Cacingan yang Terabaikan
Kontribusi itu tidak harus muluk-muluk dan langsung dalam skala luas, definisi “from us to others”, “diri untuk negeri” benar-benar bisa direalisasikan di lingkup kecil, di lingkungan masyarakat tempat kita tinggal. Sebagai ASN Peneliti di bidang kesehatan, saya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja di bidang penyakit yang bersumber dari lingkungan dan binatang, salah satunya cacingan.
Sejak pindah tugas ke kota yang dekat dengan tempat kelahiran pada tahun 2022 yang lalu, saya sudah lama ingin mengamalkan ilmu dan pengalaman saya dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat, yaitu pemeriksaan cacingan pada anak – anak di desa saya. Namun saat itu saya masih merasa sungkan karena khawatir akan menjadi isu sensitif dan takut stigma, juga karena di masyarakat cacingan dianggap tidak penting, sehingga masuk dalam neglected disease.
Kisah duka Raya yang meninggal dan ditemukan banyak cacing keluar dari tubuhnya dengan jumlah yang begitu banyak, menjadi momentum seperti pintu pembuka bagi saya untuk benar-benar merealisasikan kontribusi saya bagi masyarakat sekitar, supaya kisah sedih Raya tidak terulang lagi di manapun berada.
Cacingan Terabaikan Namun Tetap Mengancam Kesehatan
Cacingan merupakan penyakit yang berkaitan erat dengan lingkungan dan kondisi higienitas. Penyebab penyakit tersebut berasal dari cacing yang menginfeksi manusia melalui tanah yang terkontaminasi, atau disebut Soil-Transmitted Helminths (STH). Cacing tersebut terdiri dari jenis Ascaris Lumbricoides (disebut juga cacing gelang), Trichuris Trichiura (disebut cacing cambuk), dan Ancylostoma Duodenale serta Necator Americanus (disebut cacing tambang). Sebagian besar dari penduduk dunia terinfeksi oleh satu jenis atau lebih cacing tersebut (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Infeksi STH tersebar di wilayah dengan iklim hangat dan kelembaban yang cukup tinggi. Selain itu di wilayah tersebut tingkat kebersihan masih kurang baik. Infeksi STH merupakan penyakit infeksi yang terabaikan karena dapat menimbulkan kesakitan dan kerugian yang besar. Akan tetapi, pada dasarnya penyakit tersebut bisa dikontrol bahkan dihilangkan, sehingga sering tidak menjadi prioritas. Cacing STH merupakan organisme parasit pada usus hospes manusia. Larva dan cacing dewasa hidup di usus manusia sehingga mengakibatkan infeksi pada manusia (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Cacingan kini menjadi infeksi yang paling banyak terjadi di populasi dunia. Menurut laporan WHO, diperkirakan 1,5 miliar penduduk terinfeksi, atau sekitar 24% dari seluruh penduduk global. Infeksi STH paling banyak terjadi pada masyarakat miskin dan memiliki kesulitan terhadap akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Infeksi STH ditemukan tersebar di daerah tropis dan subtropis, dengan prevalensi tertinggi dilaporkan dari Afrika sub-Sahara, China, Amerika Selatan dan Asia (World Health Organization, 2023).
Diperkirakan sekitar 807 juta – 1,2 miliar penduduk di dunia terinfeksi dengan cacing gelang/ Ascaris. Namun demikian, infeksi Ascaris jarang terjadi di wilayah Amerika Serikat. Infeksi Trichuris terjadi pada sekitar 604-795 juta penduduk. Infeksi cacing tambang ditemukan dengan jumlah sekitar 576 – 740 juta penduduk (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Infeksi STH ditularkan melalui telur dari tinja penduduk terinfeksi yang berada di tanah pada wilayah dengan kebersihan yang buruk. Diperkirakan lebih dari 260 juta anak usia belum sekolah sekolah, 654 juta anak usia sekolah, 108 juta remaja wanita, dan 138,8 juta wanita hamil dan menyusui tinggal di daerah dengan penularan STH yang intensif, sehingga memerlukan pengobatan serta upaya pencegahan (World Health Organization, 2023).
Berikut penjelasan singkat mengenai jenis cacing Soil-Transmitted Helminth:
1. Ascaris Lumbricoides
Ascaris dikenal sebagai cacing gelang. Ia hidup sebagai parasit di dalam usus . Telur cacing Ascaris dikeluarkan bersama tinja hospes. Apabila hospes defekasi tidak di jamban atau jika tinja hospes dimanfaatkan untuk pupuk, telur akan mencemari lingkungan. Telur selanjutnya akan menjadi telur yang siap menginfeksi manusia. Infeksi cacing cambuk dapat terjadi karena tidak sengaja menelan telur. Penularan tersebut dapat berlangsung pada saat tangan yang telah tercemar telur cacing tertelan atau termakan melalui sayur atau buah mentah, yang tidak dicuci atau dikupas dengan baik (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
2. Cacing Tambang (Ancylostoma Duodenale/Necator Americanus)
Habitat cacing tambang adalah di usus halus manusia. Telur akan dikeluarkan melalui tinja manusia yang terinfeksi. Apabila hospes defekasi tidak di jamban atau jika tinja hospes dimanfaatkan untuk pupuk, telur akan mencemari lingkungan. Telur cacing tambang akan menetas, menjadi larva. Larva tersebut akan masuk ke hospes manusia melalui kulit. Penularan cacing tambang terjadi pada saat berjalan tidak memakai alas kaki di tanah yang tercemar. Penularan cacing tambang juga bisa terjadi apabila tidak sengaja menelan larva cacing (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
3. Trichuris Trichiura
Habitat cacing cambuk adalah di usus besar manusia. Telur cacing cambuk dikeluarkan bersama tinja hospes. Apabila hospes defekasi tidak di jamban atau jika tinja hospes dimanfaatkan untuk pupuk, telur akan mencemari lingkungan. Telur selanjutnya akan menjadi telur yang siap menginfeksi manusia. Infeksi cacing cambuk dapat terjadi karena tidak sengaja menelan telur. Penularan tersebut dapat berlangsung pada saat tangan yang telah tercemar telur cacing tertelan atau termakan melalui sayur atau buah mentah, yang tidak dicuci atau dikupas dengan baik (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Faktor Risiko Cacingan
Populasi berisiko meliputi anak pra-sekolah, anak sekolah, wanita usia subur (termasuk wanita hamil trimester kedua dan ketiga, juga ibu menyusui), serta penduduk dewasa yang memiliki risiko terinfeksi terkait pekerjaannya, misalnya pekerja tambang, atau petani. Selain itu infeksi ini juga dapat melalui makanan yang tercemar telur cacing, seperti sayuran (lalapan) juga buah yang tidak dicuci bersih dan tidak dimasak dengan sempurna (World Health Organization, 2023).
Cacingan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, di antaranya adalah iklim, sosial ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, sanitasi lingkungan dan higienitas yang kurang. Sanitasi lingkungan sangat berkaitan dengan kejadian cacingan pada anak – anak. (Limbong, 2018; Mahmudah, 2017). Beberapa penelitian membuktikan keterkaitan antara perilaku cuci tangan, pemakaian sandal/sepatu, kebersihan kuku, ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, pengetahuan ibu dan anak, perilaku minum obat cacing, dengan kejadian cacingan (Anida et al., 2019; Kartini et al., 2017; Limbong, 2018; Paridah et al., 2021; Rahma et al., 2020).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku mencuci tangan berkaitan dengan kejadian infeksi cacingan. Pada subyek ibu yang terbiasa mencuci tangan dengan sabun dan air memiliki risiko anaknya terinfeksi cacingan lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak biasa mencuci tangan. Hal tersebut terjadi karena mencuci tangan dapat mencegah penularan telur atau larva cacing STH saat mengolah makanan untuk anak, atau menyuapi anak, dari tangan ibu ke mulut anak (Kartini et al., 2017; Paridah et al., 2021; Rahma et al., 2020; Suriani et al., 2020). Perilaku memakai alas kaki baik pada anak dan orang dewasa, telah terbukti dari banyaknya penelitian yang menyebutkan bahwa perilaku tersebut dapat mencegah terjadinya infeksi cacingan. Saat bermain, berjalan atau bekerja di atas tanah, apabila tidak memakai alas kaki, maka dapat terjadi penularan cacing tambang, yaitu masuknya larva cacing infektif melalui kulit (Kartini et al., 2017; Paridah et al., 2021; Rahma et al., 2020; Suriani et al., 2020).
Penelitian lain menyebutkan korelasi yang kuat antara penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian cacingan yang ditemukan pada petani sayur. Faktor pekerjaan khususnya pekerjaan yang berkaitan atau menggunakan tanah juga berpengaruh terhadap kejadian cacingan. (Fattah et al., 2020; Ulfa Ali et al., 2016). Anak – anak yang senang bermain di tanah, yang mungkin saja tercemar dengan telur cacing akan mengakibatkan tangan dan kuku mereka menjadi tempat telur cacing. Pada anak – anak yang terbiasa menggigit kuku atau jari, maka hal tersebut dapat menjadi jalan terjadinya penularan cacing STH. Demikian halnya kebersihan kuku Ibu, karena Ibu biasanya menyuapkan makanan pada anak–anak, dan juga mengolah makanan untuk anak–anak. Apabila kuku Ibu tidak bersih, maka telur cacing yang berada di kuku Ibu tersebut dapat tertelan masuk ke tubuh anak, sehingga terjadi penularan infeksi cacingan (Kartini et al., 2017; Paridah et al., 2021; Rahma et al., 2020; Suriani et al., 2020).
Ketersediaan air bersih juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya infeksi cacingan. Pada saat air di lingkungan telah tercemar tinja, maka dapat terjadi perpindahan patogen penyebab penyakit ke hospes yang baru apabila air tersebut dikonsumsi. Selain itu penularan juga dapat terjadi karena jumlah air bersih yang sangat kurang, sehingga tidak memadai untuk mencuci, yang menyebabkan kesulitan untuk menjaga higienisitas baik diri, makanan, atau lingkungan sekitar (Paridah et al, 2021).
Siklus penularan cacing gelang juga cacing cambuk salah satunya dapat terjadi dengan masuknya telur ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing STH. Pada saat air yang digunakan untuk memasak, mandi atau mencuci berbagai sayur tercemar telur cacing STH, maka dapat terjadi penularan cacing STH (Kartini et al., 2017).
Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyediaan jamban berhubungan dengan kejadian cacingan. Apabila di lingkungan tidak tersedia jamban, maka akan memudahkan penyebaran berbagai penyakit, salah satunya adalah cacingan. Hal tersebut terjadi karena apabila orang terinfeksi STH dalam tubuhnya buang air besar di luar, maka akan mencemari lingkungan, yaitu telur akan tersimpan di tanah atau air di lingkungan. Telur tersebut kemudian akan masuk ke dalam tubuh jika tidak sengaja tertelan melalui tangan atau jari yang kotor atau melalui sayur atau buah yang tidak dicuci bersih (Kartini et al., 2017; Paridah et al., 2021; Rahma et al., 2020).
Dampak Cacingan
Infeksi cacing STH dapat menimbulkan gangguan status gizi pada hospes yang terinfeksi dengan berbagai cara. Gejala yang muncul pada infeksi yaitu sakit perut, diare, kekurangan darah dan protein, kerusakan jaringan pada daerah sekitar anus, bahkan hingga terjadinya stunting atau pertumbuhan juga perkembangan fisik dan mental dan perkembangan yang terganggu (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Cacing gelang (Ascaris sp) bersaing dengan hospes dalam mendapatkan vitamin A dalam usus. Penduduk yang terinfeksi cacing gelang sering tidak menunjukkan gejala, kalaupun ada, biasanya berupa gejala ringan. Gejala meliputi sakit perut atau perut tidak nyaman. Gejala berat dapat berupa cacing menyumbat usus dan memperlambat perkembangan pada anak – anak. Gejala lain adalah adanya batuk, hal tersebut disebabkan perpindahan cacing melewati organ paru di dalam tubuh hospes (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Gejala klinis akibat infeksi cacing tambang dapat diakibatkan oleh tahap larva, yaitu rasa gatal yang muncul ketika larva cacing tambang masuk melalui kulit. Apabila larva cacing tambang yang masuk melalui kulit semakin banyak, maka semakin berat gejala yang ditimbulkan. Pada saat larva cacing tambang masuk melalui kulit juga dapat menimbulkan infeksi pada kulit (Atmojo, 2019).
Cacing tambang memakan jaringan hospes, termasuk darah sehingga dapat menimbulkan kehilangan zat besi dan protein. Hal tersebut menimbulkan hilangnya darah pada usus secara terus menerus, sehingga mengakibatkan anemia terutama pada remaja wanita dan wanita usia subur. Cacing tambang juga meningkatkan gangguan nutrisi dalam tubuh (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022). Gejala yang ditimbulkan pada infeksi yang lebih berat adalah terjadi kekurangan gizi, disebabkan kehilangan darah, permasalahan penyerapan gizi, masalah pencernaan kerusakan jaringan karena gigitan cacing, serta diare (Atmojo, 2019).
Pada infeksi cacing cambuk ringan, tidak ada kerusakan mukosa pada tempat melekat cacing, namun terkadang ditemukan ada sedikit perdarahan. Gejala yang terjadi pada infeksi berat dapat berupa sakit perut, diare dengan bercak darah, sedikit demam sakit kepala, dan penurunan berat badan (Atmojo, 2019).
Beberapa cacing STH juga menyebabkan kehilangan nafsu makan sehingga menyebabkan kekurangan asupan nutrisi, tubuh menjadi lemas dan kurang fit. Infeksi cacing cambuk juga bisa menimbulkan diare dan disentri (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022). Pada kasus infeksi yang sangat berat, bahkan menyebabkan kerusakan atau penyumbatan usus yang memerlukan tindakan operasi (World Health Organization, 2023).
Akibat infeksi cacing cambuk pada anak–anak adalah kerusakan jaringan di sekitar anus. Hal tersebut diakibatkan toksin dari cacing yang dapat melemaskan otot anus. Cacing adalah zat asing pada anus yang dapat memicu otot anus meningkatkan gerak peristaltik sebagai upaya untuk menghilangkan cacing (Atmojo, 2019).
Beratnya gejala akibat cacingan pada hospes berhubungan dengan jumlah cacing yang hidup di dalam tubuh. Cacing jenis Strongyloides Stercoralis dapat menyebabkan kelainan pada kulit (dermatologis) dan juga pada pencernaan (gastro-intestinal), serta dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak–anak. Pada kasus tertentu, pada penduduk yang memiliki imunitas rendah, cacing tersebut bisa menimbulkan hiperinfeksi/gejala disseminasi yang fatal apabila terlambat diberikan obat secara tepat, bahkan kadang masih berakibat fatal meskipun telah diobati (World Health Organization, 2023).
Pengendalian Cacingan
Strategi pengendalian infeksi STH adalah dengan melakukan penanggulangan keparahan akibat penyakit dengan cara pemberian obat secara periodik pada penduduk berisiko di daerah endemis. WHO merekomendasikan pemberian obat secara periodik (kegiatan pemberian obat cacing atau pengobatan pencegahan) yang diberikan kepada seluruh penduduk berisiko yang tinggal di daerah endemis. Upaya tersebut dapat mengurangi keparahan penyakit dengan berkurangnya cacing dalam tubuh. Selain itu, upaya edukasi/penyuluhan kebersihan dapat meminimalisir penularan dan penularan berulang dengan adanya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Upaya pengendalian yang lain adalah dengan menyediakan sanitasi yang cukup untuk mendukung upaya hidup bersih dan sehat (World Health Organization, 2023).
Diagnosis Cacingan
Metode baku/gold standard diagnosis STH adalah dengan menemukan telur STH pada sampel feses manusia dengan mikroskop compound. Apabila infeksi STH berupa infeksi ringan, telur cacing mungkin sulit ditemukan, sehingga direkomendasikan metode lain, yaitu metode konsentrasi (Centre for Diseases Control and Prevention, 2022).
Pengobatan Cacingan
Obat yang disarankan oleh WHO adalah Albendazole (400 mg) dan Mebendazole (500 mg). Obat tersebut memiliki efektivitas yang bagus. Harga obat–obat tersebut juga yang murah dan terjangkau. Ditambah lagi, pemberian obat tersebut mudah dilakukan meskipun bukan oleh tenaga kesehatan. Obat yang direkomendasikan WHO tersebut juga aman dengan efek samping yang ringan dan telah digunakan untuk skala luas. (World Health Organization, 2023). Indonesia melaksanakan POPM 2 kali setahun untuk anak pra-sekolah dan usia sekolah (12 tahun ke bawah). Laporan Kemenkes (2021) mencatat 36,97 juta anak menerima obat cacing tahun tersebut (Kemenkes, 2021).
Pentingnya Kolaborasi Semua Pihak
Cacingan merupakan penyakit terabaikan/neglected diseases. Penanganan penyakit tersebut tidak bisa hanya sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan peran berbagai lintas bidang. Penyakit ini erat kaitannya dengan lingkungan, sehingga membutuhkan kerjasama dengan stakeholder dalam menyediakan sumber air bersih untuk kebutuhan minum dan rumah tangga. Diperlukan juga dukungan untuk penyediaan fasilitas MCK yang higienis, sehingga tidak terjadi open defecation di masyarakat lagi. Pemenuhan gizi yang baik juga diperlukan untuk mendukung anak–anak memiliki daya tahan tubuh yang bagus, sehingga tidak mudah terserang penyakit. Sektor kesehatan juga tentunya berperan dalam hal diagnosis atau pemeriksaan, penyuluhan pencegahan kepada masyarakat, serta pengobatan cacingan.
Mengingat pentingnya peran dari berbagai pihak, saya berinisiatif untuk berkontribusi melalui bidang yang saya tekuni, yaitu pemeriksaan cacingan pada anak-anak di lingkungan saya tinggal, yaitu Dukuh Gledegan, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Biaya pembelian bahan dan reagen saya sediakan secara mandiri, sehingga pemeriksaan bisa gratis bagi warga. Hal tersebut tentunya atas izin Ketua RT dan aparat desa setempat.
Kolaborasi dengan Instansi Terkait
Dalam melaksanakan kontribusi, saya juga berkolaborasi dengan instansi terkait, yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan Puskesmas Teras. Pihak Dinas Kesehatan sangat mengapresiasi dan mendukung gagasan yang saya kemukakan. Dinas Kesehatan juga memberikan bantuan tenaga petugas Laboratorium Kesehatan Daerah, meminjamkan alat berupa mikroskop untuk pemeriksaan sampel feses yang saya lakukan. Pihak Dinas Kesehatan juga bersedia memberikan pengobatan apabila ditemukan anak yang positif telur cacing.
Jumlah sasaran pemeriksaan di dusun saya, sebanyak 33 anak, dan yang mengumpulkan pot sebanyak 18 anak. Hasil pemeriksaan ada dua sampel anak yang ditemukan telur cacing gelang / Ascaris lumbricoides. Hasil tersebut kemudian saya laporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali untuk tindak lanjut pengobatan.
Jadi, kontribusi bisa dimulai dari lingkungan tempat kita tinggal, dengan kemauan untuk mengabdi, mengamalkan ilmu yang kita miliki, sebagai wujud nyata kebermanfaatan Awardee bagi masyarakat.
#FromUsToOthers #DiriUntukNegeri #LPDPUGM
Dokumentasi Kegiatan


DAFTAR PUSTAKA
Annida, A., Fakhrizal, D., Juhairiyah, J., Hairani, B., 2019. Gambaran status gizi dan faktor risiko cacingan pada anak cacingan di masyarakat Dayak Meratus, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. J. Heal. Epidemiol. Commun. Dis. 4, 54–64. https://doi.org/10.22435/jhecds.v4i2.218
Atmojo, A.T., 2019a. Cacing Tambang (Hook Worm) – Indonesian Medical Laboratory [WWW Document]. Teor. Parasitol. URL https://medlab.id/cacing-tambang-hook-worm/ (accessed 2.11.23).
Atmojo, A.T., 2019b. Trichuris trichiura (Cacing Cambuk) – Indonesian Medical Laboratory [WWW Document]. Teor. Parasitol. URL https://medlab.id/trichuris-trichiura/ (accessed 2.11.23).
Centre for Diseases Control and Prevention, 2022. Soil-transmitted Helminths [WWW Document]. URL https://www.cdc.gov/parasites/sth/index.html (accessed 2.9.23).
Fattah, N., Arifin, A.F., Hadi, S., Rachmat S. Imam, F., 2020. Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Penyakit cacingan. UMI Med. J. 5, 47–55. https://doi.org/10.33096/umj.v5i2.78
Juli Soemirat, S., 2014. Kesehatan Lingkungan, 9th ed. GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS, Yogyakarta.
Kartini, S., Kurniati, I., Jayati, N.S., Sumitra, W., 2017. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian cacingan Soil Transmitted Helminths Pada Anak Usia 1 – 5 Tahun Di Rw 07 Geringging Kecamatan Rumbai Pesisir. J. Pharm. Sci. I, 33–39.
Limbong, M., 2018. Hubungan Higiene Sanitasi dengan Kejadian cacingan pada Siswa Sekolah Dasar 114–122.
Mahmudah, U., 2017. Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian Infeksi cacingan Pada Anak Sekolah Dasar. J. Kesehat. 10, 32–39.
Paridah, P., Zahtamal, Z., Putra, R.M., 2021. Analisis faktor lingkungan terhadap kejadian cacingan pada murid Sekolah Dasar di Kelurahan Seberang Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir. SEHATI J. Kesehat. 1, 63–72. https://doi.org/10.52364/sehati.v1i2.7
Rahma, N.A., Zanaria, T.M., Nurjannah, N., Husna, F., Putra, T.R.I., 2020. Faktor Risiko Terjadinya cacingan pada Anak Usia Sekolah Dasar. J. Kesehat. Masy. Indones. 15, 29. https://doi.org/10.26714/jkmi.15.2.2020.29-33
Suriani, E., Irawati, N., Lestari, Y., 2020. Analisis Faktor Penyebab Kejadian cacingan pada Anak Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2017. J. Kesehat. Andalas 8, 81–88. https://doi.org/10.25077/jka.v8i4.1121
Ulfa Ali, R., Zulkarnaini, Z., Affandi, D., 2016. Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Angka Kejadian cacingan (Soil Transmitted Helminth) Pada Petani Sayur di Kelurahan Maharatu Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Din. Lingkung. Indones. 3, 24. https://doi.org/10.31258/dli.3.1.p.24-32
World Health Organization, 2023. Soil-transmitted helminth infections [WWW Document]. URL https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/soil-transmitted-helminth-infections (accessed 2.9.23).
Biodata Penulis
Anis Nur Widayati, S.Si., M.Sc
Awardee LPDP Kementerian Keuangan PK-208. Tahun masuk studi jenjang Doktoral Angkatan 2023 Ganjil. Peneliti bidang kepakaran Biologi Lingkungan di Balai Litbangkes Donggala, Sulawesi Tengah, Kementerian Kesehatan RI (2006–Januari 2022). Bergabung ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Februari 2022–sekarang.
Menamatkan pendidikan Sarjana di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada tahun 2006, dan Magister di Prodi Ilmu Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat (FKKMK) UGM tahun 2011. Saat ini tengah menempuh pendidikan Doktor di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Memiliki pengalaman menjadi ketua maupun anggota tim penelitian dengan topik schistosomiasis, juga menulis artikel-artikel tentang schistosomaisis, baik pada jurnal nasional, internasional, maupun buku. Tim penulis buku Fokus Keong Perantara Schistosomiasis Serta Rencana Aksi Pengendalian dalam Rangka Eliminasi Schistosomiasis 2020, dan Pengembangan Model Bada Menuju Eliminasi Schistosomiasis 2021.
Tulisan oleh:

Anis Nur Widayati
Doktor Biologi
Persiapan Keberangkatan (PK) 208
Angkatan Awardee: 2023 Gasal
Reviewer: [Update]
Awalia Nur Sakinah
Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan



