The Details

Nov 15, 2025 .

Sebuah Catatan Perjalanan: Menyadari Passion dalam Diri

“Mengajar adalah panggilan jiwa”, ungkapan tersebut banyak sekali berseliweran dimana-mana. Hal ini menandakan bahwa mengajar bukan hanya karena anda hanya senang dalam memahami isi materinya serta mengajarkan materi tersebut pada anak didik anda, ungkapan itu membawa hal yang lebih filosofis bagi saya – mengajar merupakan tanggung jawab yang besar untuk mencetak anak didik anda dalam memahami hal tersebut sepenuhnya. Maka dari itu, diperlukan jiwa dan hati yang Ikhlas dalam melakukan proses mengajar tersebut.

Hal itu tak pernah terlintas saat saya menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA), sebagai siswa yang memiliki antusiasme besar terhadap kimia, saya selalu berusaha membantu teman-teman dalam memahami berbagai materi pelajaran kimia. Beberapa teman saya sudah sempat mengungkapkan pendapatnya bahwa saya bisa dikatakan sangat membantu mereka dalam memahami materi pelajaran, mereka juga berpendapat bahwa saya sepertinya ada bakat untuk menjadi seorang pengajar. Namun, lagi-lagi karena masih berada di SMA, saya menepis hal itu mentah-mentah dengan berdalih bahwa saya hanya sekedar membantu, namun mengajar seperti guru-guru pada umumnya saya belum tentu sanggup. Memang, sejak SMA, saya merasa menjadi guru itu adalah hal yang berat tanggung jawabnya, jadi saya berpikir saat itu mungkin saya hanya mampu mengajar dalam kelompok kecil saja, namun untuk skala besar, saya belum tentu bisa.

Penyangkalan tersebut terus berlanjut sampai keputusan saya mengambil studi lanjut. Saya memutuskan untuk berkuliah di jurusan teknik manufaktur dibandingkan dengan jurusan kimia saat itu meskipun sudah diterima di kedua jurusan tersebut. Alasannya sangat sederhana; saya saat itu masih berpikir takut untuk menjadi guru suatu saat nanti. Perjalanan saya melawan sesuatu yang saya tidak sukai – dimulai dari fisika yang sangat kompleks, berbagai praktik teknik (karena saya berkuliah di politeknik), membuat saya cukup frustasi untuk melawan sesuatu yang saya tidak sukai. Kekelaman inilah yang membawa saya dalam pemikiran untuk mencoba mengajar lagi – seperti yang saya lakukan saat SMA walau hanya untuk skala kecil dan ditujukan untuk teman sebaya.

Berbekal nekat dan sedikit keberanian untuk mencoba sesuatu hal yang baru, saya membuka kelas mata pelajaran yang saya sukai sejak SMA, yaitu kimia. Karena saya cukup tidak percaya diri dan ingin membuktikan terlebih dahulu apakah saya bisa atau tidak mengemban hal tersebut, saya beri kelas gratis untuk pertemuan pertama. Entah memang sudah takdirnya, ada yang melihat iklan tersebut dan menghubungi saya. Sejak hari itu, semuanya berubah sampai dengan hari ini.

Pertemuan pertama mengajar membuat saya cukup membuat pikiran saya kemana-mana dan tidak percaya diri terhadap kemampuan saya. Namun, ternyata pemikiran saya salah, anak tersebut cocok dengan cara saya mengajar lalu memutuskan untuk lanjut kelas dengan saya. Hal tersebut membuka secercah harapan saya dalam sebuah kemampuan baru, yaitu mengajar.

Perjalanan saya mengajar anak tersebut terhenti saat anak tersebut fokus untuk mengejar perguruan tinggi impiannya, hal tersebut saya gunakan juga untuk fokus mengerjakan skripsi saya sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan saya dengan tepat waktu. Tepat dua minggu setelah saya dinyatakan lulus oleh kampus, ada pesan masuk mengenai tawaran mengajar. Awalnya saya bingung darimana informasi tersebut didapat karena saya masih menonaktifkan platform mengajar saya, namun betapa terkejutnya saya bahwa beliau mendapat informasi tersebut dari orang yang telah saya ajar sebelumnya dan merekomendasikan saya. Hal tersebut membuat saya berusaha makin lebih baik lagi dalam meningkatkan kualitas mengajar. Pada kesempatan tersebut, saya merasa banyak mengalami perkembangan dalam mengajar. Maka dari itu, saya memutuskan untuk ikut dalam suatu lembaga mengajar privat agar bisa mendapat koneksi yang lebih banyak lagi.

Keputusan tersebut tentunya membuka saya ke jalan yang lebih jauh lagi, dalam satu tahun saya mengajar kurang lebih 25 siswa untuk mata pelajaran kimia. Perjalanan ini membuat saya menyukai mengajar dan berusaha untuk mengelola tanggung jawab yang dari dulu saya rasa sangat besar itu dengan memanajemen waktu saya untuk terus memberikan performa terbaik. Berdasarkan feedback yang baik, saya kemudian memulai untuk mengajar mata pelajaran lain yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan matematika untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Perjalanan ini membawa saya ke peluang yang lebih baik karena orang tuanya melihat perkembangan yang baik pada anaknya dan menawarkan saya ke pekerjaan baru yaitu mengajar anak pertamanya yang sedang mengenyam pendidikan Turki mengenai matematika bisnis secara jarak jauh (daring). Sebagai anak teknik, saya mengambil kesempatan tersebut dengan bekal pemahaman matematika selama saya berkuliah. Hasilnya, anak tersebut dapat memahami materi dengan baik dan saya bisa menambah kemampuan saya lagi dalam dunia mengajar serta meningkatnya pemahaman Bahasa Inggris.

Selama mengajar, saya juga membuka banyak kesempatan untuk bekerja di industri sampai akhirnya ada satu universitas yang memberikan saya kesempatan jauh walau memang belum berjodoh dengan pekerjaan tersebut. Namun, saat itu saya menyadari bahwa hasil psikotes saya memang cocok untuk menjadi akademisi maka dari situlah saya berpikir untuk melanjutkan pendidikan saya, seperti yang sedang saya lakukan sekarang di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Saat saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan bukan di kota kelahiran saya, tentunya saya harus meninggalkan banyak hal – salah satunya yaitu meninggalkan murid-murid saya. Awalnya, saya berpikir ini akan mudah karena ya hubungan saya dengan siswa saya hanya sekedar guru dan pengajarnya. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika melihat balasan murid-murid saya yang cukup menyentuh hati.

Sejak saat itulah saya menerima dengan hati dan jiwa yang ikhlas bahwa mengajar adalah salah satu passion saya. Awardee Mengajar yang diselenggarakan oleh Kelurahan LPDP UGM menjadi wadah untuk membantu saya untuk mengembangkan passion saya, terlebih untuk mengajar anak-anak kecil dengan latar belakang yang bermacam-macam. Berbagai peluang itu juga yang membentuk saya berani untuk mengambil kesempatan menjadi asisten dosen selama tiga bulan untuk materi perkuliahan yang saya tekuni saat mengenyam pendidikan D4. Peristiwa dan perjalanan ini menjadi sebuah pengingat kehidupan – terlebih untuk saya sendiri bahwa tidak ada kata terlambat dalam mengejar apapun, termasuk mimpimu yang sempat terkubur. Saya belajar bahwa dengan memanfaatkan kemampuanmu sekecil apapun, diiringi dengan memanfaatkan peluang dan berusaha untuk terus berkembang, hal baik itu akan terus datang untuk kehidupan. Bagi saya, mengajar sekarang sudah menjadi bagian dari hidup saya, dan saya sangat ingin terus bisa mengeksplorasi diri saya agar dapat memaksimalkan kemampuan saya untuk ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, kalau perjalananmu bagaimana?

Tulisan oleh:

Andini Eka Rahmani
Magister Teknik Mesin
Persiapan Keberangkatan (PK) 225
Angkatan Awardee: 2023 Genap

Reviewer:
Awalia Nur Sakinah
Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *