JAM EMPAT PAGI

Pada ….
Pukul 04.00 adalah waktu yang aneh untuk membuat sebuah keputusan.
Pada jam itu, sebagian besar orang masih tidur. Jalanan belum ramai, lampu-lampu rumah masih menyala, dan udara malam belum sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada pagi. Tetapi bagi seorang residen, pukul empat sering kali bukan lagi bagian dari malam. Ia adalah batas antara hari kemarin yang belum selesai dan hari baru yang sudah terlanjur dimulai.
Alarm ponselku berbunyi.
Aku meraihnya tanpa membuka mata sepenuhnya. Sebelum beranjak dari tempat tidur, aku menoleh sebentar ke samping. Istri dan anakku masih terlelap. Wajah kecil yang beberapa jam lalu masih sempat kupandangi sebelum tidur itu kini terlihat begitu tenang.
Aku berdiri pelan-pelan agar tidak membangunkan mereka.
Ada hari-hari ketika aku bertanya kepada diri sendiri: bagaimana mungkin semua ini bermula dari sebuah keinginan untuk sekolah?
Dulu, ketika pertama kali memikirkan pendidikan lanjutan, bayanganku sederhana. Aku ingin menjadi dokter spesialis. Aku ingin kembali belajar, memperdalam ilmu, lalu membawa pengetahuan itu ke tempat yang membutuhkan.
Aku tidak membayangkan bahwa untuk sampai ke sana, aku harus meninggalkan rutinitas yang sudah nyaman, membawa keluarga kecilku pindah ke Yogyakarta, dan kembali menjadi seseorang yang harus belajar dari awal.
Aku juga tidak membayangkan bahwa sebuah beasiswa akan mengubah arti kata “perjalanan” bagiku.
Sebelum mengenal LPDP lebih jauh, aku bekerja sebagai dokter sekaligus aparatur sipil negara di sebuah daerah. Ada jarak sekitar 90 kilometer yang dahulu terasa biasa saja untuk ditempuh. Setiap perjalanan memiliki tujuan: pekerjaan, pelayanan, keluarga, atau sekadar pulang.
Namun, semakin lama, 90 kilometer itu terasa seperti sesuatu yang lain. Ia bukan lagi sekadar angka di peta. Ia menjadi jarak antara kehidupan yang sedang kujalani dan cita-cita yang ingin kukejar.
Aku ingin melanjutkan pendidikan spesialis.
Keinginan itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Tetapi memiliki keinginan dan memiliki keberanian untuk meninggalkan kenyamanan demi mewujudkannya adalah dua hal yang berbeda.
Lalu datanglah LPDP
Aku mendaftar, melewati proses seleksi, menunggu, dan akhirnya menerima kabar yang selama ini kuharapkan.
Namaku tercantum sebagai penerima beasiswa.
Saat itu aku merasa telah sampai.
Belakangan aku sadar, aku baru saja mendapatkan tiket untuk memulai perjalanan yang sebenarnya.
Yang pindah ke Yogyakarta bukan hanya aku.
Ada istri dan anakku.
Di atas kertas, mungkin hanya namaku yang tertulis dalam surat sebagai penerima beasiswa. Hanya namaku yang tercantum sebagai awardee. Tetapi ketika koper-koper mulai dikemas dan rumah lama perlahan ditinggalkan, aku sadar bahwa keputusan itu adalah keputusan kami.
Ada seseorang yang harus ikut meninggalkan rutinitasnya.
Ada seorang anak kecil yang harus beradaptasi dengan rumah baru.
Ada keluarga yang harus menerima kenyataan bahwa waktu bersama mungkin tidak lagi sebanyak sebelumnya.
Di sanalah aku mulai memahami bahwa sebuah kesempatan pribadi kadang-kadang memiliki konsekuensi keluarga.
Aku pergi untuk belajar, tetapi mereka ikut belajar tentang kesabaran.
Aku pergi untuk mengejar cita-cita, tetapi mereka ikut menanggung lelahnya perjalanan.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, merekalah yang paling sering mengingatkanku mengapa aku harus menyelesaikan perjalanan ini.
Menjadi residen ternyata membuat gelar dan pengalaman yang pernah dimiliki terasa sangat kecil.
Di satu sisi, aku adalah seorang dokter. Aku pernah bekerja, pernah menjadi mahasiswa pascasarjana, dan pernah memiliki tanggung jawab sebagai seorang aparatur negara.
Tetapi di rumah sakit pendidikan, aku kembali menjadi mahasiswa.
Aku kembali bertanya.
Kembali membaca.
Kembali salah.
Kembali diminta memperbaiki.
Kembali merasa bahwa ternyata masih banyak hal yang belum kuketahui.
Ada hari ketika pekerjaan dimulai sebelum matahari terbit dan baru selesai ketika sebagian besar orang sudah tidur. Ada presentasi yang harus dipersiapkan setelah seharian bekerja. Ada jurnal yang harus dibaca ketika tubuh sebenarnya hanya ingin berbaring. Ada pasien yang membutuhkan perhatian ketika pikiran sendiri sudah mulai kehilangan tenaga.
Pada hari-hari seperti itu, kata “beasiswa” terasa jauh sekali dari gambaran indah yang sering muncul di kepala orang.
Beasiswa bukan hanya tentang foto dengan jas almamater.
Bukan hanya tentang gelar.
Bukan pula sekadar tentang kesempatan belajar di institusi yang diimpikan.
Kadang-kadang beasiswa adalah tentang berdiri dari tempat tidur pukul empat pagi ketika tubuh ingin meminta tambahan lima menit.
Tentang memilih membuka buku ketika mata sudah berat.
Tentang tetap datang ketika semangat sedang tidak ada.
Tentang menerima kenyataan bahwa untuk menjadi lebih baik, seseorang harus bersedia berkali-kali merasa belum cukup baik.
Dan justru di situlah aku menemukan arti pendidikan yang berbeda.
Pendidikan ternyata bukan tentang membuat seseorang merasa lebih tinggi.
Pendidikan justru membuat kita semakin sadar betapa banyak yang belum kita ketahui.
Ada malam ketika aku pulang sangat larut.
Rumah sudah sepi.
Aku membuka pintu perlahan. Lampu kamar menyala redup. Anak dan istriku sudah tidur.
Aku berdiri beberapa saat di depan kamar anakku.
Ia tidur tanpa tahu bahwa ayahnya baru saja pulang.
Aku memperhatikannya.
Tiba-tiba muncul pertanyaan sederhana yang selama ini jarang kupikirkan:
Untuk siapa sebenarnya semua ini?
Untuk gelar?
Untuk pekerjaan?
Untuk kebanggaan?
Untuk diriku sendiri?
Jawabannya mungkin ada, tetapi tidak sepenuhnya.
Aku teringat pasien-pasien yang pernah kutemui. Orang-orang yang datang ke rumah sakit dengan membawa harapan yang kadang lebih besar daripada kemampuan mereka untuk membayar. Orang-orang yang tidak peduli dari universitas mana dokternya berasal. Mereka hanya ingin mendapatkan pertolongan.
Aku juga teringat tempat aku pernah bekerja.
Tentang daerah yang memiliki tantangan sendiri.
Tentang bagaimana ilmu yang bagi seorang dokter mungkin terasa biasa, bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi seorang pasien.
Saat itulah aku mulai memahami bahwa pendidikan yang sedang kutempuh tidak berhenti di ruang kuliah, ruang operasi, atau lembar jurnal.
Ada kehidupan di luar sana yang menunggu ilmu itu kembali.
Mungkin tidak sekarang.
Mungkin juga tidak langsung terlihat.
Tetapi suatu hari nanti, semua pagi yang dimulai pukul empat, semua malam yang selesai terlalu larut, semua rasa lelah, semua halaman buku yang dibaca berulang kali, dan semua waktu bersama keluarga yang harus dikorbankan akan menemukan tempatnya masing-masing.
Sekarang, setiap kali alarm berbunyi pukul empat pagi, aku tidak lagi menganggapnya sebagai suara yang mengganggu tidur.
Ia seperti pengingat.
Bahwa aku pernah punya sebuah mimpi.
Bahwa ada keluarga yang ikut berjalan bersamaku.
Bahwa ada orang-orang yang kelak mungkin akan menerima manfaat dari ilmu yang sedang kupelajari.
Dan bahwa kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk yang nyaman.
Kadang ia datang dalam bentuk koper yang harus dikemas.
Kadang dalam bentuk kota baru.
Kadang dalam bentuk tugas yang tidak kunjung selesai.
Kadang dalam bentuk rasa lelah yang membuat kita ingin berhenti.
Tetapi mungkin begitulah arti sebuah perjalanan.
Kita tidak selalu tahu ke mana setiap langkah akan membawa kita. Kita hanya tahu bahwa kita harus terus berjalan karena ada alasan yang membuat kita memilih berangkat.
Pukul 04.00.
Alarm kembali berbunyi.
Aku bangun.
Sebelum meninggalkan kamar, seperti biasa, aku menoleh sekali lagi kepada anakku yang masih terlelap. Aku mendekat, mencium keningnya, lalu melihat istriku yang masih tertidur.
Setelah itu aku mengambil tas dan membuka pintu.
Di luar, langit masih gelap.
Aku melangkah pergi.
Bukan karena aku ingin meninggalkan rumah.
Justru karena suatu hari nanti, aku ingin pulang dengan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar gelar.
Barangkali, itulah arti sebuah beasiswa: bukan tentang seberapa jauh ia membawa kita pergi, melainkan tentang untuk siapa kita bersedia menempuh perjalanan pulang.
Tulisan oleh:

Muhammad Alfi Reza
Urologi Program Pendidikan Dokter Spesialis FKKMK UGM
Persiapan Keberangkatan (PK) 263
Angkatan Awardee: 2025 Gasal
Reviewer:
Evi Windi S
Magister Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian


