The Details

Apr 21, 2017 .

Damainya Toleransi Indahnya Keberagaman

Sila ke-3 Pancasila adalah Persatuan Indonesia, persatuan ini tergambar dalam hubungan sosial antar-masyarakat Indonesia yang sangat heterogen. Heteregonitas ini terkias dalam kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”, yang menjadikan budaya damai menjadi semacam nilai-nilai hidup yang seharusnya mendarah daging pada sikap dan pergaulan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Budaya damai seharusnya bisa diterapkan dimana saja, di perusahaan, sekolah, organisasi, pasar ataupun pemerintahan. Karena selama masyarakat Indonesia melakukan interaksi dan komunikasi dengan lingkungannya, di situlah budaya damai bisa diterapkan.

Esai saya berikut adalah tentang budaya damai yang berlangsung di sekolah tempat saya bekerja. Saya pernah menjadi seorang guru TK dan SD di suatu sekolah swasta di Jakarta yang menggunakan kurikulum Cambridge. Di sekolah saya, baik suku, agama maupun ras yang ada sangat heterogen. Terdapat umat Islam, Hindu, Buddha, Kristen-Katolik, dan Konghucu, Terdapat pula orang-orang dari ras yang berbeda-beda, Arab, India, Pakistan, Jawa, Batak, Bali, Cina dan banyak lagi. Sekolah adalah tempat yang sangat ideal untuk menanamkan nilai-nilai mulia yang penting untuk perkembangan kepribadian anak. Sebaiknya sekolah menciptakan suasana yang penuh dengan toleransi, kekeluargaan, dan nilai-nilai kerukunan.

Salah satu wujud pelaksanaan budaya damai di sekolah saya adalah perayaan hari raya umat-umat beragama yang berbeda-beda. Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Indonesia mengakui 6 agama sebagai pengejawantahan sila tersebut. Beberapa hari raya 6 agama di Indonesia dirayakan secara bersama-sama di sekolah saya. Prinsip perayaan bersama tersebut bukan berarti kita beribadah menurut ajaran agama lain tetapi melaksanakan toleransi beragama dan sarana pengakraban di antara warga sekolah..Misalnya, untuk merayakan natal, di sekolah saya akan ada pohon natal raksasa di bagian tengah lobi. Setiap tahun selalu diadakan acara secret-santa, di mana sesama siswa akan saling bertukar hadiah. Begitu pula guru, guru akan saling bertukar kado dengan sesama guru. Nilai atau harga hadiah tersebut telah ditentukan sebelumnya, supaya terwujud keadilan dalam pemberian hadiah.

Saat perayaan Idul Fitri, diadakan halal-bihalal akbar antara guru, staf dan murid. Dalam halal bihalal tersebut seluruh warga sekolah saling maaf-memaafkan kesalahan sesama warga dan saling bertukar doa satu sama lainnya. Pada saat Idul Fitri, di lobi sekolah juga dibuat miniatur masjid yang sangat besar untuk merayakannya.

Perayaan imlek pun tidak kalah seru, karena sekolah sengaja mengundang pertunjukan barongsai, tarian naga, dan permainan wushu untuk ditonton anak-anak. Anak-anak pun dihimbau untuk memakai baju congsam atau minimal menggunakan baju dengan menggunakan warna merah. Anak-anak terutama yang masih taman kanak-kanak sangat gembira menyaksikan pertunjukan tersebut. Anak-anak pun memberikan makanan-makanan khas imlek kepada guru-guru seperti dodol keranjang, manisan dan kue nastar.

Yang paling saya sukai dari toleransi antar-umat beragama yang berlangsung di sekolah saya adalah pada saat doa pagi. Kami berdoa dengan menggunakan bahasa universal bukan doa doa yang biasa diucapkan oleh masing masing umat beragama. Teks doa sengaja dibuat untuk mengejawantahkan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Tiap pagi anak-anak berbaris di depan kelas dan mengucapkan doa secara bersama-sama yang dipimpin oleh salah satu teman mereka. Yang menarik adalah, pada saat anak-anak menutup mata, mereka begitu menghayati doanya., Posisi tangan mereka pun macam-macam, karena posisi tangan umat Islam, Kristen, Hindu dan Buddha saat berdoa memang berbeda beda. Di situlah makin terasa rentak “Bhinneka Tunggal Ika”.

Keberagaman etnis dan agama yang ada di Indonesia seharusnya senantiasa kita jaga. karena negara yang besar adalah negara yang masyarakatnya mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara damai. Kerukunan antar umat beragama adalah harga mati untuk dipertahankan. Negara Indonesia sangat mengormati dan menjamin hak asasi manusia, salah satunya jaminan keamanan untuk memeluk agama dan beribadat berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing yang dilindungi UUD 1945 pasal 29 (ayat 2). Perbedaan tak seharusnya membuat kita terpisah, namun justru semakin mengasah empatik kita untuk terus bertoleransi.

Sesungguhnya dunia ini terdiri dari milyaran warna, tidak hanya hitam-putih, baik-buruk, suka-tidak suka ataupun benar-salah. Namun ada milyardan warna berbeda yang apabila disatukan akan nampak keindahannya. Apabila kita menyukai merah, tidak seharusnya kita memaksakan penyuka warna hijau untuk menyukai warna merah. Karena dengan pemaksaan tersebut akan membuat penyuka warna hijau berpersepsi buruk terhadap warna merah. Cukup menunjukkan bahwa warna merah adalah warna yang indah, dan hijau tidak perlu menjadi merah.

Selain toleransi dalam beragama, budaya damai juga diterapkan pada saat peringatan hari Nasional di sekolah. Misalnya adalah pada saat Hari Kartini, pada hari Kartini anak-anak dan guru-guru di sekolah saya menggunakan pakaian tradisional atau pakaian daerah. Hari itu akan diadakan berbagai macam lomba seperti menghias tumpeng, fashion show, lomba mewarnai dan menggambar dsb. Ada beberapa kejadian menarik dan manis pada saat Hari Kartini. Yang pertama adalah saat salah satu murid laki-laki saya kelas 2 SD masuk sekolah dengan menggunakan baju beskap ala Jawa Timur. Dia ngotot tidak mau masuk kelas karena malu. Dan saya pun mendatanginya dan berkata, “Kenapa kamu malu sayang?” dan dia pun menggeleng ngambek.“Bangga ga kamu menjadi orang Indonesia? Kamu sayang ga sama Indonesia?” dan dia pun mengangguk mantap. Saya pun melanjutkan, “Kalau kamu bangga menjadi orang Indonesia, kamu tidak boleh malu pake beskap, kamu tidak boleh malu pake baju tradisional, karena baju tradisional itu baju kebanggaan negara Indonesia.” Kemudian saya melihat ia befikir sejenak merenungi ucapan saya, lalu ia pun tersenyum dan berkata, “Thank you, Miss Nurul, I am proud become an Indonesian.” Ia pun masuk ke kelas dan bermain bersama teman-temannya dengan gembira.

Cerita Hari Kartini kedua adalah saat salah satu murid saya perempuan kelas 3 SD datang ke sekolah dengan menggunakan baju adat dari Bali, ia malu karena baju Bali tersebut terbuka di bagian pundaknya. Ia nampak gelisah dan tidak mau masuk kelas. Kami pun bercakap-cakap dalam bahasa inggris (karena sekolah saya adalah sekolah SPK/ Satuan Pendidikan Kerjasama atau yang dulu disebut sekolah internasional maka bahasa komunikasi yang kami gunakan adalah bahasa Inggris). “Kamu ga perlu malu sayang, karena pakaian tradisional  Bali memang seperti itu, memang terbuka di bagian pundak, justru itu yang menjadikan pakaian adat Bali indah dilihat.” Dan ia pun menjawab dengan lugunya, “Tapi nanti kalau ada yang naksir pada saya karena pake baju terbuka ini bagaimana Miss?”, dan saya lalu menghiburnya dengan tersenyum.

Kekayaan terbesar Negara Indonesia adalah penduduknya yang sangat heterogen, berbagai macam etnis, agama, suku dan sebagainya. Hal inilah yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang sangat indah untuk ditinggali. Seringkali kita memandang kagum negara  Jepang (misalnya) yang begitu mampu mempertahankan budayanya di tengah arus teknologi dan modernitas yang sedang mereka usahakan. Misalnya penggunaan kimono dan yukata yang begitu dijaga dan dilestarikan di Jepang. Namun kita lupa, Indonesia jauh lebih kaya daripada Jepang dalam hal budaya apalagi hanya pakaian tradisional, karena Indonesia terdiri dari 34 provinsi dan memiliki 34 macam pakaian tradisional. Tak hanya pakaian tradisional, Indonesia mempunyai ratusan tarian daerah, puluhan lagu daerah, puluhan alat musik tradisional dan masih banyak lagi identitas budaya bangsa yang patut kita jaga dan lestarikan. Mari menanamkan kalimat SAYA CINTA INDONESIA, SAYA BERSYUKUR DAN BANGGA JADI ORANG INDONESIA.”  ke dalam sanubari kita dan sanubari anak cucu kita. Karena asset utama suatu bangsa adalah sumber daya manusianya. Dan anak cucu kita adalah calon pemimpin-pemimpin bangsa ini di masa depan yang perlu dipupuk kecintaannya kepada heterogenitas di Indonesia, dengan harapan melalui kecintaan terhadap bangsa Indonesia yang tinggi, maka pemimpin-pemimpin masa depan tersebut mampu membawa Indonesia menjadi negara jaya yang gemilang.

Nuurul Ilaahi R, S.Psi
Mahasiswa Magister Psikologi Profesi (spesialisasi Pendidikan)
UGM angkatan 2016 dan awardee LPDP PK-79

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *