The Details

Sep 22, 2025 .

Riset, Kolaborasi, dan Publikasi: Transformasi Ilmiah di Bootcamp LPDP UGM 2025

Yogyakarta, 22 September 2025 – Kelurahan LPDP UGM sukses menyelenggarakan Academic Writing & SLR Bootcamp 2025 dengan edisi spesial bertajuk Research Clinic & Collaboration. Kegiatan ini dilaksanakan di Bighen Chicken Senturan, Yogyakarta, dengan menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang penelitian dan publikasi internasional. Selama dua hari penuh sejak tanggal 20 sampai 21 September 2025, para awardee LPDP UGM mendapatkan pendampingan intensif dalam menyusun Systematic Literature Review (SLR) serta menyiapkan naskah akademik siap submit ke jurnal Scopus Q1.

Pembukaan dan Penyelarasan Visi

Hari pertama dimulai dengan registrasi peserta pada pukul, disusul dengan pembukaan resmi oleh panitia. Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai awal kegiatan, menandakan kesiapan peserta dalam mengikuti rangkaian bootcamp. Sambutan yang disampaikan tidak hanya memaparkan tujuan acara, tetapi juga menekankan pentingnya publikasi ilmiah sebagai kontribusi nyata untuk bangsa.

Para peserta diajak untuk melihat tantangan publikasi di jurnal bereputasi sebagai peluang, bukan hambatan. Dalam konteks inilah, bootcamp menjadi media untuk memperkuat kesiapan teknis sekaligus mental para peneliti muda. Keberanian untuk memulai, konsistensi dalam proses, serta kolaborasi antarawardee menjadi kunci untuk menembus publikasi internasional.

Dengan atmosfer yang positif, pembukaan acara menjadi fondasi penting untuk menyelaraskan visi antara panitia, narasumber, dan peserta. Momentum ini diharapkan dapat memicu semangat sepanjang kegiatan berlangsung, sehingga setiap sesi mampu memberikan manfaat maksimal.

Menyelami Tantangan dan Konsep SLR (Hari Pertama)

Pada kegiatan ini, sesi pertama diisi oleh Tri Wahyuningsih, selaku Kepala Divisi Penelitian dan Pengetahuan LPDP UGM. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa tantangan utama dalam publikasi Systematic Literature Review (SLR) maupun publikasi ilmiah lainnya adalah menemukan celah penelitian (research gap) dan merumuskan kontribusi teoritis yang kuat.

Tri menjelaskan bahwa hampir 90% artikel ditolak pada tahap awal ketika editor in chief menilai tidak adanya kontribusi teoritis dalam naskah yang diajukan. Oleh karena itu, kebaruan (novelty) dan kontribusi teoritis menjadi faktor kunci yang menentukan apakah sebuah artikel dapat melanjutkan proses peninjauan atau langsung ditolak.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa aspek tersebut akan sangat memengaruhi pemilihan topik SLR, artikel yang diunduh, hingga penentuan kata kunci dan protokol teknis lainnya. “Penting sekali bagi seluruh peserta untuk benar-benar menekankan kebaruan yang jelas serta kontribusi teoritis yang benar-benar baru dan terjelaskan dengan baik,” ungkapnya. Ia menambahkan, meskipun model penelitian terlihat bagus dan paper menarik, ketiadaan kontribusi teoritis yang kuat dapat berujung pada kegagalan publikasi.

Sesi kedua hingga selesai dilanjutkan oleh Afnei Ngan Billy Tumba, narasumber dari program Master of Science in Management, yang mendalami metode Systematic Literature Review dalam perjalanan risetnya. Pada sesi ini, ia membahas lebih teknis mengenai langkah-langkah menghadapi tantangan yang telah dijelaskan pada sesi pertama, termasuk strategi praktis dalam menyusun SLR yang baik dan sesuai standar publikasi ilmiah.

Klinik Sintesis dan Forum Diskusi

Setelah ishoma, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Klinik Naskah SLR (Peer Review) yang memberi ruang lebih dalam bagi peserta untuk mempresentasikan kemajuan rancangan penelitian mereka. Pada tahap ini, fokus diberikan pada struktur dan kualitas metodologi yang sudah disusun. Peserta mendapat arahan mengenai bagaimana memastikan kesesuaian alur logika, ketepatan pemilihan literatur, serta keterhubungan antara tujuan riset dengan hasil sintesis. Proses peer review ini semakin menegaskan pentingnya perspektif eksternal sebagai cermin untuk menyempurnakan karya ilmiah.

Sesi berikutnya menghadirkan materi Pengantar dan Pengenalan Jurnal Bereputasi (Scopus). Narasumber menjelaskan klasifikasi jurnal internasional, termasuk perbedaan quartile (Q1–Q4) dan bagaimana pengaruhnya terhadap reputasi akademik. Peserta juga dikenalkan pada ciri-ciri jurnal predator yang kerap menjebak penulis pemula, sehingga mereka dibekali kemampuan kritis dalam menilai kualitas penerbitan. Diskusi ini membuka wawasan bahwa memilih jurnal bukan sekadar teknis pengiriman, tetapi juga bagian dari strategi membangun rekam jejak akademik.

Terakhir, narasumber membagikan Tips Memilih Jurnal yang tepat untuk naskah SLR maupun penelitian lain. Beberapa poin utama yang disampaikan mencakup kesesuaian topik dengan lingkup jurnal, analisis tren publikasi di jurnal tersebut, serta pentingnya memperhatikan impact factor dan reputasi editorial board. Peserta diajak untuk melihat proses publikasi sebagai perjalanan strategis yang membutuhkan perencanaan matang, bukan langkah spontan. Dengan pemahaman ini, mereka semakin siap melangkah ke tahap akhir: penyusunan artikel yang tidak hanya rapi secara teknis, tetapi juga terarah menuju jurnal bereputasi tinggi

Academic Writing Bootcamp (Hari Kedua)

Hari kedua dimulai dengan ice breaking dan sesi kilas balik untuk mereview materi pada hari pertama. Suasana dibuat cair agar peserta kembali bersemangat, sekaligus menyiapkan fokus untuk sesi lanjutan yang lebih teknis. Fajar Sodik membuka rangkaian dengan materi Drafting, Proofreading, & Plagiarism Check, menekankan bahwa naskah akademik yang baik tidak hanya kuat dari sisi substansi, tetapi juga rapi dalam struktur dan bebas dari kesalahan teknis. Ia membimbing peserta menyusun alur penulisan yang logis, mulai dari pendahuluan, metodologi, hingga kesimpulan, lalu melatih keterampilan proofreading untuk memastikan kejelasan bahasa serta konsistensi gaya penulisan.

Lebih lanjut, Fajar menjelaskan pentingnya melakukan Plagiarism Check sebagai bentuk menjaga integritas akademik. Ia menegaskan bahwa sekecil apapun unsur plagiasi dapat menjadi alasan penolakan naskah, bahkan pada tahap awal seleksi editor. Dengan memanfaatkan berbagai perangkat pendeteksi, peserta diajarkan cara memastikan orisinalitas naskah sekaligus memperbaiki bagian yang berpotensi dianggap tidak etis. Selain itu, peserta juga dipandu memahami Author Guideline dari masing-masing jurnal, karena perbedaan format penulisan, gaya sitasi, hingga jumlah kata dapat menentukan diterima atau ditolaknya sebuah artikel.

Sesi kedua dibawakan oleh Saddam Husin dengan materi Cover Letter & Template Journal. Peserta diajak memahami bahwa surat pengantar bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting untuk menarik perhatian editor. Saddam menunjukkan bagaimana menulis cover letter yang efektif, singkat, jelas, menegaskan kontribusi riset, dan meyakinkan editor bahwa naskah layak dipertimbangkan. Selain itu, peserta dilatih menyesuaikan naskah dengan template jurnal target, mulai dari pengaturan layout, format tabel dan gambar, hingga konsistensi sitasi.

Kedua sesi ini memperkuat pemahaman bahwa publikasi ilmiah tidak hanya soal substansi riset, tetapi juga kepatuhan terhadap detail teknis dan etika publikasi. Drafting yang terstruktur, proofreading yang teliti, pengecekan plagiasi yang disiplin, serta penyusunan cover letter yang strategis adalah kombinasi keterampilan yang menentukan. Melalui pembekalan ini, peserta semakin yakin bahwa naskah mereka bukan hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga siap bersaing di jurnal bereputasi internasional.

Strategi Submission dan Simulasi Praktis

Setelah istirahat, shalat , dan makan kegiatan dilanjutkan dengan Workshop: Step by Step Submission yang dipandu fasilitator. Workshop ini menjadi salah satu bagian paling aplikatif dalam bootcamp karena peserta diajak langsung mempraktikkan proses unggah naskah ke sistem jurnal daring. Mulai dari pembuatan akun penulis, pengisian metadata artikel, pemilihan kategori naskah, hingga pengecekan kesesuaian format dengan panduan jurnal (author guideline), semua tahapan dibimbing secara detail. Suasana kelas menjadi sangat interaktif karena peserta dapat langsung menanyakan kendala teknis yang sering dihadapi penulis pemula.

Setelah memahami alur dasar, kegiatan berlanjut ke Klinik Naskah & Bimbingan Submission. Pada sesi ini, para mentor memberikan pendampingan personal untuk memastikan draft artikel peserta sudah sesuai dengan standar yang dipersyaratkan oleh jurnal bereputasi. Peserta diarahkan untuk memperhatikan hal-hal teknis yang kerap terlewat, seperti kejelasan abstract, konsistensi keywords, kualitas tabel dan gambar, hingga penggunaan reference manager. Lebih dari itu, mentor juga menekankan pentingnya keselarasan antara tujuan riset, kontribusi teoretis, dan penekanan pada kebaruan penelitian agar naskah memiliki peluang lebih besar diterima editor.

Sesi berikutnya adalah Simulasi Submission Revision yang difasilitasi mentor berpengalaman. Peserta diminta mempraktikkan cara merespon komentar reviewer dengan sikap akademik yang tepat—argumentatif, sopan, dan berbasis bukti. Mereka belajar menulis response letter yang sistematis, menunjukkan perubahan nyata pada naskah, sekaligus menjaga hubungan profesional dengan editor. Proses ini membuka wawasan bahwa revisi bukan sekadar memperbaiki kesalahan, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas tulisan dan memperkuat kontribusi penelitian.

Refleksi, Testimoni, dan Harapan Ke Depan

Sesi terakhir diisi dengan refleksi dan testimoni dari peserta. Salah satu peserta, Durotul Qoyimah, menyampaikan pengalamannya: “Saya sangat senang dapat mengikuti Academic Writing dan SLR Bootcamp 2025 yang diadakan oleh Keilmuan LPDP UGM. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman yang mendalam tentang teknik penulisan akademik dan Systematic Literature Review (SLR), tetapi juga membuka wawasan baru mengenai bagaimana membangun karya ilmiah yang berkualitas, terstruktur, dan relevan dengan perkembangan penelitian terkini. Suasana belajar yang interaktif, materi yang disampaikan secara sistematis, serta pendampingan yang penuh dedikasi menjadikan bootcamp ini sangat bermanfaat. Terima kasih kepada Lurah LPDP UGM atas inisiatif luar biasa ini. Semoga kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberi dampak positif bagi generasi peneliti muda Indonesia.”

Testimoni lain datang dari Irene Mega, yang menyoroti fleksibilitas dan keseruan acara:
“Acaranya terbagi menjadi dua fokus pendampingan yaitu SLR (hari pertama) dan Non-SLR (hari kedua). Kebetulan saya mengikuti yang Non-SLR, jadi harusnya hadir di acara kedua, tapi seru banget karena dari panitia, semua peserta boleh join di dua acara. Jadi kita bisa ikut belajar baik yang untuk SLR maupun Non-SLR. Di acara ini juga kita didatangkan pemateri keren-keren yang sesuai dengan bidangnya dan kita bebas untuk tanya jawab. Apalagi ada satu sesi dimana pemateri mendemokan step by step submission plus kita dapat review dari artikel yang dikumpulkan. Bahkan ada apresiasi berupa nominasi untuk penulis yang sudah effort menulis dengan baik. Pokoknya powerfull dan meriah acaranya.. terima kasih DPP Kelurahan UGM dan untuk apresiasi ke pesertanya, yeayyyy! “

Panitia menegaskan bahwa bootcamp ini hanyalah langkah awal menuju tradisi riset yang lebih kuat di lingkungan LPDP UGM. Semangat kolaboratif dan dedikasi yang ditunjukkan peserta menjadi bukti bahwa awardee siap bersaing di tingkat internasional.

Dengan berakhirnya acara ini, para peserta membawa pulang tidak hanya ilmu dan keterampilan, tetapi juga semangat untuk terus menulis, meneliti, dan berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *