The Details

Jun 21, 2017 .

Rapuhnya Daya Nalar Umat

Merebaknya penyebaran informasi atau pemberitaan di era yang serba digital saat ini menjadi momok yang sangat mengerikan. Pasalnya, akses informasi dan penyebaran pemberitaan tersebut dapat dengan mudah dipindahkan dengan satu sentuhan jari saja, bahkan dapat menyebar luas hanya dengan hitungan detik. Bukan perihal esensi dari informasi yang didapatkan, tapi perihal siapa yang membuat dan untuk siapa berita itu dibuat? Apalagi kebenaran dan validitas dari informasi tersebut jauh dari konsep kebenaran dan keberadaban, yang sekarang ini kita kenal sebagai Hoax.

Tidak adanya keseimbangan antara proses penerimaan dan pemindahalihan informasi inilah yang memicu konflik pemikiran, sehingga memunculkan diskursus apa itu yang disebut benar dan salah. Konteksnya adalah bukan persoalan benar dan salah, tapi bagaimana kita mampu menempatkan diri sebagai subjek, bukan sebagai objek yang seolah-olah “gampang” tergerus arus dan ikut hanyut saja dalam pusaran informasi yang kebenarannya sangat diragukan atau justru tak mengandung kebenaran.

Dalam medan pertempuran pemikiran ini, diibaratkan ada dua kubu yang saling bertempur dengan kekuatan yang sangat dahsyat, yaitu pembuat dan penerima hoax (penyebar). Mata kamera selalu tertuju kepada si pembuat hoax. Jika ada pihak yang merasa dirugikan dan keselamatannya terancam, maka si pembuat hoax yang disalahkan dan pojokkan. Sang penerima hoax pun harus berlapang dada menerima pahitnya kekecewaan dan hujatan yang harus ditelan dari orang lain yang menerima hoax.

Daftar penerima hoax pun beragam, mulai dari artis, masyarakat umum, pendidik, bahkan akademisi. Apabila ditaksir dan diperhitungkan kerugian yang harus diterima, tak jarang mampu merogok kocek hingga jutaan rupiah. Lantas, apakah si pembuat hoax yang salah? Atau justru kita sudah nyaman menjadi penerima hoax?

Catatan Hasil Survey tentang wabah hoax nasional – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tahun 2017, mengatakan bahwa hoax sebagai alat untuk memengaruhi publik dan menjadi marak karena faktor stimulan terbesar yaitu sosial politik dan SARA. Namun penerima hoax kini cukup kritis karena telah membiasakan diri memeriksa kebenaran beritanya walaupun sebagain masih mengalami kesulitan mencari referensi. Tindakan hukum yang belum efektif berdampak pada terganggunya kehidupan sosial kemasyarakatan.

Mastel kemudian mengembangkan platform mitigasi hoax dan menyelenggarakan Survey Digital Inklusi. Sementara itu, developer muda asal Institut Teknologi Bandung juga menciptakan aplikasi yang bertujuan untuk mengurangi jumlah informasi hoax yang beredar di masyarakat. Aplikasi tersebut adalah Hoax Analyzer yang dibuat oleh Tim Cimol ITB dan berhasil lolos ke babak final tingkat Asia Tenggara di ajang Microsoft Imagine Cup 2017.

Hal ini menarik jika diamati dan ditelaah secara mendalam, karena hoax mampu menghegemoni pandangan masyarakat, terutama mengenai bahaya dan ancaman yang ditimbulkan. Usaha-usaha pemerintah dan inovasi yang diciptakan anak bangsa perlu diacungi jempol, namun harus tetap diwaspadai bahwa hoax seakan menjadi isu krusial yang sedang menjadi tren dan menjadi topik terhangat saat ini. Rapuhnya daya pikir umat atau justru reaktualisisi diri yang kurang tepat, sebenarnya pada tahap apa wujud dialog diri masyarakat saat ini. Hal ini yang dirasa penting untuk tetap didengungkan dan diwacanakan hingga merasuk dan menjadi pijakan masyarakat.

Selain itu, dorongan dalam diri untuk segera meyebarluaskan informasi yang dianggap perlu segera diketahui oleh orang lain terkadang menjadi pemicu berpikir kritis menjadi rendah. Terutama informasi yang memberikan keuntungan bagi para penyebar hoax, dalam hal ini proses telaah mendalam seakan di nomor duakan. Penyebaran informasi nampaknya menjadi tujuan utama, tanpa mengedepankan pengujian sumber berita terlebih dahulu, dan seolah-olah kebiasaan “asal sebar” ini mampu dinegosiasikan.

Tidak mudah memang mencari solusi yang tepat untuk meminimalisir atau bahkan memberantas “wabah” hoax ini. Hoax bersifat dinamis dan akan terus bermunculan mengikuti perkembangan masyarakat. Oleh sebab itu, strategi dalam menghadapi hoax dibutuhkan, dan belum tentu strategi ini bisa diberlakukan secara universal. Sebab, semua itu tergantung dari konteks keberadaan dimana hoax itu muncul dan dalam rangka apa ia dibuat.

Kembali pada tataran benar dan salah, dualitas itu muncul karena adanya sesuatu yang dianggap benar dan salah, korelasinya adalah dengan sesuatu yang dipercaya. Berita hoax bisa menjadi benar atau salah karena ada pihak-pihak yang percaya. Jangan menyalahkan si pembuat hoax, ketika kita membuka lebar-lebar tangan kita untuk menerima dan menyebarkan berita hoax. Sudah sepatutnya mawas diri diperlukan untuk menggerakkan daya nalar dan mewacanakan pola pikir kita agar siap menjadi penyaring informasi yang arif dan bijak.

Evan Sapentri
Mahasiswa Pengkajian Seni
Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *