Fisikawan Modern, Ilmuwan Yang Mengkaji Alam Gaib

Fisikawan Modern, Ilmuwan Yang Mengkaji Alam Gaib

Kalau boleh kita berpikir spekulatif, maka bisa dikatakan ilmuwan Fisika telah mengkaji alam gaib melalui alam kuantum. Walaupun ini belum sepenuhnya benar tetapi setidaknya sifat – sifatnya mendekati. Dimulai dari fisika klasik yang tidak bisa menjelaskan fenomena – fenomena fisika baru yang muncul di ranah mikroskopis. Lahirlah teori fisika kuantum.

Kelahiran teori fisika kuantum berawal dari kuliah Umum Max Plank berjudul ‘Zur Theorie Des Gesetzes Der Energieverteilung Im Normalspektrum’ (Teori Hukum Distribusi Energi Dalam Spektrum Normal) dihadapan ilmuwan – ilmuwan jerman. Tepatnya, tanggal 14 desember 1900. Kuliah ini membuka cakrawala awal ilmuwan fisika tentang alam kuantum. Ditambah lagi penemuan efek fotolistrik pada 1905 oleh Einstein. Selanjutnya dikembangkan oleh De Broglie, Heisenberg, Schrodinger, Dirac, Born, dan lain – lain.

Secara Umum, ditemukan tiga fenomena menarik yg tidak ada di alam nyata, eksis di alam kuantum. Pertama, partikel bisa menerobos tembok tanpa merusak temboknya. Kedua, partikel yang sama bisa berada di dua tempat dalam waktu yang sama. Ketiga, tidak ada nilai yang pasti, yang ada hanyalah nilai harap atau harapan.

Di alam gaib atau selain alam dunia. Jin dan malaikat bisa menerobos  tembok/dinding tanpa merusak temboknya. Seperti pada kisah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama di gua hira melalui malaikat jibril. Padahal gua hira’ itu kecil, sekitar 1×2 meter, tetapi malaikat jibril bisa menerobos ke dalam tanpa merusak dinding gua. Dan tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW di gua hira dalam wujud manusia. Itu artinya malaikat pada saat itu berada di alam yang sifatnya mirip dengan alam kuantum.

Kedua, pada saat Rasululloh SAW isra’ dan mi’raj sampai menuju Sidratul muntaha di langit ketujuh. Rasulullah SAW diperlihatkan surga dan neraka. Khususnya di neraka, beliau diperlihatkan manusia – manusia yang disiksa. Padahal, dunia belum kiamat, manusia – manusianya masih dibumi, entah itu masih hidup atau sudah didalam kubur. Hal ini mengindikasikan alam akherat/gaib itu dapat membuat manusia berada dalam dua tempat pada satu waktu. Sifat ini kembali mirip dengan sifat alam kuantum yang ditemukan oleh para fisikawan.

Ketiga tentang nilai harap, ketika kita memanjatkan do’a itu artinya kita sedang berharap kepada yang gaib. Tidak ada kepastian dikabulkan atau tidak, yang ada hanyalah harapan atau nilai harap. Para ulama membuat kiat – kiat bagaimana nilai harap ini semakin besar sehingga berpeluang besar untuk dikabulkan. Dalam hal ini juga, para ilmuwan Fisika melakukan eksperimen dan perhitungan untuk menemukan nilai harap yang paling besar peluangnya di alam kuantum. Di alam gaib maupun alam kuantum tidak ada yang pasti, yang ada hanyalah nilai harap atau harapan. Nilai ini sepeti kita bermain dadu, tidak ada kepastian mengenai angka berapa yang akan keluar pada setiap pelemparan dadu. Kita baru mengetahuinya setelah dadu tersebut dilempar dan menunjukkan angka.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 85 difirmankan,Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”’

Para ilmuwan Fisika modern juga masih sangat sedikit memahami fenomena kuantum. Yang ada hanyalah coba – coba. Ketika seorang fisikawan masyhur, Richard Feymann (1918-1988), ditanya ‘darimana schrodinger mendapatkan solusi dari persamaan Schrodinger?’. Feymann menjawab dengan setengah bercanda, “hanya schodinger yg mengetahui darimana solusi itu berasal,”. Komentar ini terucap karena memang tidak ada cara sistematis untuk mencari solusi persamaan schrodinger kecuali dengan jalan coba – coba sambil berharap akan berhasil. Dan ternyata berhasil . Harapan schrodinger terkabul. Feymann juga mengatakan,” I think I can safely say that nobody understands quantum mechanics (Aku pikir aku bisa sepenuhnya mengatakan tidak ada yang mengerti benar – benar mekanika kuantum).

Ilmuwan – ilmuwan terkemuka abad ke-20 seperti Albert Einstein dan Neils Bohr sampai berdebat hebat tentang alam kuantum.

Einstein meledek Bohr dengan mengatakan, “God does not play a dice with the Universe (tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta).”

Bohr menjawab, “Stop telling God what to do (berhenti memberi tahu Tuhan apa yang harus dilakukan.”

Uniknya, kedua ilmuwan tersebut tidak percaya Tuhan. Tetapi ketika sedang dilanda kebingungan tanpa kepastian, mereka akhirnya membawa – bawa nama Tuhan.

Memang, ditemukannya partikel Higg Boson merupakan kemajuan besar fisika kuantum. Tetapi pengetahuan ini masih sangat sedikit dibandikan misteri yang masih tersimpan. Partikel ini sampai dinamakan partikel sial (God Damn) oleh ilmuwan barat karena penemuannya membutuhkan biaya yang sangat besar. Penamaan partikel ini di plesetkan oleh media di Indonesia dengan menyebutnya sebagai partikel tuhan. Konversi dari Partikel God Damn ke Bahasa Indonesia. Kata Damn dihilangkan, yang tersisa hanya God. Jadilah bernama partikel tuhan, sangat jauh dari konteks aslinya. Mungkin agar lebih menarik minat pembaca. Partikel Higg Boson adalah jawaban dari pertanyaan para saintist abad ke-20 tentang dari mana massa seluruh benda dan makhluk hidup berasal.

Untuk memudahkan para fisikawan memahami alam kuantum, mereka menciptakan ruang Hilbert. Ruang Hilbert ini adalah ruang abstrak (tidak nyata) yang mewakili setiap ruang di alam kuantum. Ruang Hilbert adalah pengembangan dari ruang Euclidan peninggalan Yunani kuno. Sebenarnya Ilmuwan muslim telah lebih dulu mengembangkan teori ruang ini. Al-Khawarismi, ilmuwan muslim abad ke-9 dari Uzbekistan, lebih dulu mengembangkan teori ruang dengan mempelajari buku The Elements karya Euclid. Ibnu Haitham, yang dikenal di Barat dengan nama Al-Hazen, memperkenalkan konsep gerakan dan transformasi ruang yang melahirkan teori ruang non-Eucliden. Namun, sejak pembakaran perpustakaan terbesar di Bagdad oleh Bangsa Mongol pada masa dinasti Abbasiyah tahun 1258 M, banyak naskah – naskah asli hasil karya ilmuwan muslim yang hilang dan terbakar.

Referensi :

Al-Azizi, Abdul Syakur. 2018. Untold Islamic History. Yogyakarta : Laksana.

Rosyid,M.F. 2019. Mekanika Kuantum. Yogyakarta :Universitas Gajah Mada Press.

Van der Warden, B.L. 1967. Sources of Quantum Mechanics. New York : Dover Publications Inc.

Penulis :

Lalu Dalilul Falihin (Mahasiswa Magister Fisika UGM)

Bagaimana Sebaiknya Kita Memandang Hutan?

Bagaimana Sebaiknya Kita Memandang Hutan?

Pada tanggal 12 November 2020, publik cukup dikagetkan dengan hasil investigasi kolaborasi inovatif antara Greenpeace International degan Forensic Architecture. Mereka melaporkan bahwa Korindo, sebuah perusahaan Indonesia-Korea, telah merusak sekitar 57.000 hektar hutan di Papua yang hampir setara dengan luas kota Seoul di Korea Selatan. Menggunakan citra satelit NASA, mereka juga menemukan fakta bahwa Korindo secara sengaja terbukti melakukan deforestasi menggunakan api, atau dengan kata lain membakarnya. Menariknya, ekspansi kebun sawit di bawah naungan Korindo tersebut merenggut hutan adat dari 10 marga di Boven Digoel, Papua (greenpeace.org).

Agama, Adat, dan Hutan

Lalu, apa hubungannya perusakan hutan dengan agama dan adat? Peristiwa di atas menunjukan bahwa ada pelepasan hubungan antara manusia dengan yang non-manusia—human-non-human relation, tentu saja dalam konteks ini adalah hubungan manusia dengan hutan. Seakan, kerusakan apapun yang terjadi dengan hutan tidak akan berimplikasi terhadap eksistensi manusia.

Hutan telah dipersepsikan sebagai entitas yang terpisah dengan manusia. Padahal menurut Michel Picard, masyarakat tradisional Indonesia sejatinya tidak mengenal pemisahan antara human dan non-human (2011, h. 6). Bahkan ia memaparkan bahwa istilah agama secara semiotika salah satu maknanya adalah adat (tradition) (2011, h. 3). Politik agama di Indonesialah yang kemudian memisahkan istilah adat dari agama sampai hari ini. Proses tersebut tidak bisa dilepaskan dari paradigma agama-agama dunia yang mempengaruhi konstruksi agama secara politik di Indonesia.

Secara umum, paradigma agama-agama dunia yang terpengaruh oleh teologi Kristiani dan modernisasi Barat memang tidak bersahabat dengan adat atau agama-agama lokal yang sering dipandang terbelakang, animis, atau pagan. Selain itu, pemahaman Islam tentang apa itu agama juga mempengaruhi proses pembentukan definisi agama di Indonesia, yang pada akhirnya meminggirkan kelompok masyarakat adat.

Melihat Kembali Paradigma Agama-Agama Dunia

Seirama dengan tesis Picard, Samsul Maarif dalam Ammatoan Indigenous Religion and Forest Conservation (2015) menyebut bahwa hutan, tanah, tumbuhan, hewan, dan lainnya adalah bagian dari kosmik yang tidak saja  hidup bersama dengan manusia tapi juga berbagi kehidupan di dalamnya. Ia memandang bahwa hubungan manusia dan non-manusia yang setara sebagai hubungan intersubjektif (intersubjective relationships).

Berangkat dari sana, maka dapat dirangkum bahwa hubungan manusia dan hutan pun adalah setara. Ini berbeda dengan kosmologi dalam paradigma agama-agama dunia yang memandang bahwa hutan, tanah, batu, hewan, sungai, dan lainnya sebagai hubungan subjek-objek—yang artinya manusia sebagai subjek secara dominan dapat memelihara atau mengeksploitasinya.

Oleh karena itu, deforestasi yang terjadi di Papua adalah bagian dari pengaruh paradigma agama-agama dunia yang memandang bahwa manusia berkuasa penuh atas non-human beings (objek). Ini berbeda dengan paradigma agama-agama leluhur yang diamini juga oleh masyarakat adat yang mana memandang bahwa hubungan manusia dengan non-human beings adalah hubungan objek-objek—tidak hirarkis sebagaimana dalam paradigma agama-agama dunia.

Lebih dari itu Maarif menyatakan bahwa dalam pandangan masyarakat adat konservasi hutan adalah aktifitas relijius (2015, h 145). Oleh karena itu, perusakan hutan di Papua dapat disebut sebagai “penistaan agama” karena bagi masyarakat adat hutan tidak sekedar benda mati yang dapat dieksploitasi sakarepmu dewe tapi juga mempunyai hubungan ethical, reciprocal, dan responsible dengan manusia.

Dalam video yang dirilis oleh BBC News Indonesia misalnya, seorang marga pemilik ulayat mengatakan, “saya menangis, saya bertanya di mana roh leluhur saya tinggal kalau hutan kami sudah dibongkar habis?” Ini menegaskan bahwa hutan adalah bagian integral dari relijiusitas sehingga aktifitas-aktifitas seperti menjaga hutan tergolong aktifitas relijius.

(Tulisan ini terbit juga di www.timesindonesia.co.id)

Penulis:

Asep Sandi Ruswanda

Mahasiswa Pascasarjana – The Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM, Yogyakarta

Kisah Wong Cilik menyapa Negeri Sakura ,menempuh Studi S2-S3 melalui Beasiswa LPDP RI

Kisah Wong Cilik menyapa Negeri Sakura ,menempuh Studi S2-S3 melalui Beasiswa LPDP RI

Pada kesempatan kali ini saya kembali dengan tulisan yang cukup menguras pikiran dan hati. Disaat perempuan pada umumnya seusia saya yakni 25 tahun (saat pengumuman kelulusan LPDP S3 pada 15 Maret 2019) sedang asyiknya membangun keluarga dan karir, saya justru memilih melanjutkan pendidikan S3 di Jurusan Fisika FMIPA UGM. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki takdir, jalan, cerita dan menginspirasi dengan  perjuangan masing-masing. Atas akumulasi doa dari keluarga, para guru dan dosen serta sahabat, saya bisa mendapatkan beasiswa LPDP untuk studi S2 dan S3 sehingga dalam tulisan ini, saya menulis kisah manisnya menjadi Awardee LPDP dari S2 hingga saat ini menempuh  S3 dengan beasiswa LPDP RI.

            Alhamdulilah, segala puji bagi Allah swt melalui Beasiswa LPDP Afirmasi Bidikmisi PK 56, gadis dari pinggiran kota Palembang yang merupakan orang kecil , saat SMP dan SMA sering panas dan seakan gatal telinganya karena kerap dicemoohi “mimpi disiang bolong”, mendapat kesempatan belajar hingga menamatkan studi S2 di FMIPA Fisika UGM selama 1.5 tahun ( 2016-2017) hingga bertemu dengan sahabat terbaik dan dosen pembimbimg tesis yang luar biasa baiknya. Disaat-saat akhir dari  1.5 tahun itu pula, orang kecil ini pun dapat melihat dunia yakni Negeri Sakura dan singgah di Negeri Ginseng , dulu hanya menjadi mimpi indah. Tepatnya, saat mengikuti Biomaterial International Conference, Fukuoka, Japan, 20th-24thAugust 2017, mengantarkan saya bertemu dengan orang – orang hebat, dan tentunya dapat menimba ilmu, pembelajaran, kebaikan dan pengalaman di Kyushu University, Japan meskipun hanya satu pekan.   

            Kesempatan menuntut ilmu saat studi S2 memberikan pembelajaran dan pengalaman mengetahui dunia publikasi paper baik proceeding maupun jurnal internasional bereputasi yang dulu hanya sekedar tahu, pada akhirnya penulis memiliki publikasi di International Journal of Nanoelectronics and Materials Terindeks Scopus Q3 (Published Juli 2018, Vol 11No.3) dan di IOP Conference Series: Material Science and Engineering Vol 432 (2018)terindeks Scopus.   Penulis bersama promotor dan tim riset biomaterial S2 Tahun 2016 menulis buku yang berjudul Hidroksiapatit Berbahan Dasar Biogenik diterbitkan oleh UGM Press pada Agustus 2019.

Alhamdulilah, Allah swt memberikan kesempatan dan anugerah kembali yakni menempuh pendidikan S3 melalui beasiswa LPDP RI pada program Doktor Fisika FMIPA UGM diusia saya 25 tahun. Selama studi S3 di semester 1, saya banyak melakukan aktivitas riset, seminar, coaching dan training terkait penelitian disertasi saya. Dari kegiatan tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman dan kebaikan. Pertama, sebelum masuk kuliah pada tanggal 14 Agustus 2019, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Asean Summer Course Bioceramics 2019 dari 9 Juli-20 Juli 2019 di UGM dan ITB sebagai participant. Kemudian pada tanggal 4 Agustus-18 Agustus 2019, saya membantu promotor saya (Dr. Eng Yusril Yusuf, M.Si., M.Eng) membuat Proposal Hibah Penelitian Dikti Kategori Penelitian Kompetitif Nasional 2019 untuk pelaksanaan penelitian tahun 2020-2022.  Kemudian, dari tanggal 18 Agustus 2019, saya telah mengambil data awal penelitian. Pada tanggal 12-13 September 2019, saya mengikuti kuliah umum di The 2nd International Conference on Bioinformatics, Biotechnology and Biomedical Engineering. Kemudian pada tanggal 4-5 Oktober 2019, saya mengikuti pelatihan/klinik Jurnal internasional di Hotel Atria, Magelang. Kemudian, pada tanggal 20-21 Desember 2019, saya diminta promotor saya untuk mengikuti raker Lembaga Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM sebagai tim acara.  Kemudian, dari pertengahan Desember hingga awal januari 2020, saya juga diminta untuk membantu membuat proposal hibah Kolaborasi Indonesia (UGM, UNAIR, IPB dan ITB.). Pada akhir Maret 2020, saya juga diminta untuk membantu membuat proposal hibah penelitian Rekognisi Tugas Akhir.  Pada semester ini, saya mengambil 12 sks untuk Mata Kuliah yang bersifat kuliah mandiri dan Alhamdulilah, saya meraih IP 4.00  di semester I kemarin. Dengan demikian, saya banyak mendapatkan kebaikan melalui LPDP RI diantaranya ilmu, pengalaman dan merasakan atmosfer dunia akademisi sebagai bekal dalam pengabdian pasca studi.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki takdir, jalan, cerita dan menginspirasi dengan  perjuangan masing-masing.  Kalau memang sesuatu telah ditakdirkan untukmu maka akan kembali berpihak kepadamu meski penuh lika -liku,  sekalipun ekspektasi dan logikamu hopeless akan ada miracle dari Allah swt. Sebaliknya bila sesuatu yang menurut Allah swt bukan menjadi takdirmu dan bukan terbaik untukmu maka sekeras apapun ikhtiar dan doanya maka akan meninggalkanmu, ada saja cara Allah swt menjauhkan dari mu. Karena Allah is the best planner melebihi logika dan ekspektasimu miracle dari-Nya.

Biografi Singkat

Penulis bernama Mona Sari yang lahir pada 31 Maret 1993 di Palembang, Sumatera Selatan. Ayah penulis bernama Mochtar Sadeli (Alm) dan Ibunya bernama Roslina serta memiliki satu adik perempuan bernama Yulisa. Penulis merupakan alumni SDN 123 Palembang (1999-2005), SMPN 14 Palembang (2005-2008) dan SMAN 14 Palembang (2008-2011). Penulis mendapatkan Beasiswa Miskin Berprestasi untuk studi SMP dan SMA. Kemudian penulis juga merupakan alumni Program S1 FKIP Fisika Universitas Sriwijaya (2011-2015) melalui beasiswa Bidikmisi, dan Program S2 FMIPA Fisika Universitas Gadjah Mada (2016-2017) melalui beasiswa LPDP RI jalur Afirmasi Bidikmisi Berprestasi PK-56 (Nayaka Praja). Penulis sekarang sedang menempuh program S3 di program studi Doktor Fisika, FMIPA UGM mulai Agustus 2019 melaui Beasiswa LPDP RI jalur Afirmasi Santri PK-144 (Cantrikabhinaya Nagarajaya) .

Prestasi yang pernah diraih penulis adalah Pemenang Olimpiade Fisika Tingkat Provinsi SUMSEL pada tahun 2007-2008, Pemenang Olimpiade Fisika Tingkat Kota tahun 2010, Peserta Olimpiade Nasional Fisika Tingkat Wilayah Kopertis II DIKTI Tahun 2012 dan 2013.  Penulis pernah mengikuti Conference sebagai oral presenter yakni Seminar Nasional Physics in Action 2014 Palembang, Biomaterial International Conference, Fukuoka, Japan, 20th-24thAugust 2017, dan Materials Research Society-Indonesia Conference & Congress 2017, 8th-12th October 2017. Penulis merupakan peserta di The 2nd Indonesian Youth Conference on Sustainable Development, Yogyakarta, Indonesia, 20th-21th September 2017. Penulis juga merupakan peserta ASEAN Summer Course Bioceramics and Tissue Engineering di ITB-UGM pada 9 Juli 2019-20 Juli 2019.  Salah satu publikasi penulis ialah di International Journal of Nanoelectronics and Materials Terindeks Scopus Q3 (Published Juli 2018, Vol 11No.3). Penulis bersama promotor dan tim riset biomaterial S2 Tahun 2016 juga menulis buku yang berjudul Hidroksiapatit Berbahan Dasar Biogenik diterbitkan oleh UGM Press pada Agustus 2019. Penulis juga merupakan peserta undangan untuk mengikuti kuliah umum di The 2nd International Conference on Bioinformatics, Biotechnology and Biomedical Engineering, Yogyakarta, Indonesia, 12th-13th September 2019. Penulis telah mengabdi sebagai Dosen di Program Studi Pendidikan Fisika UIN Raden Fatah Palembang (2018-2019) dan Guru Fisika di MTS dan MA Ponpes Muqimus Sunnah Palembang pada tahun 2015