EMP Modal Dokter RI Bersaing di MEA
Yogyakarta, 28 Juli 2017 – Menjamurnya rumah sakit berkelas internasional dan dibukanya pasar bebas negara ASEAN mendorong tenaga kerja Indonesia baik yang menyasar pasar dalam maupun luar negeri untuk terus mengembangkan potensi diri sebagai bekal persaingan global. Peluang semacam ini menjadikan calon – calon dokter di Bandar Lampung giat mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris Medis (English for Medical Purposes/EMP).
Namun, kendala pembelajaran bisa saja menurunkan semangat belajar para calon dokter. Peneliti sekaligus praktisi Bahasa Inggris Medis (EMP) dari Balai Bahasa Universitas Malahayati Lampung, Muhammad Rudy, mendapati laporan permasalahan yang dialami oleh banyak calon dokter yang ingin mempelajari bahasa Inggris secara lisan. Salah satu permasalahan yang dihadapi yakni kecenderungan membuat kesalahan saat mencoba mengucapkan kata – kata dalam bahasa Inggris.
Menurut Rudy, banyak masalah pengucapan yang ditemui pada praktik menyampaikan diagnosa kepada pasien. Beberapa calon dokter yang memang jarang menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian biasanya kesulitan menyebutkan kata – kata tertentu. Sebagai contoh, saat menyebutkan hipertensi dalam bahasa Inggris mestinya diucapkan haypertensiyen bukan haypertensi.
Keadaan ini tidak dapat dibiarkaan begitu saja, beberapa calon dokter malah khawatir jika meraka merasa gagal dalam pembelajaran bahasa Inggris dan mereka merasa berkarir internasional hanyalah impian belaka. Sebagaimana diketahui dalam menyampaikan diagnosa, dokter harus menggunakan bahasa Inggris yang sudah terstandar agar komunikasai antara pasien dan dokter bisa saling berterima.
Menanggapi fenomena ini, Muhammad Rudy memandang hal ini merupakan hal yang wajar saja. Berdasarkan penelitian fenomena ini biasa terjadi pada pembelajar bahasa asing, yang biasa diamati di keilmuan Second Language Acquisition (SLA)/Pemerolehan Bahasa Asing. Sulitnya pengucapan disebabkan kekakuan lidah yang biasa ditemukan pada pembelajar yang jarang mempraktikan bahasa yang dipelajarinya. Ia menyarankan hanya dengan lebih intens berlatih menggunakan bahasa Inggris yang telah didapat bisa menghindari kekakuan lidah sebagai upaya menghindari kesalahan dalam pengucapan.
Permasalahan di atas memang merupakan hal yang perlu dimaklumi. Berdasarkan penelitian – penelitian lainnya munculnya kesalahan hanyalah bagian dari proses yang sewajarnya diperbaiki dengan cara lebih giat berlatih. Memperbaiki lidah yang kaku (fosilisasi) hanyalah dengan rajin melatihnya sebagaimana jika kita ingin mempertajam pisau hanya dengan mengasahnya.
Oleh: MR
Editor: Radja Hendrik Napitupulu


