Rakiman
–Gilang Vaza Benatar
Sindupraja surut. Sedikit saja air menggenangi kedung. Rakiman terduduk lesu di punggung tanggul, menatap sawahnya yang kurang dari sebau retak-retak. Padahal, padi IR-nya lagi bunting. Tiga jam Rakiman mengutak-atik pompa air. Tetap tak menyala. Keringat merembes dari sela-sela rambutnya yang bringsang, membasuh mukanya yang belokcepot.
Mungkin ini kali Rakiman gagal lagi. Telah lima musim ia bertanam. Padi genjah super, padi gogo aromatik pulen, sampai padi hitam anti diabetes ia tanam. Sistem semi organik dan bumbu-bumbu teknologi teranyar ia benam. Sayang, hasil panen selalu kena harga suram. Pasar cuma kenal padi IR.
“Wis, tah. Pulang saja.” Rakiman dikagetkan suara Dolop yang baru-baru muncul di depannya. Sawah Rakiman dan Dolop dibatasi satu pematang sama, dan sama-sama punya kualitas tanah borok warisan Revolusi Hijau. Bedanya, Rakiman mengolah sawah almarhum bapaknya, Dolop buruh tani Wak Kaji Kuwu Dulatip. Dolop tak lulus SD, Rakiman sarjana pertanian. “Coba sira kayak Jebod, Man. Biar lulusan SMA, cuma buruh pabrik onderdil di Taichung, belum dua tahun wis bangun rumah. Sarjana, jeh, nyangkul!” Serangan kata-kata Dolop membikin pikir dan benak Rakiman kisruh. Tapi, benar juga, sih, yang Dolop bilang. Andai Rakiman lepas wisuda mengikuti jejak rekan-rekannya, bekerja di bank atau jadi PNS. Atau nurut kepinginan bapaknya buat jadi mantri pestisida. Paling tidak ia bisa memastikan
Rapisah soal kapan melamar.
Hari makin terik. Bedug penanda lohor bertalu-talu di seberang tanggul. “Ncak bantu-bantu betulkan pompa reang.” Dolop tak merespon, sibuk menyelipkan arit ke sela jeruji sepedanya. “Jangan lupa setengah delapan malam ada pertemuan mahasiswa KKN di balai desa,” masih tak ada respon. “Banyak hadiah,” mendadak Dolop mendelik. “Palingan mereka kayak sira begini habis lulus. Betulin pompa saja nggak becus,” respon Dolop sambil tersenyum kecut. ”Tapi…,” ia melenguh, “berhubung banyak hadiah, leh uga.” Lelaki tambun berkaos gambar merek pestisida bertuliskan “Anti Gagal Bertani” itu terkekeh, menyudahi percakapan sembari menyorong sepeda jengki birunya. Buru-buru ia meluncur, membelah
jalan setapak tanggul.
Deru angin kering musim batala rengka menggulung-gulung di atap udara Kalidalem Kidul. Terbesit dalam ingatan Rakiman informasi dari Arya–teman SMA-nya yang sudah diangkat PNS–bahwa akhir tahun kembali dibuka seleksi CPNS besar-besaran. Ia berniat mengorek Arya di acara reuni SMA kebetulan dan dadakan besok.
…
Dulkamid, bapak Rakiman yang cuma lulusan SD, kepingin banget salah seorang anaknya jadi mantri pestisida. Selain dijuluki dokter, dokter tanduran lengkapnya, mantri pestisida dikenal paling tahu juga soal kondisi tanah, pupuk, benih, pengairan, banyak even pertanian hingga cuaca–lebih banyak tahu dibanding penyuluh lapang. Apalagi suka memberi hadiah dan sampel pestisida gratis, mantri pestisida jadi punya tempat di hati petani Kalidalem Kidul. Bagi Dulkamid, yang paling membanggakan tentulah yang terutama bisa mengungguli penyuluh lapang. Entah apa ia punya alasan.
Dulkamid berharap kepada Rokim, si pembarep, buat jadi mantri pestisida. Sayangnya, Rokim lebih bakat jadi dalang singa depok. Dulkamid tak patah arang. Rakiman sejak umur lima selalu disodori brosur-brosur pestisida hasil pertemuan yang diikuti Dulkamid. Positif buatnya, Rakiman banyak tanya soal bertani. Di sekolah, Rakiman juga selalu ranking satu. Sampai juga ia dikuliahkan pertanian, dan mujur, dibiayai oleh Wak Kaji Kuwu Dulatip yang menangkap potensinya. Sedang adik perempuan kembar Rakiman, Yamtini dan Yamtina, seperti kebanyakan gadis lain, karir mereka paling prestisius pastilah jadi TKW. Ibu Rakiman, Raminah, no coment. Baginya cukup mendo’a baik-baik buat anak-anak. Setidaknya Yamtini dan Yamtina tak turut mengamini identitas Kalidalem Kidul yang dikenal mensuplai banyak telembuk ke kota-kota besar.
Menjelang tahun terakhir Rakiman kuliah, kabar mengagetkan datang. Raminah kalap sebab Dulkamid dua malam tak pulang. Kalidalem Kidul geger. Warga pikir Dulkamid digondol wewe gombel. Saban malam warga keliling pakai ritual khusus; memukul perabot dapur; beberapa orang telanjang bulat menari-nari; berharap wewe gombel melepas Dulkamid yang diduga disekap di teteknya. Pada sore hari keempat pencarian, oleh anak-anak yang sedang mencari kraca Dulkamid ditemukan njungkel di tengah sawahnya dengan knapsack sprayer masih tergendong. Orang forensik bilang Dulkamid gagal napas akibat banyak menghirup senyawa organofosfat. Ia tewas keracunan pestisida!
Lepas wisuda dan lewat masa-masa sulit ditinggal bapaknya, Rakiman bertekad buat bertani. Meskipun hanya sawah kurang dari seperempat bau sisa warisan yang sudah dibagi-bagi, ia ingin mengelolanya baik-baik. Ia bervisi menjadi barometer pertanian jaman now bagi desanya, sebagai timbal balik yang layak kepada bapaknya dan Wak Kaji Kuwu Dulatip yang sudah membiayai kuliah. Yang penting jangan jadi mantri pestisida! Gumam Rakiman kala itu.
“Bawa banyak kaos sira, Lop?” Rakiman merangkul Dolop yang sedari tadi sumringah. “Yang goblok reang apa mahasiswa ya, Man? Wong reang jawab ngasal saja, jeh, dikasih kaos banyak-banyak.” Mereka berjalan meninggalkan balai desa Kalidalem Kidul yang masih ramai oleh mahasiswa KKN berdangdut ria sama para mantri pestisida.
Sesampai di rumah, Rakiman melihat ibunya terlelap. Yamtini dan Yamtina masih berjibaku dengan PR. Rakiman langsung meluruskan badan di atas dipan di kamarnya. Matanya menyapu sisi-sisi dinding. Ada banyak foto demonstrasi, medali dan sertifikat olimpiade ilmiah terbingkai di sana. Rakiman sadar. Pondasi idealisme yang dibangun selama kuliah masih amatlah rapuh. Rakiman lupa bahwa kuliah pertanian harus banyak turun ke sawah, bukan olimpiade, apalagi demonstrasi.
Mungkin ini alasan bapak ingin sekali aku jadi matri pestisida. Kalau aku terus bertani, masak adik-adikku harus putus sekolah? Benak Rakiman bergumam. Realistis. Ia tak sabar ketemu Arya di acara reuni SMA kebetulan dan dadakan besok, di pernikahan Jebod dan Desi, di desa sebelah. Rakiman terlelap. Ia kini maklum bahwa bapaknya tewas akibat kebiasaan tak pakai masker saban nyemprot. Idealisme? Sudahlah.
…
“Aduh. Anakan Darsa! Rambut yang dulu bringsang, kini berubah klimis. Bawanya ninja empat tak!”
“Kenalin. Susi. Pacar gue, coy. Anak Jakarte asli, coy. Supervisor asisten rumeh tangge! Coy! ”
“Maksudnya, dia kepala balai pelatihan kerja khusus asisten rumah tangga, Kam, Daskam?”
“Bukan, Plang, Daplang. Dia ketua geng asisten rumeh tangge di komplek gue ngekost!”
“Ni hao. Apa kabar, gaes. Habis ini ke Tirtamaya, yuk?” Titin menginterupsi Daplang dan Daskam.
Di Kalidalem Lor, di acara resepsi Jebod dan Desi, di momen cuti lebaran ini kali, Rakiman bereuni kebetulan dan dadakan bersama teman-teman SMA-nya. Ia duduk memisahkan diri. Gelisah, minder, campuraduk. Tujuh tahun lepas lulus SMA ia merasa tak progresif dalam karir seperti teman-temannya. Rapisah yang sedang libur kuliah pun ia tak berani ajak. Jangankan mengajak, ndongol di rumahnya pun Rakiman sungkan.
“Sira nylempot kayak undur-undur. Gabung bareng batur-batur .”
“Arya! Ketek songek!”
Lelaki berstelan kemeja merah marun dan jeans biru gelap itu menyeret Rakiman menuju koloni teman-temannya.
Tak ada bahasan lain selain baju bagus, kendaraan bagus, gebetan, gaji, kantor, jalan-jalan, sampai telembuk. Rupanya benar, hampir di segala hal, Rakiman tertinggal jauh dari yang lain. Mujur ia berhasil menguasai suasana dengan mendongengkan pengalamannya demonstrasi di depan istana negara dan ikut lomba-lomba di luar negeri. “Tetap bae, Man. Sekarang sira nyangkul di sawah.” Ejek Darsa disusul tawa teman-temannya yang lain. Wajah Rakiman pucat. Ingin rasanya membeli tawa teman-temannya itu dengan pemaparan teori Malthus soal population growth yang bikin penduduk bumi kelaparan di masa datang seiring kerusakan dan penyeempitan lahan-lahan pertanian. Namun itu seperti membeli rumbah kopek dengan dolar hongkong. Tak terbeli.
Rakiman berbisik pada Arya supaya dapat berbicara khusus soal seleksi CPNS. Mereka menuju samping panggung orkes Dian Anic yang sedang melagukan Juragan Empang. Sembari menyesap rokok, Arya memaparkan tahap-tahap seleksi, tip, jenjang berikut fasilitas-fasilitas ketika menjadi PNS. “Kalau tingkat daerah, gampang. Nanti sira bisa reang titipin ke bapak, Man.” Mata Rakiman berbinar-binar.
Sekarang Rakiman punya tekad stabilisasi diri dengan karir jelas. Ya. Ia sangat amat bertekad. Bapaknya dan Wak Kaji Kuwu Dulatip mestinya rikuh dengan hidup Rakiman yang tak berkemajuan. Ibunya gembira jika ia setiap pagi berseragam dinas, pergi ngantor. Yamtini dan Yamtina juga tak perlu risau dengan biaya sekolah. Dan, tentu saja, Rapisah dan orang tuanya juga lebih bersukacita kalau ia punya masa depan lebih tertata. Bukan belok-belokan di sawah dan berjudi dengan harga hasil panen. Rakiman pulang membawa visi baru: jadi PNS!
…
Tiba di serambi rumahnya, Rakiman heran melihat banyak sandal. “Lah, Rakiman teka. Salim sama Wak Kaji Kuwu Dulatip dan Wak Kaji Dariyem.” Raminah tersenyum lembut kepada Rakiman. Kebingungan Rakiman segera menguap setelah melihat siapa yang bertamu: orang tua Rapisah. Rakiman terlihat percaya diri menyalami mereka. Sebab jika ditanya karir, ia sudah punya jawaban pamungkas. Bahkan sepanjang jalan pulang ia mantap menghitung-hitung kapan bisa melamar anak mereka.
Rapisah turut ada di situ. Ia mahasiswi pertanian di kampus Bogor. Ayahnya sahabat bapak Rakiman sejak kecil, bahkan lahir barengan di tangan dukun beranak yang sama. Namun sepaham Rapisah, pun Rakiman, mereka tak pernah membicarakan perjodohan. Meskipun semuanya sama-sama tahu kalau Rapisah dan Rakiman sudah seperti sepasang céplek sejak kecil.
“Tentu kalian tahu. Dulkamid banyak bantu saya jauh sebelum njabat kuwu Kalidalem Kidul. Paling membekas masa-masa nyupir bajaj di Kebayoran pas masih bujang. Soal biaya kuliah, Rakiman nggak usah mikir. Itu nggak seberapa dari yang bapakmu kasih.” Wak Kaji Kuwu Dulatip memulai pembicaraan. “Justru kami yang harus banyak kesuwun ,” kata Raminah sembari menyendok krawuh, makanan tradisional berbahan dasar cacahan singkong dan parutan kelapa, dari ceting untuk disajikan di atas piring seng. Rakiman mantuk-mantuk sambil memandang dengan tatapan optimistis kepada Rapisah.
“Begini, Rakiman. Dolop itu banyak cerita sama saya kalau kamu titen banget menerapkan teknologi yang kamu bawa dari kampus di sawahmu. Ngajarin petani lain. Terutama soal pestisida organik berbasis agensia hayati. Rapisah juga banyak cerita perjalanan kuliahmu. Saya pikir sekarang waktu yang tepat untuk..”
“Siap, Wak Kaji Kuwu! Bulan ini saya melamar CPNS dan yakin lolos! Saya lamar Rapisah selepas dia wisuda!” Potong Rakiman dengan semangat berapi-api. Semua menatapnya kaget. “Kok, PNS, kang Man?” Dahi Rapisah mengkerut, alisnya beradu. Rakiman kikuk. Senyumnya berubah cengir kuda. “Ladalah. Kesambet demit apa kamu, Nang? Tiba-tiba berubah haluan begitu?” Tukas Wak Kaji Dariyem. Rakiman seperti pesakitan yang kecletot menjawab pertanyaan hakim. “Jadi penyuluh lapang?!” Raminah memburu. Lidah Rakiman kelu. Hening yang panjang di antara mereka.
“Begini, Nang. Rakiman.” Wak Kaji Kuwu Dulatip menghembuskan napas perlahan, “jadi PNS sangat baik. Namun kami lebih butuh kamu. Kalidalem Kidul baru saja diusulkan pemda menjadi kawasan sentra mangga lokal, terutama karena kebun mangga cengkir dan gedong gincu yang kita punya lumayan luas. Kamu bisa aplikasikan teknologimu itu buat dukung produk mangga kita supaya tembus ekspor. Tahu sendiri, kan, kalau mangga banyak residu pestisida kimia nggak laku di pasar internasional? Tanah bengkok saya hibahkan buat bangun rumah kaca dan laboratorium kecil-kecilan supaya kamu dan petani-petani Kalidalem Kidul bisa sama-sama sinau.”
Mendadak Rakiman kaku sekujur tubuh.
“Rapisah sudah nyicil pola manajemen hulu hilirnya. Pra tanam sampai pasca panen mesti turut kamu dan pemuda-pemuda Kalidalem Kidul rancang betul-betul supaya outputnya lebih optimal. Tentu dasar kita koperasi. Semua warga, apa pun sumber daya yang dimiliki, bisa berpartisipasi. Buat mengisi posisi-posisi teknis, kita gaji ahli-ahli. Semoga dengan begitu kita bisa berperan di tanah kelahiran sendiri, nggak perlu jauh-jauh ke kota atau ke negeri orang. Apalagi, punten, sampai jadi telembuk?!”
Rakiman tak berkedip barang sekali pun. Setiap sel yang menyusun tubuhnya beku.
“Ini waktu yang tepat kamu berbakti buat Kalidalem Kidul.” Sesimpul senyum merekah dari bibir Wak Kaji Kuwu Dulatip. “Satu lagi, Man.” Wak Kaji Kuwu Dulatip terdiam sejenak, menatap Rakiman dalam-dalam, “kamu dan Rapisah memang akan lebih baik kalau menikah. Semoga Gusti Allah mberkahi pernikahan kalian sebab punya misi juang yang jelas buat Kalidalem Kidul.” Wak Kaji Kuwu Dulatip berseri-seri wajahnya. “Kami tunggu di rumah kapan pun kamu siap melamar, Nang.” Tambah Wak Kaji Dariyem. “Aamiin..” Timpal Rapisah dan Raminah berbarengan. “Aamiin..,” susul Yamtini dan Yamtina yang muncul dengan nampan berisi jagung dan kedelai rebus.
Badan Rakiman yang kekar dan tegap karena sering ngélangi di kali Cimanuk pecah berkeping-keping.
Rakiman semaput.
…
Editor: Alam Syah Pratama
Gilang Vaza Benatar adalah Awardee LPDP PK-114 kelahiran Indramayu yang sedang menempuh studi Magister Fitopatologi (Ilmu Penyakit Tumbuhan) di Universitas Gadjah Mada.


