Deteksi Dini Preeklampsia
Yogyakarta, 27 Juli 2017 – Preeklampsia merupakan suatu kondisi hipertensi dan proteinuria yang terjadi pada minggu ke-20 kehamilan. Preeklampsia masih menjadi satu dari tiga penyebab utama tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, penyakit ini menyebabkan 76.000 kematian maternal di seluruh dunia. Selain meningkatkan mortalitas maternal, wanita dengan riwayat preeklampsia memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi kronis. Komplikasi berat dari preeklampsia antara lain gagal ginjal akut, edema serebral, kerusakan hati, dan yang paling mengancam jiwa adalah eklampsia (kejang). Preeklampsia juga meningkatkan risiko bayi lahir prematur, bahkan beberapa kehamilan harus diterminasi dengan usia janin yang belum bisa hidup di luar rahim.
Hingga saat ini penyebab pasti terjadinya preeklampsia masih belum diketahui. Salah satu teori menyebutkan bahwa penyakit ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dimulai sejak awal menempelnya embrio dalam rahim. Ketika embrio menempel dalam rahim maka proses pembentukan plasenta pun dimulai. Proses perkembangan plasenta yang tidak normal (insufisien) akan menyebabkan terlepasnya berbagai mediator yang dapat memicu respon inflamasi dan berujung pada terjadinya hipertensi.
Preeklampsia akan ditangani segera setelah terdeteksi. Penanganan preeklampsia tergantung kondisi yang terjadi, bila mengancam jiwa, maka satu-satunya penanganannya adalah segera melahirkan bayi melalui operasi sesar. Akan tetapi pada banyak kasus, preeklampsia baru terdeteksi setelah minggu ke-30 kehamilan, padahal semakin cepat terdeteksi maka outcome kehamilan semakin baik. Adapun deteksi dini (sebelum gejala klinis muncul) masih belum bisa dilaksanakan karena belum ditemukan tools yang dapat memprediksi kejadian preeklampsia.
Banyak peneliti di seluruh dunia yang sedang meneliti biomarker yang diduga terlibat dalam patogenesis preeklampsia. Salah satunya adalah soluble fms-like Tyrosine kinase (sFlt-1) suatu reseptor VEGF dan soluble Endoglin (sEng) suatu reseptor TGF-beta. Diduga bahwa konsentrasi kedua biomarker tersebut mengalami peningkatan sebelum gejala klinis (hipertensi dan proteinuria) preeklampsia terjadi. Apabila ditemukan tools yang dapat memprediksi kejadian preeklampsia, diharapkan akan menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal.
Note: Penulis (Andi) sejak awal tahun 2017 hingga saat ini sedang melakukan penelitian pada tikus model preeklampsia dan tikus hamil normal. Penulis meneliti biomarker berupa soluble fms-like Tyrosine kinase (sFlt-1), suatu reseptor VEGF dan soluble Endoglin (sEng), suatu reseptor TGF-beta yang merupakan biomarker yang terlibat dalam patogenesis preeklampsia. Hipotesis penulis adalah kedua biomarker ini dapat dijadikan sebagai biomarker deteksi dini preeklampsia.
Andi Fitriani Kusuma, S.Keb., Bd.
Ilmu Kedokteran Dasar & Biomedis
Fakultas Kedokteran UGM


