The Details

Okt 04, 2026 .

Pot Sukulen dan Harapan yang Menolak Layu

Tulisan Awardee - Angeline
Keterangan: Kegiatan Social Project PK-265 Nanala Binayana di Panti 3 Yayasan Sayap Ibu Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta, 28 September 2025.

Pagi yang Tidak Biasa

Ada satu keterampilan yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah mana pun: cara menahan tangis sambil memegang mikrofon.

Saya baru benar-benar mempelajarinya pada Minggu pagi, 28 September 2025, di halaman Panti 3 Yayasan Sayap Ibu Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta. Hari itu, saya mendapat tugas sebagai pembawa acara untuk kegiatan Social Project angkatan kami, PK-265 Nanala Binayana, yang mengusung tema panjang dan penuh niat: “Berbagi Cerita & Inspirasi: Membangun Kemandirian dan Kegembiraan bagi Penyandang Disabilitas dan Individu yang Memerlukan Perlindungan”. Namun, dari sini saya belajar satu hal: ada tema yang baru selesai dijelaskan ketika kita mengalaminya sendiri.

Saya datang dengan susunan acara yang sudah saya hafal di luar kepala. Sapaan pembuka, jeda, intonasi, bahkan lelucon kecil untuk mencairkan suasana, semuanya sudah saya latih di depan cermin. Tugas saya jelas: menjaga acara tetap mengalir dan membuat semua orang merasa diterima. Yang tidak saya siapkan adalah apa yang terjadi di dalam dada saya sendiri.

Begitu melangkah masuk, saya melihat halaman yayasan sudah ramai oleh anak-anak penyandang disabilitas dengan beragam karakter dan cara mengekspresikan diri. Ada yang duduk di pangkuan pengasuh, ada pula yang bersila sambil menggoyangkan tubuh mengikuti irama musik yang bahkan belum dimainkan oleh siapa pun. Beberapa anak menyambut kedatangan kami dengan antusias sambil melambaikan tangan, sedangkan yang lain masih malu-malu dan memilih memperhatikan kami dari kejauhan. Tatapan mereka mengikuti langkah kami, seolah mencoba mengenali sekelompok orang asing yang hari itu hadir untuk berbagi cerita dan kebahagiaan bersama mereka. Saya menggenggam mikrofon lebih erat. Tiba-tiba, semua latihan di depan cermin itu terasa tidak cukup.

Tiga Materi, Satu Pesan yang Sama

Rangkaian acaranya sederhana: tiga sesi berbagi materi yang telah kami siapkan jauh-jauh hari.

Materi pertama membahas nyeri punggung bawah atau low back pain. Sekilas, topik ini mungkin terdengar kurang berkaitan dengan anak-anak. Namun, anak-anak penyandang disabilitas di yayasan tetap melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan kemampuan mereka, seperti duduk, berpindah posisi, bermain, dan berlatih, yang dalam kondisi tertentu juga dapat menimbulkan rasa lelah atau nyeri pada punggung. Di sisi lain, para pengasuh setiap hari mengangkat, memapah, dan menggendong anak-anak yang membutuhkan bantuan, sehingga kesehatan punggung juga penting bagi mereka. Saya melihat beberapa anak mengangguk sambil memegang pinggang mereka ketika pemateri menjelaskan posisi tubuh yang benar. Saat itu, saya sadar bahwa kami bukan sekadar memberikan materi, melainkan juga mengingatkan bahwa kesehatan mereka, baik anak-anak maupun para pengasuh, merupakan hal yang penting.

Sesi kedua membahas pengenalan emosi. Ini bagian yang paling riuh. Anak-anak diajak mengenali dan menamai apa yang mereka rasakan, seperti senang, sedih, marah, dan takut. Ada yang menunjuk dengan mantap. Ada yang menjawab dengan suara yang tidak langsung dimengerti oleh semua orang, tetapi pengasuhnya memahami, dan itu cukup. Ada pula yang menjawab pertanyaan, “Kalau sedang senang, rasanya bagaimana?” dengan cara paling jujur di dunia: ia tertawa.

Saya berdiri di sana, memegang mikrofon, dan diam-diam bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali saya sejujur itu dalam mengenali perasaan sendiri?

Sesi ketiga membahas cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. Jika sesi kedua riuh, sesi ini menjadi puncak keramaian. Ada peraga gigi, sikat gigi, dan anak-anak yang berebut untuk mencoba. Mereka aktif bertanya hingga saya sempat kewalahan mengatur giliran karena hampir semua ingin mendapatkan kesempatan berbicara. Suasana semakin meriah ketika mereka berhasil menjawab pertanyaan dan mendapatkan hadiah. Senyum dan kegembiraan mereka membuat saya sadar bahwa belajar dapat terasa begitu menyenangkan ketika dikemas dengan cara yang dekat dengan mereka.

Tiga materi dengan tiga topik berbeda, tetapi membawa satu pesan yang sama: tubuh kalian berharga, perasaan kalian berharga, dan kalian layak dirawat.

Panggung yang Membalik Segalanya

Lalu tibalah bagian yang tidak ada dalam latihan saya.

Dalam susunan acara, bagian itu tertulis singkat: “Penampilan dari adik-adik Yayasan Sayap Ibu.” Satu baris yang saya baca berkali-kali tanpa merasa perlu menyiapkan apa pun.

Saya salah besar.

Mereka menari. Bukan tarian yang dibuat sederhana agar penonton merasa kasihan dan bukan pula tarian yang disiapkan setengah hati. Mereka menari dengan hitungan, formasi, dan senyum yang tidak dibuat-buat. Ada gerakan yang tidak sempurna; ada pula yang tertinggal dari irama, lalu mengejarnya sambil tertawa. Justru di situlah keindahannya: tidak satu pun dari mereka berhenti hanya karena belum sempurna.

Setelah menari, mereka bernyanyi. Bukan sembarang lagu. Mereka menyanyikan lagu ciptaan sendiri.

Saya berdiri di sisi panggung dengan mikrofon di tangan dan mendadak tenggorokan saya terasa penuh. Beberapa menit lagi, saya harus mengumumkan kegiatan berikutnya. Saya harus terdengar ceria. Itu tugas saya.

Namun, yang berkecamuk dalam kepala saya adalah pertanyaan yang tidak nyaman: selama ini, saya berpikir kami datang untuk menginspirasi mereka. Mengapa sekarang justru saya yang merasa menerima sesuatu?

Kami datang membawa materi dan susunan acara; mereka menyambut kami dengan karya. Kami membawa pengetahuan; mereka membawa keberanian. Saya pun tahu mana yang lebih sulit dimiliki. Kegigihan yang saya lihat di panggung itu bukan kegigihan yang diceramahkan dalam seminar motivasi, melainkan kegigihan yang sederhana dan nyata: berlatih berulang kali, berdiri di depan orang asing, dan tetap bernyanyi hingga baris terakhir selesai.

Menulis Harapan pada Pot Sukulen

Sesi berikutnya menjadi bagian yang paling sunyi sekaligus paling mendalam: bonding dan refleksi bersama adik-adik yayasan.

Kami membagikan pot-pot kecil berisi tanaman sukulen. Bentuknya mungil, daunnya tebal dan berair, serta warnanya hijau. Tugasnya sederhana: tuliskan harapanmu pada pot itu.

Saya meletakkan mikrofon. Untuk pertama kalinya sepanjang acara, saya bukan seorang pembawa acara. Saya hanya seseorang yang duduk di lantai bersama seorang anak, memegang spidol, dan mendengarkan.

Ada yang menulis sendiri dengan huruf besar-besar yang miring ke kanan. Ada yang menyebutkan harapannya, lalu kami membantu menuliskannya. Ada yang membutuhkan waktu lama untuk memutuskan, dan memang begitulah seharusnya harapan diperlakukan.

Harapan mereka tidak muluk-muluk, dan justru itulah yang membuat saya tercekat. Tidak ada yang menulis ingin terkenal atau kaya raya. Mereka menuliskan hal-hal yang bagi kebanyakan orang sudah dianggap biasa: ingin sehat, ingin menjadi penari, ingin bahagia, ingin bersama orang-orang yang mereka sayangi, bahkan ada yang ingin mendirikan panti asuhan.

Belakangan, saya sadar bahwa sukulen adalah pilihan yang tepat. Tanaman ini mampu menyimpan air, bertahan di tanah kering, dan tetap tumbuh meski dengan perawatan sederhana. Perlahan dan diam-diam, tetapi tidak menyerah. Mungkin, seperti itulah anak-anak itu. Pot kecil yang mereka hias dengan harapan menjadi cermin kecil diri mereka: sederhana, kuat, dan terus bertumbuh.

Lapak Kecil yang Mengajari Saya Arti Kemandirian

Di salah satu sudut lokasi, berjajar aneka hiasan: pernak-pernik kecil berwarna cerah hasil kerajinan tangan.

Semuanya dibuat sendiri oleh anak-anak penyandang disabilitas di yayasan itu. Semuanya juga dijual.

Saya berdiri cukup lama di depan meja itu, bukan karena bingung memilih.

Tema kegiatan kami memuat kata “membangun kemandirian”. Selama persiapan, saya membayangkan kata itu sebagai sesuatu yang kami bawa ke sana, seolah-olah kemandirian dapat disumbangkan dalam kardus bersama konsumsi dan hadiah.

Ternyata tidak. Kemandirian itu sudah ada di sana jauh sebelum kami datang: berbentuk meja kecil di sudut halaman yang dipenuhi karya hasil ketekunan dan kesabaran mereka.

Membeli satu hiasan di meja itu bukanlah sedekah, melainkan transaksi: ada yang membuat, ada yang menghargai, dan ada yang membayar. Justru karena itu, hiasan tersebut terasa jauh lebih bermakna.

Saya pulang membawa satu hiasan. Sampai hari ini, benda itu masih ada di meja belajar saya. Setiap kali melihatnya, saya teringat bahwa pembuatnya tidak menganggap keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berkarya.

Siapa sebenarnya yang diberi?

Acara ditutup sore itu. Sebagai pembawa acara, sayalah yang mengucapkan kalimat penutup: terima kasih kepada pengurus yayasan, para pengasuh, adik-adik, dan teman-teman PK-265.

Kalimatnya lancar. Suara saya stabil. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kalimat formal itu, ada seseorang yang sedang kacau-balau dalam arti yang paling baik.

Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya pikirkan secara serius. Kami menyebut kegiatan ini Social Project. Ada kata “proyek” di dalamnya: sesuatu yang direncanakan, dianggarkan, dievaluasi, lalu dilaporkan. Secara administratif, semua itu memang perlu.

Namun, hari itu saya menyadari bahwa hal paling berharga dari kegiatan ini justru tidak dapat dimuat dalam laporan mana pun. Tidak ada indikator untuk mengukur harapan yang ditulis dengan huruf besar-besar pada pot sukulen. Tidak ada satuan untuk keberanian menyanyikan lagu ciptaan sendiri di hadapan orang-orang yang baru pertama kali mereka temui.

Saya datang ke Yayasan Sayap Ibu untuk memandu acara. Saya pulang dengan membawa pelajaran yang justru diberikan oleh mereka.

Menjadi awardee LPDP, bagi saya, sempat terasa seperti persoalan angka: nilai, seleksi, tahapan, kewajiban, dan target studi. Saya membayangkan pengabdian sebagai sesuatu yang dilakukan nanti, setelah lulus, setelah memiliki gelar, dan setelah merasa mempunyai cukup ilmu untuk memberi.

Hari itu membalik urutannya. Ternyata, pengabdian tidak menunggu kita siap; pengabdianlah yang justru membuat kita siap. Ilmu yang kita kejar selama bertahun-tahun baru benar-benar berarti ketika berpindah ke tangan orang yang membutuhkannya, disampaikan dalam bahasa sederhana, di halaman terbuka, dan di hadapan anak-anak yang mungkin tidak akan pernah membaca jurnal kita.

Sampai sekarang, saya masih sering teringat pot-pot kecil itu. Entah harapan yang tertulis di sana sudah terkabul atau belum. Entah tanamannya masih hijau atau sudah berganti.

Namun, saya percaya satu hal: sukulen tidak membutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup. Ia hanya membutuhkan seseorang yang sesekali ingat untuk menengoknya.

Semoga kami dan siapa pun yang membaca tulisan ini tidak pernah berhenti menengok mereka yang hanya ingin dilihat, didengar, dan dihargai.

Tulisan oleh:

Angeline

Angeline Stefanny Sirami
Magister Biologi
Persiapan Keberangkatan (PK) 265
Angkatan Awardee: 2025 Gasal

Reviewer:
Jusmawati
Magister Linguistik
Fakultas Ilmu Budaya

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *