The Details

Apr 28, 2019 .

Sinergisme bagi Ketahanan dan Kedaulatan Pangan

Gilang Vaza Benatar

Dua abad lalu ekonom Inggris, Thomas Robert Malthus, berpikir tentang bagaimana urgensinya pangan manusia. Beliau dalam konsep teoritisnya mengatakan  ‘population would grow at a geometric rate while the food supply grows at arithmetic rate’. Namun, bukan hanya populasi yang jadi dasar pemerintah kita buat mematok ketahanan pangan sebagai tujuan utama pembangunan, sebab Lorenz, dengan teori chaos-nya, lebih berfokus kepada ancaman-ancaman lain dalam memenuhi tujuan tersebut. Bagaimana tidak? Sektor pertanian, khususnya komoditas pangan, selalu dihadapkan pada risiko ketidakpastian yang cukup tinggi. Kekeringan, banjir, cuaca ekstrim dan serangan organisme pengganggu tanaman menjadi ancaman stokastik yang bikin para stakeholder kita berpikir dua kali buat menjaga kestabilan perut 250 juta rakyatnya. Sedang, cacing-cacing perut kita mesti lebih alamiah dibanding ‘The Subtle Art Of Not Giving A F*ck’-nya Mark Manson; lapar, ya, lapar, cuy!

Di lain sisi, intensifikasi, ekstesifikasi atau tetekbengek sejenisnya belum bisa menjamin pengharapan suci petani kita. Alih-alih membayangkan dapur yang mengepulkan asap di atas genting pagi buta, siluet bulir-bulir padi yang ranum dan gemuk di ambang senja sandikala, dan anak-anak mereka nyenyak tidur di atas dipan kala malam tiba, kenyataannya, mereka harus merenungi risiko puso atau gagal panen dan menanggung kerugian itu sendiri. Juga, mungkin, modal untuk musim tanam berikutnya bakal sulit didapat. Dilalah, manakala produksi bagus, harga jatuh sebab distribusi pasar masih belum baik. Belum lagi impor bertepatan panen raya. Beruntung, kini banyak grup-grup facebook komunitas petani, dengan ratusan ribu member, yang menjadi wadah diskusi sekaligus penampung curhatan sebagian petani kita secara real time. Saya amati, sih, tidak ada perbedaan data antar itu grup, baik keluh kesah  gagal panen, kondisi kebun, produksi, maupun cerita petani sukses.

(Sumber gambar: geotimes.co.id)

Telah lama pemerintah lebih fokus di hulu dalam bentuk subsidi benih dan pupuk. Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, merasa itu belum cukup menjamin kegusaran petani sebab hanya didasarkan pada asumsi tidak terjadi kegagalan. Ketika hama wereng meledak di Klaten bikin petani gagal panen hingga 90 persen, atau El Nino di Pangkep, petani harus menelan ludah dan pil pahit seorang diri. Ironisnya, kejadian di Klaten dipicu penggunaan benih hibrida.

Belajar dari India, Cina, Vietnam, Thailand dan Jepang, pemerintah kita telah memberikan angin segar bagi petani dengan alternatif solusi asuransi pertanian yang berfokus pada komoditas pangan utama padi. Asuransi usaha tani padi sangat penting untuk membantu petani dari risiko kerugian besar dan memastikan mereka memiliki modal kerja yang cukup untuk musim tanam berikutnya. Menariknya, konsep program pemerintah ini tidak hanya berfokus pada fluktuasi harga, namun berkorelasi juga dengan mitigasi dampak perubahan iklim global yang menjadi faktor utama kegagalan panen. Didapatlah jenis risiko utama yang dapat diasuransikan seperti kekeringan, banjir dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan time of impact dan geographical area sebagai batasan dan telah melalui pilot project. Pertanyaannya, cukupkah?

Peran akademisi dan peneliti sangat penting untuk memfokuskan risiko utama yang menjadi kegusaran petani sebagai penentu food security masyarakat. Para agronom dapat membantu petani dalam membuat metode-metode budidaya yang lebih efisien. Pemulia tanaman mestinya lebih berfokus pada penciptaan varietas yang mendukung pencegahan risiko utama kegagalan horizontal. Ahli proteksi tanaman dituntut untuk berfikir keras dalam mengurai solusi pengelolaan OPT yang tidak hanya efektif dan suistainable, tetapi juga environtmentally friendly. Sikap dan tindak masyarakat juga penting dalam mengutamakan sumber daya pangan lokal berikut diversifikasinya. Jika semua sektor dapat bersinergi, petani terjamin dalam berproduksi, maka Indonesia sebagai Negara Agraris yang dapat berdaulat di tengah arus deras “globalisasi” bukanlah mimpi siang bolong. Bahkan, dengan 101 juta hektar lahan potensialnya, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Malthus pun tidak lagi gusar gundah gulana memikirkan teorinya. Eaaa..!

Gilang Vaza Benatar merupakan Awardee LPDP yang sedang menempuh studi di program studi Fitopatologi (Ilmu Penyakit Tumbuhan), Universitas Gadjah Mada.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *