The Details

Jul 05, 2017 .

Dalam Pusaran Liberalisasi Pendidikan

Perkembangan pendidikan di Indonesia di era reformasi telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya terkerangkeng oleh birokratisasi pendidikan yang dikontrol penuh oleh rezim Suharto. Kini aktivitas pendidikan berada dalam pusaran liberalisasi pendidikan. Pada era orde baru proses penelitian dan pengajaran tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ditentukan oleh penguasa. Kini aktivitas akademik lebih banyak ditentukan oleh mekanisme pasar dan kepentingan-kepentingan para donor.

Sebelumnya beberapa kalangan menginginkan adanya otonomi dan kebebasan akademik dalam universitas. Tujuannya untuk menjauhkan aktivitas akademik dari intervensi penguasa dan meningkatkan kreativitas, penelitian dan pengabdian. Namun sampai saat ini, kita dihadapkan dengan puluhan ribu lulusan dari berbagai universitas setiap tahunnya akan tetapi permasalahan bangsa semakin banyak dan kompleks. Sementara disisi lain kita dipertontonkan dengan para intelektual yang justru mengabdi pada proyek- proyek yang mengancam kehidupan rakyat.

Pendidikan menjadi barang mewah yang harus dibeli dengan harga yang mahal. Hanya orang-orang yang memiliki harta yang bisa menginjakkan kakinya di perguruan tinggi bahkan pemerintah telah meliberalisasikan pendidikan sehingga semua perguruan tinggi harus mampu membiayai dirinya sendiri. Dengan adanya kebijakan seperti itu membuat birokrat kampus semakin gila dalam mengumpulkan dana untuk keberlanjutan kampusnya masing-masing. Mahasiswa di bagi dalam kelas-kelas berdasarkan tingkat isi dompetnya. Sungguh ironi dunia pendidikan kita hari ini. pemerintah seakan lepas tangan terhadap pendidikan. Pemuda-pemuda desa yang cerdas hanya akan kembali ke sawah karena mereka bukan lah orang yang pantas untuk memimpin negeri ini . Mereka hanyalah darah biasa berbeda dengan darah biru yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turun.

Para pendidik yang harusnya menjadi penolong justru menghancurkan pendidikan ini dengan menjual keilmuan mereka demi kepentingan kaum korporasi. Dosen-dosen melakukan penelitian atas permintaan para cukong dan hasil penelitiannya diarahkan untuk kepentingan pemberi dana. Hasil yang didapatkan pun merusak opini masyarakat . Mereka melakukan semuanya karena rakusnya sama dunia.

Dalam diskusi yang dilaksanakan oleh MAP Corner-Klub MKP tanggal 8 Mei 2017 yang bertemakan tentang Pusaran Liberalisasi Pendidikan dan Keberpihakan Akademisi, Guru Besar Fakalutas Ilmu Budaya PM. Laksono membenarkan bahwa saat ini kita berada dalam pusaran liberalisasi pendidikan tapi beliau lebih memaknai liberalisasi sebagai kebebasan untuk bertanya dan kebebasan untuk membangun argumen yang disampaikan melalui retorika yang baik.

Dalam diskusi itu PM. Laksono juga mengkritisi tentang model pendidikan kita saat ini. Pendidikan kita sejak awal diformat untuk terspesialisasi sehingga para pembelajar sulit untuk belajar secara holistik. Pemikiran mereka terkerangkeng didalam perspektif ilmunya masing-masing. Mereka tidak melakukan diskusi lintas pengetahuan dan ilmu sehingga suatu permasalahan dapat terselesaikan dengan mempertimbangkan dari segala aspek. Kekurangan yang lain didalam dunia pendidikan kita hari ini adalah kemampuan peserta didik dalam membangun pertanyaan masih rendah dan juga masih lemah dalam kemampuan membangun issue.

Saat ini dunia pendidikan kita berada dalam pusaran pendidikan yang latah. Semuanya yang dianggap baik harus berasal dari luar negeri atau berbau-bau asing. Dalam membuat sebuah rujukan ketika menulis pastilah selalu merujuk pada peneliti-peneliti asing yang konteks mereka jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Sangat disayangkan, meskipun berada dalam era digital tapi pendidikan kita hari ini belum mampu menjawab semua persoalan yang terjadi didalam negeri ini. Kita masih tersekat-sekat oleh egoitas ilmu masing-masing. Tidak ada upaya untuk membangun negeri ini melalui penelitian-penelitian yang berbasiskan pada beberapa aliran ilmu. Kita tersandera oleh diri kita sendiri. Ilmu sejatinya membawa kita pada hakekat untuk saling menghargai dan saling mengisi kekurangan satu dengan lainnya.

Informasi yang masuk melalui alat komunikasi kita tidak mampu disaring dengan baik. Semuanya kita ambil yang pada akhirnya membuat kita pusing sendiri. Tidak ada skala prioritas dalam menyelesaikan permaslahan di dunia pendidikan kita hari ini. Semuanya berjalan dengan sendirinya. Siapapun rezimnya pendidikan kita masih tetap sama. Bangsa kita bangsa yang latah dan tidak mampu melihat dan memprediksi kondisi masa depan. Semuanya didasarkan pada kepentingan sesaat dan kepentingan golongannya masing-masing. Selamatkan pendidikan kita .selamatkan bangsa kita. Mulailah kita kembali pada akar budaya kita. Janganlah pendidikan tinggi menjadikan kita jauh dari budaya. Budaya yang melahirkan pahlawan-pahlawan hebat yang berpikir untuk kemajuan bangsa dan negara ini. (Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis. Tidak mewakili pemikiran awardee LPDP) 

Alfryady
Magister Administrasi Publik
Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *