Ekonomi Kreatif di Indonesia di Dominasi oleh 3 Subsektor
Yogyakarta 14 Mei 2017 – Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) berkerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rangka melakukan pendataan terhadap potensi ekonomi kreatif di Indonesia mengumumkan hasil penyusunan database statistik Ekonomi Kreatif yang memuat informasi seputar data indikator Makro Ekonomi Kreatif 2010-2015 dan hasil Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2016.
Berdasarkan hasil survei tersebut menunjukkan bahwa ada 16 subsektor Ekonomi Kreatif yang cukup potensial di Indonesia yaitu kuliner, fashion, kriya, televisi dan radio, arsitektur, aplikasi dan game developer, periklanan, musik, fotografi, seni pertunjukan, desain produk, seni rupa, desain interior, film, dan desain komunikasi visual.
Dalam satu tahun terakhir, Produk Domestik Bruto (PDB) Ekonomi Kreatif tumbuh sebesar 4,38 % dan memberikan kontribusi sebesar 7,38 % terhadap total perekonomian nasional. Saat ini, baru ada 3 subsektor yang memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan pertumbuhan kreatif yaitu kuliner (41,69%), fashion (18,5%), dan kriya (15,70%).
Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Triawan Munaf, mengatakan bahwa Bekraf akan terus berkomitmen memberikan data dan informasi yang tepat dan akurat mengenai perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia. Ketersediaan data ini sangat penting terutama jika dikaitkan dengan peran strategis Bekraf dalam hal merumuskan, menetapkan, mengkoordinasikan dan sinkronisasi kebijakan di bidang Ekonomi Kreatif. Harapan Kami, data dan informasi ini dapat memberikan perspektif terkini mengenai peluang dan potensi Ekonomi Kreatif sebagai alternatif roda penggerak perekonomian di masa yang akan datang (Sumber: Bekraf)
Evan Sapentri
Mahasiswa Pengkajian Seni
Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada


