. Jadi komunikasi keputusan negara mudah.

Beda kayak di negeri ini, masih ada yang belum terjangkau internet. Adapun punya smartphone dan internet, aplikasinya joget. Gak bisa akses info ilmiah.

Pemerintah Cina dan Italia juga punya sumber dana. Ngasih diskon. Ngasih bantuan. Menjaga supply pangan.

Bukan berarti Indonesia gak punya dana. Ada. Tapi gak bisa untuk segini banyak orang.

Source: reqnews.com

Konsep lockdown ini seperti “menghapus file”. Anda seperti pukul nyamuk satu-satu.

Virus ini makhluk yang butuh inang. Butuh reservoir untuk hidup. Butuh agen. Butuh nempel di makhluk hidup agar dia bisa eksis.

Maka virus tanpa inang akan mati. Tanpa menempel di inang ia akan selesai. Begitu teorinya. Waktu bertahan tanpa inang berbeda pendapat antar ilmuwan. Gak akan saya bahas.

Wuhan, Korsel, Italia, menerapkan pola ini : virus pada manusia dipaksa mati dengan anti bodi. Virus diluar tubuh manusia dibiarkan mati, hilang, atau dibersihkan.

Yang positif di isolasi. Yang sakit berat di rawat.

Yang nampak tidak bergejala juga di test massal. Untuk dicari yang positif yang mana. Begitu positif, di isolasi lagi.

Kenapa? Karena menjadi carrier tanpa gejala inilah yang menjadi biang gak selesainya sebaran kasus.

Maka Wuhan dan Italia sangat ketat dengan lockdown. Kalo warga korsel, tanpa disuruh pun sudah teratur lockdown. Mirip Jepang.

Mereka tahan semua orang didalam rumah. Karena andai yang didalam rumah gak ditest, virus akan mengalami masa inkubasi hingga 14 hari. Bakal mati sendiri. Apalagi Wuhan menjalani lockdown 2 bulan.

Wuhan secara strategi sebenarnya menahan interaksi sosial. Lalu membiarkan yang sebenarnya positif walau tidak dites memiliki antibodi dengan sendirinya.

Begitu juga yang dilakukan di Italia. Di lock. Diberesin satu demi satu. Hingga targetnya zero casses per day seperti Wuhan.

Secara garis bessr begitu. Hingga Wuhan hari ini memulangkan dokter-dokternya. Menutup rumah sakit darurat. Dan sudah 3 hari ini zero case covid-19. Mereka sudah statement menang atas corona.

Strateginya begitu. Total lockdown. Semua di isolasi di rumah. Disiplin.

Rumus ini akan buyar kalo yang satu nau di isolasi sementara yang lain masih keluyuran. Bubar dah skema lockdown.

*****

source: tirtor.id

Sekarang kita ke negeri ini, kita buka mata dan hati ya. Saya sampaikan ini murni pendapat atas masalah kemanusiaan. Sentimen politik kita bahas nanti. Bukan saatnya.

Begini…

Ramai di linimasa ini, sahabat dominan menyerukan lockdown. Menganggap bahwa skenario Wuhan dan Italia bisa kita lakukan.

Dari apa yang saya lihat hari ini – semoga saya salah – Total Lockdown bukan skenario kita. Kecuali cuma slowdown soci distancing, bubarin keramaian. Itu masih bisa. Tapi kalo ngekep warga di rumah. Hmmm.. Susah.

Lockdown itu membutuhkan jumlah petugas yang cukup. Di Italia, polisi mondar-mandir, yang keluar tanpa keperluan didenda ratusan euro. Cek aja linimasa. Banyak beritanya.

Itu aja sudah pake polisi, terjadi puluhan ribu pelanggaran. Masih aja keluar.

Lalu kita lihat di Indonesia. Jelas sulit

Bisa dibayangkan polisi kita nahan masyarakat gak keluar rumah. yang keluar di denda. Ditilang aja ngamuk kok. Apalagi didenda untuk sekedar keluar rumah. Wah.. Chaos.

Belum lagi, di Wuhan dan Italia, mereka punya solusi, kalo diam di rumah, stay at home, work for home, makan mereka terjamin. Di Indonesia rada repot.

Di kita, kalo gak keluar rumah, makannya gimana? Seriusan ini.

Saya nulis begini bukan berarti besok Anda langsung ngumpul-ngumpul dan keluar rumah. Arah tulisan says gak kesitu.

Saya cuma ingin buka mata kita semua. Lockdown kayak Wuhan dan Itali, untuk negeri dengan sosio kultur kayak Indonesia. Gak bisa.

Rame kan di berita, udah jelas jadi suspect, malah bantu-bantu nikahan tetangga. Ditelpon sama dinkes untuk ngontrol, malah ngakunya di rumah, padahal jalan-jalan.

Itu cuma ngisolasi 1 orang aja, kita gak sanggup lho. Asli. Apalagi 271 juta jiwa di hold. Atau Jabodetabek aja deh, 25 jutaan warga, di hold gak boleh keluar rumah kompak. Gak bisa. Beneran.

Menutup event-event perkumpulan insyaAllah bisa. Meniadakan gathering ibadah bisa. InsyaAllah. Tapi kalo total lockdown. Apalagi bahasanya lockdown antar daerah. Nampak resiko sosialnya besar dan ini juga yang kayaknya ada di fikiran Pak Jokowi.

Maka bisa dilihat di Iran. Mereka masih terus aktivitas. Adanya yang terjangkit covid-19 dan sakit berat, ya mereka hadapi. Nanti saya jelaskan di tulisan berikut, kenapa Iran begitu.

*****

Keadaan diatas membuat skenario “pukul nyamuk satu-satu” gak mungkin jalan.

Kita gak bisa paksa warga didalam rumah. Kita gak bisa membersihkan pergerakan.

Akan tetap terus terjadi pergerakan massa, walau kecil. Padahal yang bergerak bisa jadi sudah positif covid-19 namun tanpa gejala apa-apa. Ini yang membuat skenario lockdown buyar.

Belum lagi dengan slowdown nya Jakarta. Dan status Jakarta menjadi episenter pendemi. Membuat banyak warga jabodetabek mudik ke kampung halaman.

Panah-panah merah sudah menyebar ke daerah. Ini seperti anak-anak muda Lombardi yang mudik ke Italia selatan. Persis.

Intinya skenario Lockdown sulit jalan.

Lalu bagaimana mengakhiri wabah ini?

Satu dua expert sudah mulai bicara. Walau malu-malu. Kecuali menteri pertahanan Israel yang pada akhirnya bicara tentang ini juga : Herd Immunity. Termasuk PM Inggris Pak Borris.

Source: siswapedia.com

Begini, virus yang menjangkiti tubuh akan diserang oleh antibodi ini. Inilah tafakur mendalam kita hari ini, antibodi kita menyusun bahan baku serangan untuk virus covid-19. Khusus untuk si dia saja.

Maka muncul angka 14 harian, atau kurang, dimana antibodi kita menyusun serangan ke covid. Hingga antibodi yang khusus dibentuk untuk covid terbentuk.

Maka setelah terbentuk antibodi alami covid, tubuh kita kebal covid. Secara teori, tidak lagi bisa dijangkiti covid-19. Mudah-mudahan teorinya bener.

Nah, Ketika sudah cukup banyak masyarakat yang terjangkiti covid-19, akan terbentuk “sekawanan” manusia yang sudah kebal covid-19. Dan disaat itulah terbentuk namanya Kekebalan Kawanan : Herd Immunity.

Coba deh, buka video-video yang viral tentang melandaikan kurva. Kan disitu sudah diberitahu, bahwa pada akhirnya semua orang akan terjangkit. Tinggal kecepatan lonjakan yang gejala berat saja. Itu yang diperlambat.

Ikhtiar social diatancing kita akan kesitu arahnya. Melandaikan kurva. Memberikan waktu bagi paramedis untuk melayani yang sakit berat. Jangan sampai okupansi rumah sakit gak cukup. Maka jangan sampai yang positif covid dan gejala berat jumlahnya puluhan ribu atas satu waktu.

Teori Herd Community ini berat untuk disampaikan. Secara ilmiah, 60%-70% masyarakat akan terjangkit. Dan kemudian mayoritas yang bertahan akan membentuk antibodi alami.

Di Wuhan, mungkin gak butuh sampai 60-70 persen. Karena mereka total lockdown. Mereka sampai semprot kota pake disinfektan 2 hari sekali. memang targetnya bunuh virus. Bisa jadi juga mereka sudah nemu vaksin. Sudah di shot ke sebagian besar populasi. Itu juga bikin Herd Immunity.

Italia juga nampak cara memeranginya sama. Total Lockdown.

Namun lihatlah Iran, mereka nampaknya pake teori ini, biarkan semua terpapar pada akhirnya. Mereka gak punya kapasitas untuk lockdown. Yang ada tinggal gali kuburan massal di Qom. Ini fakta.

Nampak Iran sudah memahami tracknya. Berharap Her Immunity.

Iran menjadi parah karena adanya embargo dari US, yang membuat alat-alat medis kurang. Iran sampai mau minjem ke IMF untuk perawatan. Skenario paparan maksimal memang butuh persiapan.

Walau skenario terpapar xepat tidak kita pilih, melihat kondisi negeri dan perilakunya, inilah yang sebenarnya akan kita hadapi.

******

Saya secara pribadi berharap, slowdown dan social distancing yang kita lakukan sekarang akan memperlambat penularan, memberikan waktu pada fasilitas kesehatan untuk bersiap. Tapi tidak bisa mencegah penularan pada semua.

Adapun waktu yang terus berjalan, semoga bisa menjadi buying time untuk menunggu vaksin.

Sampai di titik ini, Anda pembaca mungkin merasa saya mendoakan yang buruk untuk negeri. Sama sekali tidak. Ini ulasan ilmiah dari studi literatur saja. Bahwa begitulah wabah berakhir. Hampir semua orang terjangkit dan membentuk antibodi alami.

Semoga sampai disini hati tetap dingin dan optimis. Karena ini baru setengah tulisan. Berikutnya saya akan menuliskan tentang konsekuensinya.

*****

Target saya menulis ini adalah… agar kita sebagai anak bangsa bisa memitigasi konsekuensinya.

Karena inilah yang saya bisa rasakan dan simpulkan. Walau mudah-mudahan salah. Her Immunity ini skenario negeri kita.

Maka konsekuensi pertama adalah “bersiap terpapar”

Slowdown di rumah ini harus menjadikan kita pribadi yang sehat jasmani dan batin. Karena paparannya cepat atau lambat akan segera datang. Apalagi si covid ini rada bandel, cepet nular.

Makan yang bergizi , perkuat imunitas tubuh, istirahat yang cukup, olahraga gerakkan tubuh, bantu tubuh menyiapkan metabolisme yang optimum, untuk memproduksi antibodi covid secara mandiri.

Untuk urusan ini sudah banyak yang menuliskannya. Saya gak mau nulis ulang. Silakan cari sendiri.

Termasuk persiapan batin, mulailah memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, saling mendoakan. Kita perlu batin yang sehat untuk masa-masa ekstrim seperti ini.

*****

Konsekuensi kedua adalah “mayoritas jadi carrier”

Dengan demografi anak negeri yang penuh anak muda. Secara statistik, masyarakat kita akan mengalami gejala ringan di anak muda. Bahkan tak bergejala.

Maka anak muda negeri ini akan dominan menjadi cariier virus.

Ini juga yang harusnya diedukasi mendalam. Bahwa positif covid-19 bukan seperti positif HIV. Ini ada diberita, begitu positif covid-19 malah kabur. Salah faham kayaknya. Butuh diedukasi.

Dengan simpulan ini, saya menyarankan bangun gerakan pisahkan manula dan anak muda. untuk usia 50 tahun keatas, jangan sampai berbaur dengan yang muda.

Inget gak, 60-70% harus terpapar virus agar terbentuk Herd Immunity.

Kita siasati saja. 60% yang terjangkit itu biar anak muda saja. Kemungkinan illnes beratnya kecil. Dibawah 10%. Begitu kata lietaratur ya. Cross cek aja. Gak maksud sok tau.

Ini juga termasuk pada resiko kerja. Untuk di rumah sakit misalnya. Dokter senior, konsulen senior, mundur aja ke belakang meja. Kontrol dari jauh. Komando dari meja. Jadi penasehat dan pengarah ke dokter-dokter yang under 50. Seriusan ini. Bisa gak kira-kira. Atau etis gak kira-kira.

Karena kalo pola paparan mayoritas ini kena ke generasi elder negeri ini, ini yang membuat tingkat kematian tinggi seperti Italia.

Pada orang tua, pada masayikh itu terdapat kemuliaan dan kebaikan, kita sangat perlu keberadaan mereka untuk tetap sehat dan mendoakan kita. Mengarahkan. Dan menasehati.

Baca data yang jujur. China 2M populasi, Italia 60 juta Populasi. Angka kematian di Italia sudah melebihi Cina akan covid. Ini karena para manula gak segera dipisahkan dengan yang muda.

*****

Konsekuensi ketiga “Siapkan Fasilitas Medis”

Angka ilmiahnya sudah ada. 60% Terjangkit. Mayoritas tanpa gejala.

20% gejala ringan. Bisa isolasi mandiri.

10% gejala berat yang dimana sepertiganya diprediksi meninggal. Maka muncul angka kematian 3%.

Coba simulasi aja. Gak nakut-nakutin, agar kita bersiap.

Barusan saya sudah ketik simulasi angkanya. Tapi saya gak tega. Jadi saya hapus lagi. Hitung saja sendiri ya.

Intinya,….

Jangan sampai kayak Italia hari ini, kaget gak ada tempat rawat. Padahal Italia ini negeri yang kesehatan gratis. Kesehatan ini jadi nomor 1 perhatian. Ujian memang. Kita doakan segera berlalu.

Akhirnya sibuk bangun tenda darurat. Sibuk nyari gedung untuk rumah sakit. Full sampe lorong-lorong kepake semua.

Kita jangan sampai kaget di akhir. Mumpung ada waktu, siapin aja dari sekarang.

Jangan nunggu intruksi pemerintah, sediakan aja secara swadaya dari arus bawah. Siapin bangunannnya. Bed nya. Pelan-pelan.

Dengan skenario terpapar 60% populasi, lebih baik mumpung ada waktu kita bersiap. Karena jumlah penduduk kita 4,5 kali Italia. Beneran.

Saya sudah teriak-teriak berkali-kali, kalo pendekatan pencegahan/preventif gak bisa, ya sudah fokus pengobatan.

Maka saya membaca langkah Pak Jokowi, beliau sebenernya menuju pada Herd Immunity.

“5 juta obat sudah dibeli”

Ini sudah langkah pengobatan. Adapun ceramah tentang pembatasan gerak, hanya normatif.

“Mohon pada pemerintah daerah untuk memperhatikan prosedur kesehatan”

Tafsirnya luas. Tapi kalo niat ngobatin, jelas, beliau impor obat. Jelas sudah arahnya.

Wisma Atlet towernya akan dijadikan rumah sakit darurat.

Ada pulau yang disiapkan jadi pulai isolasi.

Arah pemerintah ini nampak bersiap mengobati dan merawat ketimbang melockdown. Karena perhitungannya bisa jadi kita banyak anak muda, memang yang diharapkan antibodi alami anak negeri yang bekerja. Lalu selamatkan yang elder.

Maka konsekuensi ketiga ini perlu kita dalami.

Satu masjid satu rumah sakit darurat.
Pak Erick Tohir saja sudah calling relawan. Oprec relawan secara nasional. Ndak lama lagi akan banyak program wakaf dan infaq alat medis.

Memang kesitu arahnya. Virus akan memapar ke mayoritas anak bangsa. Biarkan Herd Immunity terbentuk dengan sendirinya.

Yang perlawanan antibodinya tanpa gejala ya alhamdulillah.

Yang sakit ringan-sedang bisa isolasi mandiri di rumah. Semoga rumahnya ada. repot kalo yg gak punya rumah, kamarnya gak cukup, perlu ada rumah isolasi tambahan.

Yang sakit berat, semoga fasilitas kesehatan kita bisa obati dan tanggulangi.

Dan semoga angka kematian rendah. Angka 8,5% death rate itu karena di kita belum banyak yang test covid. Kasihan Pak Jokowi, jadi bulan-bulanan data yang kurang representatif.

Alat Rapid Test Covid-19
Source: sehatq.com

Saya yakin death rate kita kecil. Coba saja nanti mass rapid test. Akan banyak yang positif tanpa gejala. dan death rate akan kecil sekali.

*****

Panjang ya.. Saya juga sampe keram ini nulisnya. Maaf.

Semoga Herd Immunity segera terbentuk untuk negeri ini.

Segera kita beraktifitas lagi.

Segera kita belanja lagi ke kaki lima, gerakkan ekonomi UMKM.

Segera kita wisata domestik lagi, lakukan economic transfer antar daerah.

Segera kita produksi apa-apa yang gak di impor lagi. Mumpung negeri orang lagi restart pabrik, mumpung gak ada yang berani ke Indonesia.

Segera kita bangun negeri, dunia lagi de-globalisasi. Sekat-sekar antar negara makin keras dan tebal.

Bagus aja itu mah… Kesempatan kita urus diri kita sendiri. Nanam bawang putih sendiri. Nanam padi sendiri. Bikin baju sendiri. Wassalam import. Ahlan wa sahlan kemandirian negeri.

Segeralah terbentuk wahai Herd Immunitiy.

URS

*******

Tulisan ini adalah bentuk muhasabah keras untuk anak negeri, jika kita tidak bisa se serius Wuhan dan Italia, maka skenarionya akan menuju Herd Immunity dengan alami.

WARNING :
Yang mengcopy tulisan saya ke grup-grup WA, mohon sertakan link source utama, agar para pembaca dapat melihat dialektika diskusi di kolom komentar.

Nampak akan ramai.

A’udzubillahiminsy syaitonirrojim

#AllahMahaKuat
#MomenKebangkitanNegeri
#HerdImmunity

Penulis: Rendy Saputra

Editor: Pulung Hendro Prastyo

Peran Desa Adat Dalam Pengelolaan Pariwisata Di Desa Jungut Batu, Pulau Nusa Lembongan, Bali

Peran Desa Adat Dalam Pengelolaan Pariwisata Di Desa Jungut Batu, Pulau Nusa Lembongan, Bali

Pariwisata merupakan kegiatan yang memegang peran penting bagi sektor pembangunan nasional. Munculnya pariwisata ditandai dengan adanya kegiatan melakukan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang. Sejarah telah membuktikan bahwa industri pariwisata merupakan industri besar dan strategis, karena terbukti banyak menyediakan lapangan kerja dan menghasilkan devisa tinggi bagi suatu negara.

Pariwisata sebagai suatu industri merupakan industri multisektoral yaitu terdiri dari berbagai macam bidang usaha yang saling terkaiy seperti jasa perjalanan, akomodasi, restoran, seni, kerajinan budaya, objek wisata, atraksi wisata dan lain sebagainya.

Kegiatan pariwisata tidak bisa terlepas dari peran pemerintah setempat beserta masyarakatnya. Pariwisata tidak akan berjalan tanpa adanya campur tangan dari pemerintah baik itu pemerintah desa maupun pusat. Berkembangnya pariwisata tidak terlepas dari peran pemerintah pusat, peran desa adat serta masyarakat lokal.

Di Pulau Bali, sudah diakui bahwa pariwisata merupakan barometer utama kehidupan masyarakatnya. Khusus di Nusa Lembongan, kini telah dikembangkan jenis wisata  bahari. Banyaknya tempat menarik dengan keindahan alam memukau serta didukung budaya yang masih dijaga kelestariannya, dan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai membuat para wisatawan tidak bisa mengabaikan Nusa Lembongan sebagai salah satu destinasi wisata utama.

Kegiatan pariwisata di Nusa Lembongan sangat berkembang pesat sejak 2014. Namun, pengembangan pariwisata di Nusa Lembongan tidak melibatkan partisipasi dari pemerintah pusat, yakni Dinas Pariwisata, baik dalam pengawasan, pembangunan serta perizinan. Yang berperan dalam pengelolaan pariwisata di Nusa Lembongan adalah desa adat dan masyarakatnya. Segala hal yang menyangkut pariwisata dinaungi oleh desa adat.

Perkembangan Pariwisata di Desa Jungut Batu Nusa Lembongan

Pulau Lembongan atau dalam bahasa Bali disebut Nusa Lembongan adalah sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan Nusa Ceningan, dua kilometer di sebelah barat laut Nusa Penida. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kabupaten Klungkung, Bali. Transportasi dari dan ke Nusa Lembongan dapat ditempuh sekitar 1 sampai 1,5 jam dengan speed boat melalui pelabuhan di Bali Timur dan Pelabuhan Sanur.

Desa Lembongan banyak mempunyai tempat-tempat menarik untuk dikunjungi wisatawan seperti pantai berpasir putih yang sangat menarik, goa alam dan buatan yang unik, tebing laut yang menantang, rawa-rawa yang penuh misteri yang menarik minat pengunjung untuk datang dan banyak lagi. Wisata terkenal di Desa Lembongan antara lain: Pantai Tanjung Sanghyang, Dream Beach, Sunset Beach, Lebaoh (pantai pusat rumput laut), Rumah Bawah Tanah (Underground House) Gala-gala, Goa Sarang Walet Batu Melawang, Art Shop Center Buanyaran, Rawa Pegadungan dan lain-lain. Daerah ini juga menjadi lokasi budidaya alga merah Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma denticulatum yang dapat sekaligus menjadi atraksi wisata.

Awal pengembangan pariwisata di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan, dimulai pada 1970-an. Mula-mula wisatawan yang datang tidak lebih dari 10 Orang, dan tidak dikenal adanya penginapan. Wisatawan yang datang ke Desa Jungut Batu Nusa Lembongan tinggal di rumah milik penduduk. Setelah 1980-an mulai dibangun losmen kemudian berkembang hingga penginapan dan bungalow.

Pada 2014, jumlah wisatawan yang berkunjung di daerah Jungut Batu berkisar 9.578 orang. Seiring dengan besarnya jumlah wisatawan yang mengunjungi Jungut Batu, jumlah akomodasi hotel dan restoran semakin meningkat. Hingga saat ini tercatat 48 akomodasi hotel dan restoran di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan.

Pengembangan pariwisata yang masih sangat kurang adalah aksesbilitas. Jalan raya di Desa Jungut Batu sudah ada yang memakai aspal namun banyak juga yang masih jalanan setapak. Hampir seluruh jalan aspal sudah berlubang dan tidak bagus. Apalagi saat musim hujan, lumayan mengganggu kenyamanan wisatawan dalam melalui jalan-jalan menuju obyek wisata. Ini merupakan masalah utama yang sudah mendapat perhatian dari pemerintah desa setempat. Restribusi pariwisata sebesar 15% dialokasikan untuk memperbaiki aksesbilitas.

Peran Desa Adat terhadap Pengelolaan Pariwisata

Desa Adat sangat berperan penting dalam pengembangan pariwisata di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan. Desa Adat membantu memberdayakan masyarakat dengan melakukan pelatihan dan penyuluhan tentang pentingnya pariwisata dan mengusahakan peningkatan SDM agar dapat bersaing di dunia pariwisata. Dalam usaha peningkatan SDM, Desa Adat mengupayakan agar para investor merekrut tenaga lokal dari masyarakat Desa Jungut Batu (Sumber: Kepala Desa Adat Jungut Batu, 2018).

Di Desa Jungut Batu terdapat organisasi-organisasi kecil yang bergerak dalam bidang pariwisata antara lain Perkumpulan Pemilik Public Boat, Perkumpulan Bay Dive, dan Perkumpulan Organisasi Snorkling. Peranan Desa Adat terhadap organisasi-organisasi ini adalah menjadi penengah jika antar organisasi terjadi perselisihan, mengayomi dan mengawasi perkembangan organisasi terkait, memberikan dana dalam pengembangan organisasi, dan memberikan kesejahteraan organisasi dalam hal perizinan.

Selain dari yang disebutkan di atas, peranan Desa Adat sangat penting di dalam pengelolaan pendapatan hasil kegiatan pariwisata. Hasil pariwisata dipergunakan untuk perbaikan infrastruktur dan sarana prasarana serta dipergunakan bagi kegiatan yang bertujuan mensejahterakan masyarakat Desa Jungut Batu.

Investor penanam modal asing dan atau atas nama wajib memberikan sumbangan untuk pembangunan dan mempertahankan adat istiadat dengan ketentuan berdasarkan luas wilayah yang dimiliki oleh investor tersebut dengan ketentuan sebagai berikut

1. Dibawah 10 are (1000 m2): Rp. 70.000.000,-

2. Diatas 10 are (1000 m2) sampai 25 are (2500 m2): Rp. 90.000.000,-

3. Diatas 25 are (2500 m2) sampai 50 are (5000 m2): Rp. 120.000.000,-

4. Diatas 50 are (5000 m2) sampai 100 are (10.000 m2):Rp. 250.000.000,-

5. diatas 100 are (10.000 m2) dan seterusnya: Rp. 450.000.000,-

Sedangkan untuk Investor Warga Negara Indonesia yang bukan warga Desa Jungut Batu baik secara adat atau dinas wajib ikut memelihara lingkungan dan membatu pembangunan dengan ketentuan:

1. Dibawah 10 are (1000 m2) : Rp. 50.000.000,-

2. Diatas 10 are (1000 m2) sampai 25 are ( 2500 m2) : Rp. 65.000.000,-

3. Diatas 25 are ( 2500 m2) sampai 50 are ( 5000 m2) : Rp. 85.000.000,-

4. Diatas 50 are ( 5000 m2) sampai 100 are (10.000 m2) : Rp. 175.000.000,-

5. diatas 100 are (10.000 m2) dan seterusnya : Rp. 320.000.000,-

Sumbangan nantinya digunakan untuk menata lingkungan desa dan mempertahankan adat istiadat baik Upakara Yadnya maupun memelihara infrastruktur di Desa Pakraman, Jungut Batu. Dana sumbangan dari investor ini diberikan oleh investor kepada desa adat setiap tahun. Dana yang disumbangkan sudah menjadi kesepakatan bersama dalam rapat yang dilakukan bersama pemerintah desa, investor, serta masyarakat. Jadi investor yang mau menanamkan modal di Desa Jungut Batu harus membayar sesuai ketentuan biaya dan waktu yang sudah ditetapkan.

Desa Jungut Batu merupakan desa yang sangat kecil yang minim fasilitas kesehatan. Di sini hanya ada semacam klinik dan puskesmas desa, belum ada rumah sakit maupun klinik kesehatan yang mempunyai alat yang lengkap untuk fasilitas berobat. Maka dari itu, dana dari kegiatan pariwisata sangat bermanfaat untuk membantu pasien berobat ke sebrang pulau, yaitu rumah sakit yang ada di Kota Denpasar.

Dana bagi pelayanan masyarakat Desa Jungut Batu:

1. Biaya Dokter untuk satu kali berobat : Rp. 50.000-,

2. Check-up ke Denpasar : Rp. 100.000-,

3. Tunjangan Tahunan (opname dan selama perawatan): Rp. 5.000.000-,

Dana pelayanan masyarakat ini didapat dari sumbangan pembangunan investor yang membangun sarana wisata di desa Jungut Batu (Paruman Desa Adat Jungut Batu, 2018).

Perizinan dalam Pembangunan Akomodasi

Perizinan didalam membangun akomodasi di Desa Jungut Batu merupakan tanggung jawab penuh dari Desa Adat Desa Jungut Batu. Investor selaku penanam modal asing tidak dapat mengajukan langsung kepada pemerintah pusat, melainkan membutuhkan ijin dan rekomendasi dari Desa Adat. Hal yang diperhatikan oleh Desa Adat adalah pembangunan tetap sesuai dengan konsep Tri Hita Karana sehingga berjalan selaras dan tidak mengganggu keseimbangan yang ada. Investor juga harus melengkapi data dengan tujuan meminta rekomendasi HO kepada masyarakat.

Pada 15 Januari 2012, Desa Adat Jungut Batu menetapkan peraturan berupa Paruman. Paruman adalah suatu pertemuan yang membahas masalah perizinan mengenai kewajiban investor jika ingin membangun akomodasi di Desa Jungut Batu Nusa Lembongan. Isi dari Paruman merupakan sumbangan wajib bagi para investor yang membangun akomodasi di Desa Jungut Batu.

Dalam pengurusan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan, red), Desa Jungut Batu memiliki peranan penting di dalam merekomendasikan layak atau tidaknya akomodasi tersebut dibangun di Desa Jungut Batu. Per Desember 2015, dilakukan penertiban terhadap IMB agar tidak ada lagi investor yang membangun bangunannya dahulu sebelum memilki IMB dari Desa Adat Jungut Batu. Adapun rincian yang diberikan oleh Desa adat dalam hal perizinan pembangunan infrastruktur dapat dilihat dari jenis-jenis izin usaha seperti SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), SITU (Surat Izin Tempat Usaha), NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), NRP (Nomor Register Perusahaan) atau TDP (Tanda Daftar Perusahaan), dan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Dalam pembangunan akomodasi di Desa Jungut Batu para investor harus melengkapi terlebih dahulu dokumen-dokumen yang dipersyaratkan. Jika semua persyaratan sudah terpenuhi, barulah Desa Adat dapat memberikan izin untuk membangun akomodasi wisata di Desa Jungut Batu yang kemudian akan diteruskan terhadap pemerintah terkait.

Dapat disimpulkan bahwa Desa Adat sangat berperan penting dalam pengelolaan pariwisata di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan. Dalam Usaha peningkatan SDM, Desa Adat mengupayakan pemberdayaan masyarakat agar para investor merekrut tenaga lokal. Peran Desa Adat juga sangat penting dalam mengelola pendapatan kegiatan pariwisata yang kemudian dipergunakan untuk perbaikan infrastruktur, sarana prasarana, dan mensejahterakan masyarakat desa. Perizinan dalam membangun akomodasi merupakan tanggung jawab penuh dari Desa Adat. Investor selaku penanam modal asing tidak dapat mengajukan langsung kepada pemerintah pusat melainkan membutuhkan ijin dan rekomendasi dari Desa Adat. Hal yang diperhatikan oleh Desa Adat adalah pembangunan tetap sesuai dengan konsep kearifan lokal sehingga berjalan selaras dan tidak mengganggu keseimbangan yang ada. Investor juga harus melengkapi data dengan tujuan meminta rekomendasi kepada masyarakat.

Penulis : Roels Ni Made Sri Puspa Dewi, kelahiran 25 Februari 1994 dan, memiliki hobi traveling dan menulis. Perempuan asli bali ini merupakan Awardee LPDP PK-104 yang sedang menempuh studi Magister Kajian Pariwisata di Universitas Gadjah Mada.