The Details

Mar 19, 2017 .

Seminar dan Bedah Karya Tulis Ilmiah Sastra dan Bahasa

Yogyakarta, 18 Maret 2017 – Seminar dan Bedah Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh Awardee LPDP Universitas Gadjah Mada didukung oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah telah dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2017 bertempat di ruang A201 jam 09.00. Acara yang dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Gadjah Mada tersebut berlangsung selama kurang lebih dua jam yang dipandu oleh Muhammad Fadli Muslimin, salah seorang awardee LPDP UGM sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra FIB. Seminar tersebut menghadirkan dua pembedah dari kalangan mahasiswa yang membedah karya mereka masing-masing, mereka adalah Mukhanif Yasin Yusuf,S.S., Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra dan Ririn Sulistyowati,S.S., Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Linguistik UGM sekaligus Awardee LPDP.

Mukhanif Yasin Yusuf atau akrab disapa Hanif Membedah satu jurnal yang telah dipresentasikan di International Conference on Special Education Needs 2016 di Bandung dengan Judul “Memandang Sastra dari Sudut Pandang Difable, Jalan Menemukan Paradigma Baru Mewujudkan Generasi Inklusif : Studi Kasus Analisis Dekonstruksi Derrida pada Novel Biola Tak Berdawai” dan Ririn Sulistyowati dengan judul “ Alkisah Mangkus dan Sangkil : Tergerusnya Bahasa Indonesia oleh Pengaruh Bahasa Asing” diterbitkan di Solo Pos Edisi 26 Agustus 2016.

Pembedah pertama yaitu hanif memaparkan bahwa “Stigma negatif di masyarakat mengenai difable masih sangat kuat, sejatinya Difable harus difasilitasi mulai sejak dini untuk sosialisasi mengenai disabilities dengan menggandeng mahassiwa” lebih lanjut hanif menyatakan bahwa “ isu mengenai difable tidak saja terjadi di masyarakat melainkan di karya sastra hal tersebut terungkap pada Novel Biola tak Berdawai, tetapi oleh pengarang didekonstruksi melalui tokoh Dewa. Dewa dalam konteks masyarakat dianggap sebagai sosok yang sakti mandraguna tetapi di dalam novel pengarang merekonstruksi paradigma baru yang sejatinya difable juga memiliki kekuatan yang sama. Hal tersebut adalah bentuk perlawanan terhadap consensus yang ada di masyarakat mengenai sosok Dewa”. Melalui pemaparan tersebut Hanif mencoba untuk mendorong agar mahasiswa yang menjadi sosok penting sebagai agen perubahan melalui lingkungan akademik agar budaya Inklusif dapat menjadi umum sehingga mahasiswa difable dan non-difable dapat berbaur jadi satu.

Selanjutnya Ririn beranjak dari pembahasaan mengenai peranan Bahasa Indonesia yang mulai tergerus oleh pengaruh Bahasa Asing. Bahasa Indonesia seolah tenggalam oleh keberadaan bahasa asing yang jauh lebih populer dikalangan masyarakat, contoh penggunaan bahasa tersebut antara lain, Gadget atau Gawai, Headset atau Pelantang, Forum atau Utas, Debat atau Sawala, Timeline atau Linimasa. Menurut Ririn, “Mengapa kita jarang menggunakan kosa kata tersebut, apakah hal tersebut ‘aneh’ ? mengapa lebih familiar kosa kata asing ?”. menurut Ririn hal tersebut tidak terlepas dari aktivitas pemungutan kata serapan dengan berbagai latar belakang yaitu lebih hemat, kejarangan bentuk, keperluan bahasa akan kata yang searti, perasaan seorang dwibahasa, dorongan gengsi penggunaan bahasa asing dan kurangnya kemampuan bahasa Indonesia. Lebih jauh pungkas Ririn, “kata serapan merupakan bagian dari perkembangan bahasa Indonesia, proses penyerapan dibutuhkan dalam perkembangan bahasa Indonesia”. Meskipun demikian hal tersebut tidak lantas menjadikan bahasa Indonesia jadi pilihan kedua, diakhir sesi Ririn menutup dengan pernyataan bahwa “butuh peran aktif dari pemerintah,penulis,penerbit,pendidik,dan masyarakat umum untuk akrif menggunakan kosa kata Bahasa Indonesia Tersebut”. Seminar dan Bedah Karya Tulis Ilmiah tersebut ditutup dengan sesi foto bersama Pembedah, Lurah DIY dan Peserta.

Muhammad Fadli Muslimin
Mahasiswa Pascasarjana
Program Studi Ilmu Sastra
Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *