Tanpa Digital Humanities Arsip Nasional Terancam Hilang
Yogyakarta, 14 Mei 2017 – Digital humanities merupakan terobosan metode baru dalam bidang humaniora yang belum banyak dilirik oleh Indonesia. Digital Humanities adalah pemakaian metode digital atau data digital yang dimanfaatkan untuk pengkajian dalam bidang humaniora dan kebudayaan, seperti filsafat, kesusastraan, sejarah, kajian budaya (cultural studies), dan kesenian, ujar Miguel Escobar Varela, pada kuliah umum di Universitas Kristen Duta Wacana (13/5/2017).
Pemakaian metode digital atau data digital akan memberikan kemudahan akses informasi maupun penyimpanan data (digital Archieve). Pasalnya, metode ini juga sudah digunakan oleh beberapa negara dan sedang menjadi tren sekaligus sudah mendunia. Kelebihan dari metode ini adalah perpaduan penggunaan antara kecerdasan manusia, statistika, visualisasi modern dengan basis data.
Presentasi interaktif Kafka’s Wound, Sistem Informasi Geografis (GIS) seperti riwayat hidup seseorang, peta twitter, peta klenteng di Singapura, Linguistik Korpus (Corpus Linguistics), dan Arsip Wayang Kontemporer yang diluncurkan atas kerja sama National University of Singapore (NUS) dan Fakultas Ilmu Budaya UGM pada akhir Februari lalu juga merupakan salah satu bentuk dari Digital Humanities.
Dengan adanya digital humanities segala bentuk informasi nasional akan terdokumentasikan dan terarsipkan. Manfaat selanjutnya yang diperoleh adalah karya-karya anak bangsa dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Ini berarti bahwa digital humanities ikut berperan dalam menjaga dan melestarikan arsip-arsip nasional agar tidak dilupakan dan hilang begitu saja.
Evan Sapentri
Mahasiswa Pengkajian Seni
Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada


