The Details

Apr 15, 2017 .

Kutukan Sumberdaya Alam (Resource Curse)

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya alam yang besar. Baik sumberdaya alam yang dapat diperbaharuai atau tidak dapat diperbaharui. Kekayaan sumberdaya alam terbentang dari barat Indonesai hingga timur Indonesia. Kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia tidak mencerminkan kesejahtraan masyarakatnya. Banyak faktor yang mempengaruhi kenapa masih banyak masyarakat yang kurang sejahtera padahal potensi sumberdaya alam Indonesia sangat besar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya sistem perekonomian yang cenderung tidak memihak pada keterbatasan masyarakat miskin, kondisi fisik Indonesia yang membentang dari barat-timur yang membuat aksesibilatas antar wilayah sulit terhubung, dan masalah akses masyarakat ke aset-aset kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Fenomena ini seperti kutukan sumberdaya alam yang menyatakan bahwa wilayah-wilayah yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang besar, masyarakatnya cenderung miskin.

Kolstad dan Wiig (2009) menyebutkan bahwa Kutukan sumber daya alam pada dasarnya merupakan hipotesis yang menyatakan semakin besar karunia alam yang dimiliki suatu wilayah, semakin menggiring wilayah tersebut kepada keterbelakangan. Sachs dan Warner, 1995; menambahkan bahwa negara yang dianugerahi kekayaan alam kerap terjebak pada pertumbuhan yang lamban dan masalah kemiskinan. Selain itu, kekayaan sumberdaya alam yang melimpah cenderung membuat penduduk malas dan tidak kreatif. Kondisi ini akan menjadi kutukan jika sumberdaya alam, seperti minyak, gas bumi, dan batu bara terus dieksploitasi secara besar-besaran, tanpa ada inovasi. Untuk itu, peran sumberdaya manusia dalam mengoptimalkan sektor di luar non-renewable sangat besar untuk kemajuan suatu negara. Pada hakekatnya kekayaan terbesar suatu bangsa bukan terletak pada sumberdaya alamnya, namun sumberdaya manusianya.

Kutukan sumberdaya alam juga dikenal dengan istilah the Ducth Disease atau penyakit Belanda. Istilah ini muncul sejak ditemukannya sumber gas alam dalam jumlah besar di lepas pantai utara Belanda pada tahun 1977. Penemuan sumber gas ini tidak menjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi Belanda, justru mala sebaliknya. Perekonomian Belanda mengalami keterpurukan. W. Max Corden dan J. Peter Neary (1982) mengungkapkan bahwa negara-negara yang kaya sumber daya alam cenderung tidak mengembangkan teknologi untuk mengolah kekayaan alamnya. Negara-negara dengan kekayaan SDA yang melimpah sudah merasa puas dengan menjualnya dalam bentuk mentah. Akibatnya, indutrialisasi dan inovasi produk tidak berkembang dan Negara tersebut menjadi terlalu bergantung pada SDA-nya. Oleh karena pengamatan pertama dilakukan berdasarkan studi di Negara Belanda, maka fenomena di atas disebut sebagai the Dutch Disease. Kondisi ini sangat mirip dengan keadaan Negara Indonesia. Berbagai macam kekayaan yang ada di perut bumi di eksploitasi secara masif dan langsung diekspor, tanpa ada pengolahan yang lebih lanjut.

Perilaku pemerintah atau para pemilik modal yang mengeksploitasi secara besar-besaran merupakan cara pandang yang primitif dan destruktif. Orentasi keuntungan akan menjadi pemicu untuk memperluas cakupan pengambilan sumberdaya yang akhirnya membuat kerusakan lingkungan, seperti degradasi lahan, erosi, dan deforestrasi wilayah hutan yang membuat keseimbangan ekosistem terganggu. Fatah (2008) menyatakan bahwa pada kasus Kalimantan Selatan terdapat bukti bahwa sektor pertambangan batu bara bertanggung jawab terhadap banyak pencemaran lingkungan dan gangguan sosial. Selain itu, masyarakat yang berada di dekat kawasan pertambangan sering kali semakin termarjinalkan karena pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dan sosial ekonomi.

Masalah di atas terkait erat dengan visi misi para pemimpin wilayah atau negara. Maju atau tidaknya suatu wilayah atau negara, mempunyai implikasi terhadap kualitas kemampuan para pemimpinnya. Para pemimpinlah yang memegang kunci arah pembangunan. Kunci inilah yang akan membuka atau menutup izin segala permintaan para pemodal untuk mengeruk sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui secara besar-besaran tanpa memperduikan daya dukung lingkungan. Seharusnya, seorang pemimpin memperhatikan aspek-aspek pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan akan memberi pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahtraan masyarakat. Pemimpin seperti inilah yang didambakan setiap warganya.

Imam Arifaillah Syaiful Huda
Mahasiswa Pascasarjana
Program Studi Geografi
Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *